Ibadah Haji: Simbol Evolusi Raga menuju Evolusi Jiwa

Esai617 Dilihat

Mudabicara.com_ Bagaimana Syari’ati memahami haji? Pertanyaan fundamental ini kadang kala sulit mencari jawabannya sebelum kita mendiskusikan dan melihat secara holistik terlebih dahulu esensi apa itu ritual haji?. Apakah punya kegunaan bagi asupan jiwa dalam memenuhi ritual terhadap Tuhan atau kah sebaliknya?

Esensi Ritual Haji

Pertama perlu diketahui bahwa Esensi ritual haji adalah evolusi eksistensial manusia menuju Allah. Haji, demikian Syari’ati, adalah drama simbolik dari filsafat penciptaan anak-cucu Adam.

Dengan kata lain, ia memuat kandungan objektif dari setiap sesuatu yang relevan dengan filsafat itu: haji sama dengan penciptaan, sama dengan sejarah, dan sama dengan monoteisme.

BACA JUGA : GENEALOGI HEROIN DI ASIA TENGGARA 

Dalam drama simbolik itu, tentu ada yang melakoni. Tentu Allah sebagai sutradara, tema yang diproyeksikan adalah aksi (movement) dengan karakter pelaku Adam, Ibrahim, Hajar, dan Iblis.

Lokasi-lokasi pertunjukannyanya terdapat di tempat suci Masjid Haram, Mas’a, Arafah, Masy’ar dan Mina. Simbol-simbolnya adalah Ka’bah, Shafa dan Marwa, siang dan malam, terbit dan tenggelamnya matahari, berhala-berhala dan pengorbanan.

Pakaian dan ornamennya adalah Ihram, Halq dan Taqshir. Siapa aktornya? “Inilah yang luar biasa,” kata Syari’ati.

Aktornya hanya satu engkau sendiri. Dan engkau pulalah yang memainkan semua peran. Sebagai Adam, Ibrahim dan sekaligus Hajar. Di situ hanya ada satu “hero” kemanusiaan.

Syari’ati menyebut gelombang haji sebagai sebuah gerakan pulang kepada Allah Yang Maha Mutlak, yang tidak memiliki keterbatasan. Pulang kepada Allah adalah sebuah gerakan menuju kesempurnaan, kebaikan, keindahan, kekuatan, pengetahuan dan nilai absolut.

BACA JUGA : MENGENAL ABAH AOS, ULAMA KHARISMATIK DARI TANAH PASUNDAN DAN AJARANYA 

Tujuan Ibadah Haji

Tujuan ibadah haji secara keseluruhan bukanlah sekadar melaksanakannya, tetapi untuk terlibat di dalamnya secara sosiologis. Walhasil membawa pelaksananya melampaui batas-batas pengalaman sebelumnya.

Haji sama seperti alam layaknya gambaran Islam yang utuh. Islam bukanlah kata- kata tetapi dalam aksi, Ia adalah simbol.

Semakin jauh kamu menyelam ke dalam lautan ini, semakin jauh pula kamu dari dasarnya, ia tidak punya akhir, Ia bermakna sebanyak yang kita mengerti. Orang yang mengklaim bahwa dia mengetahui segalanyaadalah orang yang sesungguhnya tidak mengerti apa-apa.

BACA JUGA :  MENGENAL SOSOK SYEKH HAMZAH FANSURI SUFI BESAR NUSANTARA

Ini dikarenakan apa yang kita mengerti berada diluar wilayah ilmu pengetahuan biasa, tetapi lebih merupakan milik wilayah emosi atau perasaan yang tidak dapat dipahami sepenuhnya.

Perasaan dan kesadaran tentang kehadiran Tuhan inilah yang mengajarkan para penziarah (haji) tentang ilmu pengetahuan yang lebih tinggi dan lebih dalam dari apa yang bisa dicapai baik dengan sains maupun teologi.

Ini menumbuhkan kesadaran yang dalam pada diri seorang Muslim yang taat. Mestinya tentu akan dibutuhkan jika seorang ingin benar-benar terbebas dari batasan- batasan yang membuat manusia menjadi budak.

Tetapi penekanan Syari’ati pada supremasi ilmu pengetahuan, kesadaran dan pencerahan sama sekali tidak berarti dia menolak jalan tindakan.

Dia menekankan bahwa di mana pun pelajaran-pelajaran ini dipelajari, orang-orang yang mempelajari pengetahuan ini berjuang untuk mendapatkan kebebasan manusia karena Allah.

Pandangan Ali Syariati Tentang Haji

Jalan hidup spiritual yang ditawarkan Syari’ati meliputi penggunaan semua sumber yang dimiliki seseorang untuk keuntungan semua ciptaan Tuhan.

Bahkan sumber dari kehidupannya sendiri untuk mencapai kemuliaan. Artinya kita harus terlibat secara genuine dalam problematika masyarakat.

Ini termasuk melaksanakan kebaikan, kesetiaan dan membatasi diri dari berbagai kesenangan hidup, menderita dalam penahanan dan pembuangan, bertahan dari aniaya dan menghadapi berbagai bahaya.

Nabi Muhammad bersabda,  “Setiap agama memiliki jalan kehidupan kebiaraan. Dalam Islam jalan hidup itu adalah jihad.”

Sementara pada tingkat realitas setiap kita adalah seorang khalifah Tuhan. Seorang peziarah yang dengan penuh kesadaran memenuhi kepercayaan itu dan bertanggung jawab melakukan segala kemungkinan untuk menghentikan lingkaran kehancuran.

BACA JUGA : RESENSI BUKU: POPULISME ISLAM DI INDONESIA DAN TIMUR TENGAH 

Syari’ati memandang haji sebagai saat di mana lebih dari satu juta wakil umat Islam dapat mempelajari tujuan haji, makna kenabian, nilai penting persatuan, dan nasib bangsa-bangsa Muslim.  Pasca itu kemudian kembali ke kampung halamannya ke dalam komunitasnya untuk mengajarkan yang lain.

Pasca haji semestinya ia menjadi cahaya penerang dalam kegelapan. Hal ini sungguh memiliki implikasi revolusioner bila kita memahami melalui pandangan Syari’ati tentang saling ketergantungan antara agama dan struktur sosial.

Tujuan ibadah haji telah tercapai bila si pelakunya telah mampu melaksanakan nilai-nilai ini dengan penuh keyakinan.  Bahwa Tuhan akan memelihara sang haji sebagaimana Tuhan tidak membiarkan Ibrahim terbakar oleh api.

Jika mereka yang berhaji dapat kembali ke negerinya sebagai orang-orang yang telah membina diri mereka di atas keimanan yang mengarah pada tujuan ini.

lalu mereka akan kembali ke negeri dan desa mereka seperti “sungai yang mengalir mengairi bumi,”  dan masing-masing membantu menumbuhkan beribu-ribu benih.

BACA JUGA : SISTEM POLITIK, PENGERTIAN DAN MACAMNYA 

Hal inilah yang menjadi tujuan haji, ia bukan sekedar tugas keagamaan, tetapi sebuah tujuan yang dengannya Tuhan memperbarui masyarakat.

Hal Inilah yang menjadi catatan penting Syari’ati bahwa eksistensi manusia tidak ada artinya kecuali jika tujuan hidupnya adalah untuk mendekati Roh Allah.

 

Oleh : Goenawan (Direktur Ali – Syariati Institute)

Tulisan Terkait: