OJK Sebut Kredit Nganggur Masih Tinggi tapi Berpotensi Dongkrak Pembiayaan

Ekonomi7 Dilihat

Mudabicara.com_Jumlah kredit yang belum ditarik atau belum dicairkan oleh perbankan (undisbursed loan) masih tercatat besar, mencapai Rp 2.439,2 triliun pada Desember 2025. Angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya, namun nilainya masih tergolong signifikan.

Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Dian Ediana Rae menilai kondisi tersebut mencerminkan adanya peluang penyaluran pembiayaan untuk pengembangan usaha yang menyesuaikan dengan jadwal pelaksanaan masing-masing debitur.

“Terkait dengan undisbursed loan atau kelonggaran tarik yang relatif tinggi saat ini, hal tersebut menunjukkan potensi pemanfaatan ekspansi usaha sesuai dengan timeline yang dimiliki sehingga berpotensi untuk meningkatkan pertumbuhan kredit di masa mendatang,” ujar Dian dalam keterangannya, dikutip Minggu (25/1/2026).

Baca Juga: Tiga Anak Buah Kena OTT KPK, Menkeu Ganti Kakanwil Pajak Jakarta Utara

Dian menyampaikan bahwa laju penyaluran kredit masih berpeluang terus meningkat guna menopang pertumbuhan sektor riil, sejalan dengan kondisi ekonomi yang berkembang, tingkat keyakinan pelaku usaha yang terjaga, serta situasi pasar yang dinilai stabil dan positif.

Menurutnya, industri perbankan nasional tetap memiliki kapasitas untuk memperluas pembiayaan produktif dengan tetap memperhatikan risiko dan arah kebijakan ekonomi ke depan.

Secara tahunan, pertumbuhan kredit tercatat sebesar 7,74% (yoy), lebih tinggi dibandingkan Oktober 2025 yang sebesar 7,36%. Kualitas kredit juga tetap terjaga, tercermin dari rasio NPL Gross yang berada di level 2,21%, didukung oleh peningkatan kredit produktif, khususnya Kredit Investasi (KI) yang tumbuh sebesar 17,98%.

Penyaluran pembiayaan ke sektor produktif masih menjadi penopang utama kredit perbankan dengan porsi mencapai 72,78% per November 2025 dan pertumbuhan sebesar 8,15% (yoy). Dian menilai, terdapat akselerasi pertumbuhan kredit yang cukup terasa menjelang penutupan tahun.

“Kinerja intermediasi sampai akhir tahun 2025 diperkirakan semakin solid, dengan pertumbuhan kredit diperkirakan akan di atas batas bawah target yang ditetapkan OJK 9%-11%, sementara DPK diyakini akan mencapai pertumbuhan double digit,” tambah Dian.

Baca Juga: Danantara Indonesia Debut di WEF Davos 2026, Paparkan Proyek Strategis untuk Masyarakat

Ia juga menyoroti bahwa dinamika global dan domestik masih akan memengaruhi kinerja sektor perbankan ke depan. Menurutnya, pertumbuhan kredit sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi makro serta iklim investasi yang berkembang.

Dalam menghadapi situasi tersebut, Dian menyampaikan bahwa seluruh pemangku kepentingan akan terus memperkuat sinergi guna menjaga berbagai faktor pendukung pertumbuhan ekonomi, sehingga momentum penyaluran kredit yang sehat dan berdampak positif dapat terus terjaga.

“Selain itu, pemulihan beberapa sektor ekonomi serta dukungan optimal dari kebijakan fiskal dan moneter juga dinilai akan meningkatkan efek multiplier ke konsumsi rumah tangga dan investasi dunia usaha,” tambah Dian.

Penyaluran Kredit UMKM Melambat

Di sisi lain, Dian mengungkapkan bahwa penyaluran pembiayaan kepada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menunjukkan perlambatan dalam setahun terakhir. Hingga November 2025, total kredit UMKM tercatat sebesar Rp 1.494,07 triliun.

Baca Juga: PB HMI Soroti Keterlambatan Pencairan Dana Jemaah, Desak Perbaikan Tata Kelola BPKH

“Penyaluran kredit UMKM per posisi November 2025 mencapai Rp 1.494,07 triliun. Terdapat tren pertumbuhan pembiayaan yang cenderung melambat dalam kurun waktu setahun terakhir,” tutur Dian.

Ia menjelaskan bahwa melambatnya pertumbuhan kredit UMKM dipengaruhi oleh sejumlah faktor, antara lain dinamika ekonomi global dan nasional, perubahan pola konsumsi masyarakat akibat tekanan daya beli terutama di kelompok menengah ke bawah, tingkat risiko kredit UMKM yang relatif lebih tinggi dibandingkan segmen lain, serta proses pemulihan pascapandemi Covid-19 yang berjalan lebih lambat dibandingkan sektor korporasi.

Meski demikian, perbankan tetap memandang prospek kredit UMKM secara positif. Hal ini tercermin dari proyeksi pertumbuhan kredit UMKM yang masih diperkirakan akan meningkat hingga akhir 2026.

Dukungan berbagai kebijakan dan program pemerintah diharapkan mampu mendorong pembiayaan kepada pelaku UMKM yang memiliki prospek usaha menjanjikan untuk melakukan ekspansi.

 

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *