Mudabicara.com_Butuh waktu yang panjang membaca dan memahami karya Jasques Derida The Politic of Friendship, seorang filsuf kontemporer Prancis yang terkenal dengan teori dekonstruksi dalam filsafat pascamodern. Membaca karya Derrida harus kita awali dengan memahami lingkaran sejarah keilmuan bagaimana pemikiran Jasques Derrida dibentuk.

Pada tahun 1994 Jasques Derrida menerbitkan buku dengan judul Politiques de I’ amiti (Prancis), The Politic of Friendship (Inggris) atau Politik Persahabatan. Buku tersebut diterbitkan oleh Institute Francais. Seperti pada buku karya Derrida lainya, Ia selalu mengawali tulisan dengan pernyataan yang filosofis. Hal tersebut dapat kita temukan pada bab pertama dengan kalimat o my friends, there is no friend. Hal ini paling tidak menunjukan bahwa Jasques Derrida masih dipengaruhi oleh para filsuf pendahulu seperti Aristoteles, Friedrich Nietzsche, Imanuel Kant serta ahli teori politik seperti Carl Schmitt. Ciri utama dapat kita kenali melalui tulisan yang selalu diawali dengan pernyataan ataupun pertanyaan yang filosofis.

BACA JUGA : PERDAMAIAN DALAM PERSPEKTIF REALISME HUBUNGAN INTERNASIONAL 

Tulisan Derrida terkenal rumit dan padat, penuh dengan kutipan dan terminologi misterius. Tetapi tulisanya selalu merefleksikan keadaan sosialnya sehingga membuat karya tulisnya berkualitas. Buku Politik Persahabatan sering kali terasa sulit untuk difahami apalagi dalam rentan waktu satu minggu. Memang buku Politik Persahabatan ini diterbitkan dikala usia Derrida sudah memasuki paruh baya dan Derrida pun termasuk tokoh pemikir yang mempunyai kesempatan hidup lebih lama dari pada tokoh intelektual lainnya. Sehingga buku ini semacam hasil kontemplasi dari proses pemikiranya.

Seperti pada Judulnya The Politics of Friendship buku ini menjelaskan tentang ikatan sosial dan kapasitas kita untuk membayangkan masa depan kolektif yang melampaui kemungkinan-kemungkinan yang terjadi saat ini. Sebagaimana contoh Derrida menulis bahwa karena mencintai persahabatan tidaklah cukup mengetahui bagaimana menanggung orang lain dalam berkabung. Bagi Derrida seseorang harus mencintai masa depan. Ia pun menegaskan bahwa narasi persahabatan menuntut kita untuk terus-menerus membayangkan bagaimana suatu hari nanti kita bisa memberi penghormatan kepada teman-teman kita.

Mungkin persahabatan bisa menawarkan model politik atau visi tentang akan menjadi apa politik. Sebagai teman, kami menjadi sukarelawan satu sama lain, kami memilih untuk menyimpan rahasia satu sama lain. Derrida menyatakan bahwa persahabatan adalah yang pertama-tama memungkinkan politik, karena bagaimana lagi kita akan memahami apa artinya menyebut seseorang sebagai musuh? Kemungkinan, makna dan fenomena persahabatan tidak akan pernah muncul kecuali jika sosok musuh sudah memanggil mereka terlebih dahulu, memang telah mengajukan pertanyaan atau keberatan kepada teman, pertanyaan yang menyakitkan, pertanyaan tentang luka.

Tidak ada teman tanpa kemungkinan luka seperti halnya semua nampak biner secara alami. Satu setengah mengandung benih dari yang lain dan kapasitas untuk menghancurkan diri sendiri. Di dunia tanpa musuh, apapun yang kita sebut politik akan kehilangan batasan dan tujuannya. Filsuf Prancis ini tampaknya ingin menggambarkan cara hidup yang sudah berlalu, cara hidup yang tidak terlalu cemas tentang ikatan yang mengikat kita bersama.

Derrida berpendapat bahwa keintiman persahabatan terletak pada sensasi mengenali diri sendiri di mata orang lain. Kita terus mengenal teman bahkan ketika mereka tidak lagi hadir untuk melihat kembali pada kita. Di saat kita berteman dengan seseorang, kita tentu sudah mempersiapkan kemungkinan bahwa kita mungkin hidup lebih lama dari mereka ataupun sebaliknya. Dari sekian banyak keinginan yang kita sampaikan dalam konteks persahabatan kemudian tidak ada yang sebanding dengan harapan menuju masa depan yakni melampaui kematian.

