Mudabicara.com_ Perjuangan kemerdekaan tidak lepas dari perjuangan pemuda. Bagaimana pemuda mengambil peran penting dalam menentukan momentum kemerdekaan. Fakta mencacat bahwa pemuda menjadi inisiator proklamasi kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945.

Rasa Nasionalisme, pantang menyerah dan progresif inilah yang membuat para pemuda memberanikan diri untuk menculik presiden Soekarno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta dan mendesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan. Tanpa pemuda mungkin proklamasi tidak akan terjadi di bulan Agustus.

Baca juga : Nasib Guru Honorer di 75 Tahun Kemerdekaan Indonesia 

Tak heran jika Pramoedya Ananta Toer mengatakan bahwa “Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa”. Bagaimana kata-kata Pram menjelaskan kepada kita bahwa pemuda selalu mengambil peran penting dalam sejarah peradaban manusia khususnya di Indonesia.

Perjuangan Pemuda dari Berbagai Belahan Dunia

Sebelum membuka lembaran sejarah tentang perjuangan pemuda di Indonesia, mari kita buka lembaran sejarah revolusi-revolusi yang di lakukan oleh para pemuda di belahan dunia lain.

Pada tahun 1955-1968 di Amerika pemuda terlibat gerakan hak-hak sipil Afrika-Amerika. Perjuangan melawan diskriminasi rasial dan pemulihan hak-hak suara. Selama lebih 60 tahun orang kulit hitam tidak dapat memilih siapa pun untuk mewakili kepentingan mereka di Kongres Amerika Serikat. Hingga akhirnya munculah tokoh seperti Dr. Martin Luther King, Jr dan memberanikan diri mengusung kandidat Barnie Sanders sebagai presiden Amerika Serikat.

Di Spanyol misalnya Pablo Manuel Iglesias lahir sebagai tokoh pemuda yang mendirikan partai politik Pademos dan Fenomena demontrasi pemuda Indignados yang menuntut ketersediaan lapangan kerja selama berbulan-bulan di jalanan Madrid tanpa kekerasan.

Di Inggris gerakan pemuda dari berbagai lapisan masyarakat mengusulkan Partai Buruh untuk mengusung Jeremy Corbin sebagai kandidat perdana menteri.

Di Hongkong, Joshua Wong seorang pemuda berumur 17 tahun menjadi salah satu aktivis politik yang berpengaruh. Keberanianya dalam berpolitik di mulai saat membangun gerakan pemuda pro-demokrasi. Joshua bersama gerakan kepemudaannya bergerak dengan tujuan menekan Pemerintah Tiongkok agar memberikan hak pemilihan umum mandiri kepada Hong Kong.

Revolusi Prancis pada tahun 1968 memberikan fakta sejarah bagaimana gerakan pemuda Universitas Sorbone dan Universitas Nanterre mampu mengait kaum buruh untuk melakukan pemogokan kerja yang akhirnya mencentuskan gerakan revolusioner.

Semua peristiwa sejarah di atas membuktikan bahwa pemuda selalu mengambil peran penting dalam peristiwa perubahan yang revolusioner. Bagaimana dengan pemuda Indonesia?

Peran Pemuda Indonesia dalam Sejarah Panjang Kemerdekaan

Di Indonesia bilik sejarah perjuangan pemuda di mulai dari Kebangkitan Nasional Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Organisasi yang didirikan oleh dr. Wahidin Soedirohoesodo ini diberi nama perkumpulan Budi Utomo. Budi artinya kepribadian. Utomo artinya luhur.  Lahirnya perkumpulan Budi Utomo disambut para pelajar dari berbagai daerah di Indonesia. Buktinya dalam setahun anggota Budi Utomo sudah mencapai 10.000 orang. Dan Akhirnya bangsa Belanda melihat lahirnya Budi utomo sebagai bangkitnya rakyat Indonesia.

Kedua, Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928. Yakni ikrar pemuda Indonesia yang bercita-cita untuk bertanah air satu, berbangsa satu, berbahasa satu. Sumpah pemuda di cetuskan melalui Kongres Pemuda II yang diikuti oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond, Pemuda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Katholikee Jongelingen Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun dan lainnya.

