Mudabicara.com_“Love is so short, forgetting is so long” begitu kata Pablo Neruda, seorang penyair Italia. Hampir setiap manusia tertarik dengan ciptaan Tuhan yang bernama cinta. Meskipun ada beberapa orang yang menolak jika membicarakan cinta. Mereka kemudian menganggap cinta adalah remeh temeh yang kurang berbobot untuk dibahas. Saya yakin mereka ini suatu ketika akan menemukan apa yang mereka tolak itu tadi dengan tiba-tiba menyerang tanpa ampun dalam kesepian dan malu-malunya sendiri. Karena cinta, bisa datang kapan saja. Ia bisa datang dari aroma parfum yang tak sengaja kita cium, ia bisa datang dari sebuah adegan tak sengaja di TV, ia bisa datang dari musik yang diputar saat menunggu kereta, ia bisa datang dari pertemuan sesaat, ia juga bisa datang dari tatapan yang sebentar namun merasa ada sesuatu yang bergetar.

Manusia dan cinta saling mengikat. Dimana ada cinta, disitu melekat juga manusia. Bahkan seorang penjahat, mafia, sindikat pun punya cinta. Paling tidak mereka cinta kejujuran. Mereka benci dikhianati saya kira. Cinta memang bisa merupa debu-debu yang berhamburan, masuk ke dalam hati kecil setiap manusia, meredam kecamuk kebencian, mengurai emosi yang meledak, lalu mengembalikan manusia pada fitrahnya.

Baca juga : Resensi Buku : Populisme Islam di Indonesia dan Timur Tengah 

Siapa di dunia ini yang tidak ingin mencintai? atau siapa di dunia ini yang tidak ingin dicintai? Saya kira setiap manusia pasti menginginkannya. Sayangnya, mencintai dan dicintai bukanlah sebuah kausalitas. Memang yang paling indah dalam cinta adalah saling mencintai. Iya, saling mencintai. Cinta yang berbalas, tepatnya. Tapi siapakah yang bisa menjamin cinta berbalas seperti itu? Siapa yang berani menjamin jika seorang lelaki mencintai seorang perempuan, maka si perempuan pasti akan membalas cintanya? Banyak memang kisah cinta yang indah nan dahsyat. Namun lebih daripada itu, banyak juga cerita cinta yang berakhir dengan luka dan air mata.

Anda sekarang di posisi yang mana? cinta yang berbalas atau cinta yang berujung pada perayaan sebuah luka? Dimanapun posisi anda, kedua buku ini cocok dijadikan teman hal-ihwal mencintai dan dicintai.

  1. Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta, Kumpulan Cerpen, Puthut EA (2014)

Pertama kali saya membeli buku kumcer ini, ada seorang teman yang menertawakan “hahaha! aduuh buku apa ini pek, kamu kok sukanya cinta-cintaan. Kayak cabe-cabean aja”. Saya hanya diam, lalu saya suruh dia membaca cerpen pembukanya. Kebetulan cerpen pembukanya mempunyai judul yang sama dengan judul buku “Sebuah Usaha Menulis Surat Cinta”. Bukan bermaksud merendahkan teman saya, tapi jujur dia membaca tidak sampai separo cerpen pembuka, kemudian buku ini diletakkan kembali dimeja sambil bilang “gila, bahasanya berat”.

Memang kalau dilihat dari judulnya, buku ini tampak manis. Patut diletakkan di rak buku yang bersanding dengan buku-buku karya penulis muda madzhab kisah cinta. Mungkin juga anda akan berpikiran buku ini hanya akan bicara tentang orang yang jatuh cinta, tentang perselingkuhan, atau tentang usaha seseorang untuk mendapatkan pujaan hati. Tapi tolong, coba singkirkan pikiran itu barang sejenak, coba anda membaca satu cerpen saja. Lantas silahkan menilai, apakah buku ini sama seperti buku-buku picisan tentang kisah cinta yang seringkali membuat imaji bahwa cinta akan selalu berakhir dengan keindahan, kebahagiaan, dan pernikahan?

 

Buku ini hampir tidak membicarakan manisnya percintaan. Kalaupun ada yang manis-manis pada cerita didalamnya, maka itu hanya tentang ingatan, tentang kenangan yang mengerikan, atau tentang cinta terselubung. Puthut EA meramu berbagai macam kisah cinta dengan bumbu yang cenderung sama, yakni: amoral, rusak, salah, dan terkutuk. Dan saking piawainya menulis meramu cerita, membaca cerpen Puthut rasanya seperti mendengar sebuah kabar. Sebuah kabar tentang pengalaman lain, yang mungkin tidak kita lihat namun bisa kita rasakan.

Saya suka dengan testimoni yang ada dibelakang sampul,

“Buku ini tidak hanya bercerita tentang kisah-kisah cinta yang indah namun lebih daripada itu: menyigi luka. Manusia tidak selamanya melulu hidup dengan kasih sayang.

Jika anda sedang merayakan kepedihan, ingatlah: anda tak sendiri”.

2. Cerita Buat Para Kekasih, Kumpulan Cerpen, Agus Noor (2014)

Agus Noor

 

Suatu ketika di grup whatsapp, ada seorang teman membagi link dengan testimoni “baca! ini cerpen bagus”. Saya yang penasaran lantas membuka link itu dan masuk pada sebuah halaman blog. Di blog itu saya disambut dengan tulisan yang seluruhnya huruf kapital “Kurma Kiai Karnawi”. Sepertinya menarik, saya pun melanjutkan membaca tulisan dibawahnya. Dan memang benar, cerpen yang sangat menarik. Konon, Agus Noor menulis cerpen itu karena terinspirasi dari kurma ajwa, kurma yang menurut sejarah ditanam oleh kanjeng Nabi Muhammad Saw. Itulah cerita awal saya mengenal nama Agus Noor. Saya akhirnya selalu mengikuti tulisan-tulisan beliau, sampai sekarang.

Buku yang akan saya bicarakan selanjutnya adalah buku kumcer karya Agus Noor yang berjudul “Cerita Buat Para Kekasih”. Kalau anda suka membaca halaman seni-budaya harian Kompas atau Jawa Pos di hari Minggu, maka anda tidak akan asing dengan nama Agus Noor. Sama seperti Puthut EA, Agus Noor adalah salah seorang cerpenis yang sering menghiasi media massa.

Dalam seni lukis, yang saya tahu ada 2 aliran, yaitu realis dan surealis. Saya tidak bisa menjelaskan masing-masing secara epistemologi. Lagipula anda pasti juga sudah tahu kan mana lukisan realis dan mana lukisan surealis. Membaca cerpen-cerpen Agus Noor dalam buku ini seolah-olah kita diajak ke sebuah pameran lukisan surealis. Banyak cerita cinta yang sebenarnya aneh, tidak masuk akal, khayalan, tapi oleh Agus Noor dilukis menjadi sebuah cerita yang tampak biasa saja, seolah-olah memang bisa terjadi.

Salah satu kekuatan yang ada di buku ini adalah diksi-diksi yang digunakan di dalam cerita. Agus Noor selalu melakukan dekonstruksi nilai dalam sebuah hubungan percintaan. Mencoba membangun sudut pandang baru dan segar dalam kenyataan manusia yang sedang membangun cinta kepada para kekasihnya. Bagi yang suka memposting kuotasi-kuotasi nyentrik di sosial media, buku ini menyediakan banyak pilihan untuk anda.

Cerpen Agus Noor berjudul “Kunang-kunang di Langit Jakarta” yang pernah mendapat anugrah cerpen terbaik Kompas 2012 juga tercantum di dalam buku ini.

Well, mungkin dua buku ini saja yang saya rekomendasikan untuk anda baca disaat anda sedang terserang demam mencintai dan dicintai. Sungguh saya ingin menyelamatkan anda dari imaji kisah-kisah cinta utopis, kisah cinta yang melulu berakhir dengan happy ending, cerita-cerita FTV, film-film cinta yang begitu-begitu saja: perselingkuhan, perjuangan si miskin mendapatkan si kaya, penindasan, atau tentang pernikahan yang ideal (rumah mewah, punya mobil, punya anak lucu, hidup bahagia selamanya).

Cinta adalah akibat, yang membuat kita harus berani mempertanggungjawabkan segala resikonya. Cinta bukan soal bagaimana keromantisan meminang kekasih hati, bukan soal seberapa materi yang bisa diberi, juga bukan soal bagaimana cara bahagia sehidup semati. Ah, tapi bukan berarti itu tidak penting, itu semua penting, sangat penting malahan. Namun melihat kenyataan yang terjadi di sekitar saya, ada yang lebih penting dari itu semua, yaitu bagaimana komitmen untuk betah menghadapi masalah bersama-sama yang tak pernah jeda untuk mendera. Bahkan ketika masalah itu berwajah raksasa.

Penulis : Amal Taufik (Pecinta masakan kambing garis keras)