Mudabicara.com_ Mari belajar sejarah tentang rumah para presiden di Pegangsaaan. kita mulai dengan rumah presiden pertama Indonesia Ir. Soekarno atau lebih akrab dengan Bung Karno.

Rumah Bung Karno

Beberapa orang sering berkata kalau Pegangsaan itu kampungnya Bung Karno. Alasannya sangat sederhana di Pegangsaan 56 terdapat rumah pribadi Ir. Soekarno. Proklamator dan Presiden Pertama Republik Indonesia. Tepatnya di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 sekarang kawasan Tugu Proklamasi, Jl. Proklamasi.

Menurut beberapa sumber rumah Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 adalah pemberian dari saudagar berdarah Arab Hadramaut bernama Faradj bin Said bin Awadh Martak dipanggil dengan nama Faradj Martalak. Bung Karno senang dengan rumah di Jl. Pegangsaan Timur No. 56 ini karena memiliki halaman yang luas. Selain itu menurut saya di lokasi ini Pegangsaan, juga terdapat perkampungan Pegangsaan dan Masjid Jami Matraman yang kental Nasionalismenya.

Baca Juga : Refleksi Perjuangan Pemuda di Hari Kemerdekaan 

Di rumah Pegangsaan 56, Bung Karno pernah hidup bersama Ibu Inggit Ganarsih beberapa waktu tapi kemudian Ibu Inggit Ganarsih memilih meninggalkan Bung Karno karena menolak di madu. Bung Karno akhirnya bersama Ibu Fatmawati dengan kedua orang tuanya menempati Rumah Pegangsaan Timur 56.

Rumah Pegangsaan Timur 56 menjadi saksi ketika Ibu Fatmawati harus menjahit Bendera Merah-Putih yang besar untuk dikibarkan saat Proklamasi. Sebuah versi sejarah mengatakan kain Merah ukuran besar yang digunakan Ibu Fatmawati jutru didapat dari tenda seorang pedangang soto di depan rumah Pegangsaan Timur 56. Dan itu pasti pedangsang soto orang kampong Pegangsaan. Rumah ini juga menjadi saksi ketika orang-orang kampong Pegangsaan dan warga Jakarta lainnya hadir dan memberi dukungan kepada Bung Karno dan Bung Hatta untuk membacakan Proklamasi pada Jumat, tanggal 17 Agustus 1945 pukul 11.30.

Setelah pembacaan teks Proklamasi pada Jumat 17 Agustus 1945 yang bertepatan dengan tanggal 09 Ramadhan 1334 hijriyah Bung Karno kemudian melaksanakan sholat Jumat di Masjid Jami Matraman yang berlokasi tidak jauh dari Rumah Pegangsaan Timur 56. Sayang sekali Rumah Pegangsaan Timur 56 tahun 1964 Rumah Pegangsaan Timur 56 dihancurkan, kabarnya atas perintah Bung Karno kemudian dibangun Gedung Pola dan kawasan Tugu Proklamasi.

Rumah Bung Hatta

Rumah Muhammad Hatta atau Bung Hatta setidaknya ada tiga, pertama Rumah Kelahirannya di Jalan Soekarno Hatta Nomor 37, Bukittinggi, Sumatera Barat. Sekarang menjadi Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta. Kedua Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Naira, Provinsi Maluku, sekarang telah menjadi Museum Objek Wisata. Dan Ketiga Rumah Pribadi Bung Hata di Pegangsaan Barat No. 57, sekarang Jl. Diponegoro No. 57, Menteng.

Dari Bung Hatta kita menggenal beberapa hal istimewa, Bung Hatta adalah Bapak Proklamator RI bersama Bung Karno, Ia adalah Ekonom Bapak Koperasi Indonesia, Ia adalah Kolektor dan Penulis Buku, Guru Bangsa yang sangat disiplin dan memiliki komitmen sangat tinggi. Tentang Buku, ketiga rumah Bung Hata – Rumah Kelahiran, Rumah Pengasingan dan Rumah Pribadinya – erat kaitannya dengan buku.

Rumah Bung Hatta di Jl. Diponegoro 57, dibelinya dari honor menulis buku. Iding Wangsa Widjaja, sekretaris pribadi Bung Hatta, memberikan kesaksian serupa. Dalam buku ‘Mengenang Bung Hatta’, melalui honor dari ‘Verspeide Geschriften’ (kumpulan karangan Bung Hatta dalam bahasa Belanda) setidaknya Bung Hatta membeli rumah di Pegangsaan Barat No. 57 sekarang Jl. Diponegoro No.57, melaksanakan Ibadah Haji tahun 1952 dan menikah.

Rumah Bung Hatta dua lantai bergaya art deco ini pada lantai duanya terdapat 20 ribu buku koleksi Bung Hatta yang masih tersimpan baik dan rapih. Tahun 2019 oleh Gubernur Anies R. Baswedan rumah Bung Hatta dan Pejuang Kemerdekaan lainnya di Jakarta dibebaskan pajak lewat surat dari Badan Pajak dan Retribusi Daerah (BPRD) Provinsi DKI Jakarta. Anak Bung Hatta, Ibu Muetia Hatta sebagaimana dimuat beberapa media berterimakasih dengan kebijakan tersebut. “Ini merupakan suatu penghargaan dari Pak Gubernur kepada orang tua kami yang sudah berjasa bagi negara, dan kami sangat menghargai itu”, ujar Meutia seperti termuat dalam video yang diunggah Jumat.