Ketiga, Perjuangan Kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Bagaimana sudah di singung di awal tulisan bahwa Proklamasi kemerdekaan Indonesia tidak luput dari peran pemuda. Peristiwa yang kita kenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.

Penculikan Soekarno dan Muhammad Hatta oleh sejumlah pemuda diantaranya Chaerul Saleh, Soekami, Wikana, dan Aidit untuk dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa barat.

Latar belakang penculikan ialah perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda. Golongan tua menginginkan proklamasi di diskusikan terlebih dahulu dengan PPKI namun golongan muda menginginkan agar Proklamasi kemerdekaan segera di umumkan.

Keempat, Menumbangkan rezim Orde Lama tahun 1966. Sejarah mencatat, kejatuhan rezim Orde Lama dimulai dari demonstrasi mahasiswa melalui tuntutan Tritura. Tiga Tuntutan Rakyat tersebut ialah, Pertama, bubarkan Partai Komunis Indonesia atau PKI. Kedua, rombak Kabinet Dwikoro dan Ketiga turunkan Harga.

Ketidakstabilan sosial,ekonomi, dan politik ini melahirkan demontrasi yang berkepanjangan dan akhirnya keluarlah titah sakti melalui Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) yang menunjuk Soeharto untuk mengendalikan keamanan dan ketertiban negara.

Meskipun situasi tersebut justru dimanfaatkan oleh Soeharto untuk merebut kekuasaan hingga akhirnya berkuasa sebagai Presiden RI ke-2 hingga 32 tahun lamanya.

Kelima, Peristiwa Malapetaka Lima belas Januari atau lebih di kenal dengan peristiwa Malari pada 15 januari 1974. Demontrasi mahasiswa yang di lakukan saat kunjungan perdana Menteri Jepang Tanaka Kakukei. Para ribuan orang, yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dan pelajar SMA, turun ke jalan melancarkan protes. Mereka berteriak lantang menentang derasnya investasi Jepang yang masuk ke Indonesia.

Mereka mengajukan tiga tuntutan yang dinamakan “Tritura Baru 1974”: Pertama, bubarkan lembaga Asisten Pribadi Presiden (Aspri); kedua, turunkan harga; ketiga, ganyang korupsi.

Terakhir, Reformasi menurunkan rezim Orde Baru pada 21 Mei 1998. Gelombang aksi demontrasi mahasiswa yang di mulai dari Yogyakarta kemudian merembet ke kota-kota besar lain di Indonesia. Atau bisa di katakan, gerakan demontrasi dari Gejayan hingga ke Senayan.

Masyarakat dari berbagai kalangan menyatakan keprihatinan atas kondisi perekonomian negara, menolak Soeharto sebagai presiden kembali, memprotes kenaikan harga, serta mendesak segera dilakukan reformasi serta terbentuknya pemerintahan yang bersih dari korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Berkaca dari alur fakta sejarah di atas, pemuda senantiasa memiliki efek yang luar biasa terhadap perubahan besar suatu negara atau bangsa, tak terkecuali Indonesia. Semangat muda adalah semangat perubahan, kreatif, visioner, pekerja keras, serta mempunyai nilai positif dalam perubahan.

Reposisi Perjuangan Pemuda

Melihat Potensi Pemuda yang selalu menaruh coretan tinta perubahan dalam berbagai peristiwa. Semestinya momen kemerdekaan meneguhkan kembali semangat perjuangan pemuda dalam ikut andil melakukan perubahan. Para pemuda dapat merefleksikan sejauh mana perjuangan pemuda hari ini.  Sudahkah mereka berperan dalam memajukan bangsa dan negara.

Generasi muda hari ini berbeda dengan generasi muda zaman dahulu. Zaman dulu generasi muda melawan dengan kekuatan fisik dan senjata untuk melawan penjajah. Berdemontrasi mengerahkan massa demi memastikan pemerintahan berjalan di jalur yang benar.

Namun generasi muda hari ini harus tetap berjuang untuk bangsa dan negara hanya saja mungkin dengan metode yang berbeda. Salah satu cara atau instrumen perjuangan membangun bangsa dan negara hari ini ialah melalui jalur pendidikan dan kepemimpinan.

