Mudabicara.com_ Berbicara cinta tentu kita akan teringat dengan seorang penyair muslim asal Persia Jalaluddin Rumi (1207- 1273). Melalui karya yang berjudul Matsnawi Jalaluddin Rumi menorehkan goresan kearifan dan kebijaksanaan. Melalui puisi Rumi bersyair membuka cakrawala kehidupan melalui kata-kata. Syair puisi Rumi tidak sekedar kesenangan namun Rumi mengangap bahwa puisi adalah medium yang paling tepat untuk mengungkapkan hakikat realitas-realitas secara sentimental.

“senyum adalah paling indah setelah sedu sedan. Kilat, kemudian hujan tawa

Beban adalah fondasi kerehatan. Kepahitan adalah jalan menuju kenikmatan,

Kakimu akan terasa berat dan Lelah. Lalu datang saat ketika kau rasakan sayap-sayap yang kau tumbuhkan, mengangkatmu.”

Potongan syair yang membutuhkan penghayatan yang dalam. Memang rumit memahami kata-kata dalam puisi Rumi namun bila kita gali lebih dalam maka kita akan menemukan inspirasi. Kegelisahan, kegalauan, sumpek, kecewa, terasa nyata dalam bait-bait puisinya. Namun kedamaian terasa hadir kepada pembaca. Seolah ada kekuatan menyirami oase hati pembacanya yang kering.

Sebenarnya bagaimana rumi menjelaskan cinta. Bukankah cinta akan semakin kabur bila mampu dijelaskan. cinta adalah sebuah keadaan perasaan yang berpendar ke dalam lubuk hati para pengagungnya. Terus bila kita mampu menjelaskan cinta apakah itu berarti bukan cinta.

Bagaimana menerangkan cinta? Akal yang berusaha menjelaskannya adalah seperti keledai di dalam paya. Dan pena yang berusaha menggambarkannya, akan hancur berkeping-keping. Begitulah kata Rumi dalam bagian pendahuluan Matsnawi.

Melalui cinta duri menjadi mawar, dan

Melalui cinta cuka menjadi anggur manis

Melalui cinta tonggak menjadi duri

Melalui cinta kemalangan nampak seperti keberuntungan

Melalui cinta penjara nampak seperti jalan yang rindang

Melalui cinta tempat perapian yang penuh abu nampak seperti taman

Melalui cinta api yang menyala adalah cahaya yang menyenagkan

Melalui cinta setan menjadi Houri

Melalui cinta batu keras menjadi selembut mentega

Melalui cinta duka adalah kesenangan

Melalui cinta hantu pemakan mayat berubah menjadi malaikat

Melalui cinta sengatan adalah seperti madu

Melalui cinta singa adalah sejinak tikus

Melalui cinta penyakit adalah kesehatan

Melalui cinta sumpah serapah adalah seperti balas kasih

BACA JUGA : https://mudabicara.com/rasa-sakit/

Rumi menyatakan bahwa cinta adalah penyembuh bagi kebanggaan dan kesombongan, dan pengobat bagi seluruh kekurangan diri. Hanya mereka yang berjubah cinta sajalah yang sepenuhnya tidak mementingkan diri. Beberapa sufi lainnya mengatakan “Cinta juga laksana api dalam hati yang dapat membakar apa saja selain yang dicintai. Cinta itu mencurahkan segala kemampuan, sedangkan kekasih itu boleh berbuat apa saja yang dimaunya.

Tentu kita ingat Gus dur yang tak pernah berucap Tuhan yang maha Esa namun Tuhan yang maha Cinta.  Bila hidup dipenuhi rasa cinta maka prasangka akan hancur ditumbuknya. Bila cinta menjadi deru langkah kaki maka dengki akan menepi. Harits Al-Muhasibi juga mengatakan bahwa “Cinta itu rasa kecenderungan kepada sesuatu secara total, lalu engkau lebih mementingkan cinta itu daripada dirimu, jiwamu atau hartamu.

Cinta mengubah kekasaran menjadi kelembutan, mengubah orang tak berpendirian menjadi teguh berpendirian, mengubah pengecut menjadi pemberani, mengubah penderitaan menjadi kebahagiaan, dan cinta membawa perubahan-perubahan bagi siang dan malam.

Ternyata hanya cinta yang mampu merubah segalanya dan negeri Indonesia butuh cinta dari para generasi  mudanya. Mari penuhi hari dengan cinta agar benci tak punya singasana, penuhi hari dengan cinta agar dengki tak punya arti,penuhi hari dengan cinta agar nurani tetap suci.

Mari membangun hidup dengan cinta agar kita mampu bersua berbagi cerita, asa untuk Indonesia yang lebih bahagia.

 

Penulis : M. Khanafi