Nilai persahabatan dalam politik memang merupakan ide yang sudah ada sejak sekitar 350 tahun sebelum Nabi Isa lahir ke bumi. Aristoteles menjadi peletak dasarnya. Dalam karyanya tentang etika, Artistoteles menghabiskan dua buku khusus mengulas nilai-nilai persahabatan. Di sisi lain, Immanuel Kant yang hidup pada abad ke-17 setelah Masehi, hanya menghabiskan kurang dari satu halaman mengulas tentang persahabatan, (Republika.co.id.2018).

Bertolak dari kerangka pemikiran Aristoteles mengenai persahabatan ini, Derrida mengkonfrontasikannya dengan persoalan politik kontemporer yang mana telah mendepak persahabatan ke ruang agama dan moral. Marginalisasi persahabatan dalam politik dinilai Derrida tidak bisa menjamin masa depan politik. Bagi Derrida, sebagaimana diuraikan Aristoteles, persahabatan justru menjadi bagian penting dalam bangunan politik. Politik sebagai bentuk kerja sama dalam menata peradaban komunitas yang terarah pada cita-cita kebaikan bersama mutlak memerlukan persahabatan.

Dalam terang semangat dekonstruksi, Derrida mendekonstruksikan motivasi persahabatan dalam konteks politik. Berbeda dari Aristoteles yang melihat persahabatan bermotifkan kegunaan sebagai basis dalam politik, Derrida justru menempatkan motivasi keutamaan dalam persahabatan sebagai basis politik. Hal ini bukan tanpa alasan sebab bangunan politik yang didasarkan pada motivasi kegunaan cenderung mereduksi makna politik yang kemudian menjurus pada ketimpangan politik dalam praksisnya

Derrida melalui proyek dekonstruksinya, mencoba meretas persoalan politik dengan melakukan pembacaan dekonstruktif atas pandangan politik dari Carl Schmitt dan konsep persahabatan Aristoteles. Konstruksi politik Carl Schmitt sebagaimana tertuang dalam bukunya Der Begriff des Politischen berlandaskan pada pemisahan tegas antara teman dan musuh politik. Logika politik ini jelas menempatkan hubungan ontologi teman dan musuh sebagai unsur substansial politik. Dengannya, politik perlu dan cukup ditandai dengan diferensiasi tegas teman dan musuh. Tidak ada politik tanpa kehadiran sosok musuh. Kehilangan sosok musuh menyebabkan musnahnya politik.

Daya tarik utama buku The Politic of Friendship adalah kesempatan yang diberikannya untuk seseorang menikmati bagian singkat dari pengalaman hidup. Derrida menggambarkan cara hidup tentang ikatan yang mengikat kita bersama. Masa depan politik bagi Derrida menjadi masa depan pertemanan dan penemuan persahabatan baru yang radikal. Demokrasi yang lebih dalam dan lebih inklusif.

Buku yang luar biasa ini menawarkan visi masa depan yang menantang dan menginspirasi. Apalagi di era media sosial dan saluran komunikasi dan pertukaran informasi mengalir bak tsunami. Gagasan persahabatan tampaknya hampir kuno dan mungkin terancam. Di hadapan koneksi informasi yang melimpah manusia modern dihadapkan pada fenomena persahabatan yang lebih kaku dan tidak kuat.  Sehingga ikhtiar mewujudkan peradaban politik yang berciri humanis serasa jauh panggang dari api. Oleh karenanya, penting bagi kita untuk mereposisi pemahaman dan konstruksi politik dengan menimba inspirasi intelektual dari Derrida. Dimana politik sudah semestinya berlandaskan persahabatan.

Kata Derrida diakhir buku ini. “Untuk demokrasi yang akan datang”, dia menyimpulkan bahwa bentuk persahabatan yang radikal dan adil dapat membantu kita membayangkan sebuah pengalaman baru tentang kebebasan dan kesetaraan. Akhirnya, dia mengakhiri dengan menyesuaikan kutipan yang dikaitkan dengan Aristoteles sehingga mengacu pada “teman demokratis saya“.

Meskipun pada akhirnya saya merasa tidak mampu serta tidak dapat menemukan pun memahami apa yang dimaksud Derrida soal politik persahabatan. Apakah situasi politik modern tidak mengakomodasi persahabatan sehingga kita mudah terpecah belah dan saling adu domba disaat kita mempunyai kehendak pilihan politik yang berbeda. Mari kita renungkan dan pelajari bersama.

 

Penulis : Zainal Abidin  (Pengiat Literasi Kebumen)