Melalui Pendidikan nantinya akan tumbuh sumber daya manusia yang berkualitas. Bahwa pendidikan menjadi instrumen penting bagi pemerintah agar wacana revolusi mental segera tercapai. Tidak ada cara lain kecuali memperbaiki kualitas pendidikan.

Jika Pemerintah ingin revolusi mental berjalan cepat dan tercipta kualitas sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing maka hanya satu caranya yakni perbaiki kualitas pendidikan baik sarana maupun prasarana.

Berikutnya melalui Kepemimpinan, di periode kedua Presiden Jokowi dan K.H Ma’ruf Amin telah membuat lembaga baru yakni Staf Milenial Presiden. Lembaga yang di isi oleh tokoh-tokoh milenial. Selain itu, Presiden Jokowi juga menunjuk beberapa Menteri yang dianggap merepresentasikan generasi muda yakni Bahlil Lahadalia, Nadiem A Makarim, Erick Thohir dan Wisnuthama.

Disaat jajaran eksekutif di isi oleh generasi muda, lembaga legislatif periode 2019-2024 juga di isi generasi muda. Dari jumlah 575 anggota yang dilantik, 52 orang di antaranya berusia di bawah 30 tahun. Tentu hal ini menjadi sebuah kemajuan dalam percaturan kepemimpinan di Indonesia. Sebuah pemandangan yang sulit kita temukan pada saat Orde Baru.

Paling tidak kehadiran generasi muda ini menunjukan adanya proses kaderisasi kepemimpinan. Meskipun secara kinerja masih di pertanyakan. Apakah mereka hanya menjadi kepanjangan tangan dari oligark sebelumnya.

Masyarakat dapat menaruh harapan baru kepada generasi muda ini agar dapat merespon tantangan demografi dan mengelola kebijakan pemerintah dengan baik. Sebab selama ini dalam hal kaderisasi kepemimpinan Indoneisa masih memprihatinkan. meskipun faktanya sekarang banyak generasi muda di lingkaran pemerintahan.

Politisi dan elit pemerintahan kita belum mampu melakukan pembangunan dan keteladanan politik seperti yang ditunjukkan oleh para pendahulu. Para politisi kita masih terjebak dalam pragmatisme politik menang dan kalah.

Akibatnya, perbedaan pendapat, perbedaan pilihan politik, serta sudut pandang pemikiran menjadi sebuah fanatisme politik buta (political fanatism) yang tak ayal menimbulkan sebuah polarisasi gerakan yang memicu retaknya tenun kebangsaan.

Di tambah situasi politik yang masih membenarkan dinasti politik. Politik hanya memberikan ruang bagi mereka yang terkuat, memberikan tempat bagi siapa pun yang tersiap. Artinya partisipasi kepemimpinan hanya dimiliki oleh orang yang punya struktur baik politik maupun ekonomi. Selama kaderisasi kepemimpinan seperti ini mungkin kita hanya menunggu bom waktu saja. Suatu saat, entah kapan akan meledak dalam bentuk aksi massa.

Selain itu, masih suburnya mental culas para pejabat negara. Buktinya hampir setiap tahun kasus korupsi menjerat penjabat pemerintah. Artinya mental-mental koruptif ini di sebabkan karena negara dan khususnya partai politik tidak mampu melakukan kaderisasi kepemimpinan secara baik.  Partai politik tidak pernah hadir di tengah-tengah masyarakat untuk melakukan pendidikan politik.

Maka dari itu momentum kemerdekaan ini semoga menjadi refleksi kita bersama generasi muda untuk menambah wawasan kebangsaan dan kesadaran nasional demi terwujudnya negara Republik Indonesia yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur. Bahwa pendidikan dan kepemimpinan harus segera di perbaiki demi masa depan bangsa.

Masyarakat tidak boleh mudah terprovokasi berita hoaks, terpolarisasi akibat pilihan politik yang berbeda, dan tidak boleh mudah emosi ketika menghadapi isu identitas, agama, dan daerah. Karena komitmen kebersamaan akan melahirkan cara pandang yang adil, toleran, dan rasional.

Semoga kemerdekaan membuat rakyat benar-benar merasa merdeka.

 

Penulis : Mahfut Khanafi (Mahasiswa Pasca Universitas Sebelas Maret)