Mudabicara.com_Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) RI berencana ingin menyederhanakan kurikulum. Dalam penyederhanaan kurikulum tersebut Kemdikbud akan menempatkan mata pelajaran sejarah sebagai mata pelajaran pilihan di SMA. Sementara di SMK mata pelajaran sejarah akan dihilngkan.

Rencana perubahan pendidikan sejarah di SMA/SMK tersebut tertuang dalam draf sosialisasi Penyederhanaan Kurikulum dan Asesmen Nasional tertanggal 25 Agustus 2020. Draf ini beredar di kalangan akademisi dan para guru, ini yang kemudian menjadi polemik di masyarakat.

Menempatkan Sejarah sebagai pelajaran pilihan di SMA dan menghilangkanya di SMK tentu akan merugikan anak muda sebagai generasi penerus bangsa. Bisa dipastikan bahwa anak muda akan kehilangan sejarah perjalanan bangsanya sendiri dan tidak akan tahu bagaimana para pendahulunya memperjuangkan kemerdekaan dan menyatukan Nusantara yang terdiri dari banyak suku bangsa menjadi NKRI.

Sejarah Dihilangkan Indonesia akan Bubar

Rencana Kemendikbud menghilangkan Mata Pelaran Sejarah tersebut mendapatkan kritikan dari Anggota DPR RI Fadli Zon.

Disebutkan bahwa jika Sejarah benar-benar dihilangkan maka anak muda Indonesia akan kehilangan identitas dan memori kolektifnya sebagai bangsa. Sehingga, tidak lama kemudian NKRI akan bubar dengan sendirinya.

“Kalau mata pelajaran sejarah dihilangkan, maka sebentar lagi manusia Indonesia akan kehilangan identitas, jati diri, dan memori kolektifnya. Setelah itu ya Indonesia akan bubar,” kata Fadli Zon melalui akun Twitter dikutip Mudabicara.com, Minggu, 20 September 2020.

Hal senada juga dikatakan Wakil Ketua MPR RI, Jazilul. Politisi PKB ini mengungkapkan bahwa tunggulah kehancuran Indonesia jika memang mata pelajaran Sejarah dihilangkan. Mendikbud Nadiem Makarim dituding ingin melemahkan persatuan bangsa Indonesia dengan menghilangkan Sejarah. Bahkan, Nadiem dituding buta tentang sejarah.

“Percayalah, lambat laun, Indonesia akan kehilangan identitas, jatidiri. Kebijakan ini lahir dari Mendikbud yang buta masa lalu dan kurang paham pentingnya sejarah,” kata Jazilul.

Oleh karena itu, apabila Nadiem tidak ingin melihat NKRI bubar, maka mata pelajaran Sejarah diminta untuk tetap diajarkan pada anak muda penerus bangsa.

“Ini jelas langkah mundur, jangan sekali-kali meninggalkan sejarah ‘Jasmerah’,” tegasnya.

Kemendikbud Harus Perbaiki Kurikulum Sejarah yang Didominasi Sejarah Perang dan Jawa Sentris

Tidak hanya DPR dan MPR yang geram dengan rencana Kemendikbud ingin menghilangkan mata pelajaran Sejarah. KPAI juga ikut menyesalkan adanya rencana menghilangkan sejarah bagi anak muda Indonesia itu.

Komisioner KPAI Retno Listyarti mengungkapkan, rencana Kemendikbud itu tidak benar. Semua anak muda baik di jenjang SMA maupun SMK sama-sama berhak mendapatkan bobot dan kualitas pelajaran sejarah yang sama.

Dikatakan bahwa nilai-nilai yang dipelajari dalam sejarah bangsa merupakan nilai karakter nyata dan teladan bagi anak muda sebagai generasi penerus bangsa. Dengan sejarah, anak muda akan dapat meningkatkan ikap apresiasi mereka terhadap perjuangan dan karya para pendahulunya.

Sebagi mantan guru PPKn, Retno berpendapat bahwa muatan-muatan pelajaran sejarah dalam kurikulum memang perlu diperbaiki. Tak hanya itu, metode pembelajaran juga harus diperbaiki.

Menurut Retno, kurikulum pelajaran Sejarah Indonesia didominasi oleh seharah perang dan kekerasan, seperti Perang Bubat, Perang Diponegoro, Perang Padri, Perang Jawa, Perebutan tahta Singosari Ken Arok, dan lain-lain. Sejarah seperti itulah yang perlu diperbaiki agar anak muda tidak salah menafsir seolah-olah sejarah bangsa Indonesia penuh kekerasan.

“Dikhawatirkan generasi mudanya akan menyelesaikan masalah  dengan kekerasan bukan dengan dialog,” tukasnya.

BACA JUGA: WISATA KOTA; WAJAH BARU CIKINI

Disamping itu, kurikulum sejarah Indonesia juga didominasi oleh sejarah Jawa dan daerah lain kurang diberikan tempat. Sehingga sehingga anak Papua, anak Aceh, Anak Kalimantan, Anak Sulawesi, Anak Sumatera, Anak NTB, Anak NTT, Anak Bali dan lain-lain belajarnya tentang sejarah Jawa. Padahal, kata Retno, daerahnya juga memiliki sejarah yang layak dipelajari anak bangsa ini.

Retno menambahkan bahwa pembelajaran sejarah oleh para guru selama ini memang cenderung hafalan, bukan pemaknaan dan esensi nilai-nilai apa saja dari suatu peristiwa sejarah tersebut bagi perjalanan bangsa dan bagaimana peristiwa buruk bisa menjadi pembelajaran yang tidak boleh terulang di kemudian hari.

Selama ini, kata dia, pembelajaran sejarah cenderung membosankan bagi anak muda karena hanya hafalan seputar apa kejadian, dimana kejadiannya, siapa saja tokoh sejarahnya, kapan terjadinya dan dimana kejadiannya.

“Bagaimananya dari peristiwa sejarah itu jarang digali dan didalmi melalui dialog. Kalau hafalan, cenderung mudah dilupakan dan tidak dipahami makna suatu peristiwa sejarah,” tandasnya.