Rumah Gus Dur

Presiden Republik Indonesia ke-4. KH. Abdurahman Wahid dikenal dengan nama Gus Dur memiliki Rumah warisan orang tuanya di Pegangsaan. Rumah Gus Dur beralamat di Jl. Diponegoro Dalam, sekarang Jl. Taman Amir Hamzah No. 8, Kelurahan Pegangsaan. Gus Dur kecil hidup dan bermain di Pegangsaan/Matraman Dalam dengan nama Rahman.

Rumah Presiden Gus Dur yang sekarang beralamat di Jl. Taman Amir Hamzah No. 8, Keluarahan Pegangsaan ini kini difungsikan sebagai Griya Gus Dur. Depan Griya Gus Dur terdapat Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) Taman Amir Hamzah. Pada bagian tengah RPTRA Taman Amir Hamzah tahun 2015 oleh Gubernur Ahok dibangun Patung Gus Dur Kecil. Patung Gus Dur Kecil dibuat oleh seniman instalasi, Yani Mariani Sastranegara, atas gagasan dari Komodo Dragon Foundation. Patung ini adalah representasi dari Gus Dur kecil saat berusia 9 (sembilan) tahun. Patung Gus Dur Kecil digambarkan tengah membaca buku. Patung yang terbuat dari Perunggu ini memiliki berat 400 kilogram, dengan tinggi 1,2 meter diatas penyangga berbahan batu candi setinggi 80 centimeter.

Kenangan catatan paling istimewa dari Gus Dur kecil tentang Rumahnya di Pegangsaan ini tatkala Gus Dur kecil bertemu dan melihat Ayahnya KH. Wahid Hasyim menjamu sahabatnya Tan Malaka. Kata Gus Dur dalam tulisan Membaca Sejarah Lama (18) di buku Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Era Lengser, sering kali datang seorang tamu ke rumahnya di Jl. Diponegoro Jakarta. Waktu itu Gus Dur berumur lima tahun.

Gus Dur sering membukakan pintu. Kata Gus Dur, tamu itu menanyakan apakah ayahnya (Kiai Wahid Hasyim) berada di rumah. Jika Gus Dur menjawab positif (ada), tamu itu pun meminta Gus Dur memberitahu ayahnya, bahwa Pak Husain ingin bertemu.

“Lelaki berbaju biru, dengan kulit hitam yang datang setelah magrib itu, kemudian dirangkul oleh ayah penulis dan mereka berciuman sangat hangat, seperti laiknya dua orang bersaudara yang sudah lama tidak bertemu” tulis Gus Dur menggambarkan pertemuan ayahnya dan Pak Husain, yang Gus Dur sendiri waktu itu belum tahu, siapa sebenarnya teman ayahnya itu. Gus Dur baru mengetahui teman ayahnya adalah Tan Malaka pasca empat puluh tahun dari pertemuan itu, setelah ia diberi tahu ibunya, Nyai Solichah Bisri Syansuri, sebelum wafat.

Rumah Obama

Rumah lain yang juga istimewa di Pegangsaan yakni Rumah Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Hussein Obama. Obama dan Gus Dur tetanggaan di Jl. Taman Amir Hamzah, Rumah Gur Dur No.8 dan Rumah Obama No.22, tidak ada catatan perjumpaan kedua tokoh ini masa kecil di Pegangsaan sebab berbeda generasi. Gus Dur atau Rahman kecil awal pergerakan kemerdekaan di Pegangsaan sementara Obama kecil di Pegangsaan antara tahun 1967-1971.

Ibu Obama, Ann Dunham Soetoro adalah seorang antropolog berkebangsaan Amerika Serikat. Suami pertama Ann Dunham adalah Barack Hussein Obama senior, tahun 1964 bercerai. Dari pernikahan pertamanya Ann Dunham dikarunia anak Barack Hussein Obama junior. Tahun 1965 Ann Dunham menikah dengan Lolo Soetoro Mangunharjo seorang topografi lulusan S1 Fakultas Geografi UGM. yang sedang melanjutkan studi master di Universitas Hawaii. Obama dan keluarganya kemudian tinggal di Menteng, Jakarta dari tahun 1967 hingga tahun 1971.

Rumah mantan Presiden Obama sekarang masih berdiri dengan bangunan yang masih utuh dan ditinggali oleh keluarga tiri Obama. Berdasar beberapa catatan Obama mengungkapkan kesenangannya masa kecil saat tinggal di Menteng (Pegangsaan), Ia kerap membeli jajan bakso di lapangan Pegangsaan berlokasi didepan rumahnya. Dari catatan Obama yang sempat bersekolah di SD Negeri 1 Menteng, Jakarta Pusat, Obama sangat menikmati masa kecil di Pengsaan, Menteng. Catatan dan pengakuan Obama juga menunjukan tidak terdapat perilaku rasisme negroid yang dialama Obama kecil di Pengansaan.

*

Tulisan dalam rangka Dirgahayu Republik Indonesia ke-75 tahun ini diramu dari pengalaman selama bertugas di Kantor Kelurahan Pegangsaan juga dari beberapa catatan buku dan media yang saya baca. Secara pribadi juga pernah mengunjungi Rumah Kelahiran Bung Hatta (Bukittinggi), Rumah Pengasingan Bung Hatta (Banda Naira), Rumah Gus Dur dan Barack Obama

 

Penulis : Abdul Malik Raharusun (Pegawai di Kantor Pegangsaan)