Menghidupkan bahasa, menghidupkan dirinya dalam semesta bahasa

Mudabicara.com_Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, Kediri adalah rumah bagi tempat kursus. Desa itu dijuluki sebagai kampung Inggris karena ikon utamanya bahasa Inggris. Selain tempat kursus bahasa Inggris, ada kursus bahasa Arab, dan bahasa Korea. Di desa Tulungrejo berjamur tempat kursus mulai dari sederhana sampai kursus paling mewah.

Desa Tulungrejo telah mengeja jalan kebahasaan, meretas batas kultural desa – kota dengan menghadirkan tempat kursus di desa. Hadirnya  tempat kursus di desa Tulungrejo tentu memberikan cerita yang berbeda.

BACA JUGA : KAMPUS SAAT INI BUKAN ERANYA KOMPETISI TAPI KOLABORASI 

Imajinasi Desa dan Kota

Desa tidak kalah beradab dibandingkan dengan kota meskipun kota notabene tempat bagi perguruan tinggi dan institusi pendidikan. Jika, indikator keadaban itu dilekatkan dari kebahasaan dan ilmu pengetahuan. Desa Tulungrejo telah memenuhi prasyarat tersebut.

Di imajinasi kita sudah tertanam sejak lama bahwa kota adalah tempat bagi orang-orang yang berilmu pun  beraksara. Orang desa berduyun – duyun ke kota “menimba ilmu”. Frasa menimba ilmu menunjukkan kata kelimpahan. Artinya di kota ada “sumur pengetahuan” yang menjadi sumber mata air bagi orang desa.

Orang – orang desa rela berhijrah untuk mengejar ketertinggalannya dengan kota. Dimana kota menjadi ruang ilmu pengetahuan tak kerkecuali ilmu bahasa. Di kota, orang – orang desa yang haus pengetahuan akan diajarkan bahasa paling kotor hingga bahasa paling agung. Mereka mengukir apa saja tentang kota kemudian di bawa pulang ke desa. Malah sebagaian tinggal dan menjadi orang kota.

Narasi desa – kota juga diungkap Yudi Latief pada tulisannya yang berjudul Lebaran Pengorbanan di harian kompas (28/05/2020). Tulisan itu menjabarkan desa adalah tempat menemukan klangenan, menghindari kejumudan dan kepengapan kota. Desa sebagai tempat pencarian suaka kebahagiaan dan perenungan untuk menemukan kembali kehidupan yang terserak di masa lalu.

Yudi Latif menuliskan catatan ganjil perpindahan arus manusia dari desa ke kota. Ia melinai bahwa ada kekeliruan imajinasi orang desa tentang kota. Imajinasi yang menyebabkan mereka meninggalkan kampungan halaman.

Melihat fenomena itu maka langkah para inisiator pendirian tempat kursus di Desa Tulungrejo adalah langkah strategis. Langkah yang kemudian dapat mengembalikan arus ilmu pengetahuan dan bahasa kembali ke desa. Sehingga orang desa tidak perlu ke kota menjadi orang terdidik.

Para inisiator kampung Inggris berhasil menyulap Tulungrejo menjadi kompleks miniatur pelajar Indonesia. Kehadiran pelajar dari seluruh pelosok Indonesia mengisyaratkan sebagai bentuk modernitas tradisi desa.  Desa  disulap menjadi pusat pendidikan dan pengetahuan tanpa merubah tradisi kehidupan sebagai orang desa.

Potret Desa Tulungrejo di Tengah Modernitas

Di atas keberhasilan yang dicapai para inisiator kampung inggris menjadikan desa sebagai ikon bahasa Inggris serta berbudaya secara bahasa. Namun perlu disadari bahwa mereka gagal menahan laju modernisasasi (Kotaisme). Entitas desa perlahan – lahan gugur satu per satu.

Prinsip tradisi desa perlahan bergeser menjadi modernisasi tradisi. Ada banyak pengajar dan pemilik kursus mulai membuat perubahan ala tempat kursus kota .  Mulai dari struktur fisik bangunan hingga tradisi pembelajaran.

Nuansa kampung perlahan – lahan hilang, suasana kota mulai terbit di beberapa sudut. Mulai muncul tempat perbelanjaan, hiburan malam dan paket wisata. Selain itu yang menyedihkan ialah  biaya kursus yang awalnya murah kini  mulai sulit mahal dan tidak ramah kantong.

Proses transisi perubahan dari desa menjadi kota.  Seakan mejadi hukum alam dimana ada kebutuhan disitu ada pelayanan. Begitulah desa Tulungrejo berganti wajah.

Semua Tentang SMART ILC

Di dalam proses transisi, desa Tulungrejo menjadi kota. Namun masih ada tempat kursus yang menjaga napas kesederhanaan. tempat kursus itu yakni SMART ILC.

Tempat kursus SMART ILC di Jalan Kamboja menjadi saksi muram pencarianku.

Seingatku, saya berulang kali mengunjungi dan menatap tempat kursus itu dari jalan, tempat yang tidak meyakinkan dari luar. Tempatnya terlihat reyot dan kusam, dinding depan yang terbuat dari tripleks sudah tampak kusam pun tambal sulam dan di bawah logo SMART ILC terlihat bolong.

Kesan pertama yang muncul di pikiranku, ini bekas tempat kursus SMART ILC yang ditinggalkan dan berpindah ke tempat yang lain. Namun faktanya ternyata tempat yang kudatangi berulang kali itu benar. Bahwa bangunan itu adalah tempat kursus SMART ILC yang terkenal menawarkan segala kemewahan pelajaran bahasa.

Kemewahan yang terdapat di SMART akan sulit ditemukan di tempat lain, tempat ini bukan hanya sekedar belajar berbahasa Inggris. Tapi, memuliakan bahasa dengan membudayakan bahasa di setiap tubuh dan kehidupan manusia.

SMART menjaga semesta bahasa tidak sekadar bahasa tuturan dan tekstual. Lembaga ini mengajarkan menghidupkan bahasa dengan membaca kehidupan. Mengenali lingkungan kita sebagai kebahasaan yang harus diulik dan dipelajari.

Bahasa tidak ditempatkan di ranah kognitif dan hanya sebagai kebutuhan melanjutkan studi atau pelengkap akademik. Bahasa Di SMART telah melampaui itu. Jika di tempat – tempat lain belajar bahasa inggris atau bahasa asing sebagai komoditas pelajaran utama. Namun di SMART ILC, saya dituntun mengenali identitas kebahasaan dan kultural yang melekat dalam diri.

Satu – satunya tempat kursus di Pare yang memiliki kelas bahasa Indonesia dan menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang harus dipelajari.

Di kelas ini saya menemukan romatisme. Romantisme  yang mengajarkan saya untuk belajar “pulang”. sebab saya kembali belajar mengaji dan mengulik hal yang sederhana dari kitab suci Al Quran seperti yang saya lakukan waktu kecil dulu di desa.

Selain keistimewaan tentang mengaji. Di kelas bahasa, saya  menemukan teman – teman yang memuliakan proses dan apresiasi setiap karya yang dilahirkan oleh siapapun. Kami dilatih untuk mengulik dan mengapresiasi karya orang lain dari berbagai sudut pandang. Para peserta diwajibkan mengeluarkan pendapatnya. Tanpa harus sungkan.

Segala aktivitas literasi di Yogyakarta  tiba-tiba seolah pindah ke Pare. Sebab di pare saya menemukan teman sekaligus guru yang sama-sama mencintai buku yakni Bu Uun Nurcahyanti (Sering kali saya panggil Bu Uun). Sehingga aktivitas selama di Pare tidak jauh berbeda yakni berkusar pada literasi. Bedanya di Pare ditambah belajar bahasa, Itu saja.

Di malam minggu, para peserta kelas menghabiskan waktu dengan berdiskusi dengan komunitas Rumah Anak Bangsa (RAB). Komunitas yang masih menjaga marwah literasi. Seandainya komunitas – komunitas serupa RAB bertebaran di Pare, mungkin Pare akan berkembang  layaknya Yogyakarta. Kota yang mengawinkan perkembangan pengetahuan dan budaya.

Namun hari ini desa Tulungrejo memiliki cara lain dalam komodifikasi bahasa. Kampung Inggris mulai dijadikan obyek wisata. Orientasi kebudayaan berubah menjadi orientasi komersial dengan menjadikan kampung Inggris tempat wisata, bersafari, dan wara – wiri. Pada sisi ini, desa Tulungrejo mungkin gagal dalam menjaga tradisi. Namun mereka berhasil membangun kemandirian ekonomi.

Sementara itu, SMART ILC kelihatannya masih menjaga tradisi. Meskipun keadaan menuntut mereka untuk segera berbenah dan berubah. SMART ILC yang sudah berumur 12 tahun, ibarat anak, ia adalah anak yang seharusnya sudah mampu menentukan pilihan.

Di sinilah letak pertaruhan SMART ILC menjaga tradisi kebahasaan atau mengikuti arus yang sedang berlangsung sesuai keinginan pasar.

Di tengah dilema itu, saya tetap yakin SMART ILC akan tetap menjaga tradisi kebahasaan dengan menghidupkan aksara dengan mengeja kehidupan. SMART ILC menjadi semesta bahasa, tempat menimba ilmu yang tetap sederhana di tengah modernitas.

 

Penulis : Sampean (Pemuda Pengerak Literasi Asal Sulawesi)