Mudabicara.com_ Demokratisasi nampaknya menjadi narasi yang cukup berlebihan jika dibicarakan di abad ke-21 ini. Namun kenyataanya, sejumlah negara dan wilayah, masih berjuang untuk mensaripatikan kebaikan-kebaikan demokrasi bagi sistem politik pemerintahan mereka. Hongkong adalah salah satu contohnya. Sebagai sebuah daerah otonomi yang terletak di bagian tenggara Tiongkok di estuari Sungai Mutiara dan Laut Tiongkok Selatan, Hongkong adalah salah satu kawasan yang terus bergejolak dalam sistem politik pemerintahannya. Hal ini tentu saja tak terlepas dari statusnya sebagai bagian dari Republik Tiongkok namun sekaligus berbeda haluan secara ideologis dengan Cina Daratan.

Hongkong lebih dikenal dekat dengan barat, kapitalisme, liberalisme, dan demokrasi. Sementara Tiongkok, menerapkan komunisme sebagai ideologi sistem pemerintahannya. Perbedaan secara fundamental inilah yang kemudian menyulut api konflik dan krisis di wilayah otonomi ini. Salah satunya adalah gelombang demokratisasi yang tertuang dalam Umbrella Movement.

Gerakan ini pecah pada 2014 lalu tatkala Committee of the National People’s Congress (NPCSC) mengeluarkan keputusan terkait usulan reformasi sistem pemilu Hong Kong. Keputusan tersebut dipandang sebagai kebijakan yang ketat dan berpotensi menciptakan iklim otoritarian yang kian meluas.

Dari berbagai gerakan people power ini, ada sosok Joshua Wong, pemuda cum aktivis yang namanya kian moncer dalam percaturan gerakan protes di Hongkong.

Pemuda yang bernama lengkap Joshua Wong Chi-fung adalah salah satu aktivis muda Hongkong yang berpengaruh dalam beberapa tahun terakhir ini. Sepak terjang gerakan politik dan sosialnya membuat Wong menjadi sosok yang diperbincangkan media internasional.

BACA JUGA : GIRING GANESHA: MARKETING POLITIK PSI 

Sejak kecil Wong menderita disleksia dengan kesulitan membaca dan menulis. Penampilan Wong yang kurus dan berkacamata seakan tak mencerminkan ketajaman dalam melihat problematika sosial. Paling tidak secara penampilan Wong jauh dari narasi perjuangan seperti yang digambarkan anak muda Indonesia. Namun siapa sangka Joshua Wong seorang anak muda yang tidak meyakinkan secara fisik tersebut sedang mencoba memimpin sebuah gerakan revolusi sosial negaranya.

Dengan kegigihannya, Wong memperoleh gelar pendidikan ilmu politik dan administrasi publik di sebuah universitas terbuka Hong Kong. Latar belakang keilmuan membuat pisau analisis Wong sangat tajam. Faktanya ia mampu terjun ke dunia politik ketika masih berumur 14 tahun dan mendirikan kelompok aktivis pro-demokrasi. Demo pertama yang diikuti Wong Yakni tentang penolakan rencana pembangunan jalur kereta api cepat yang menghubungkan daratan Hong Kong dan daratan Cina.

GERAKAN POLITIK JOSHUA WONG

Kepedulian sosial dan ketertarikan politik Wong dimulai saat dia membaca sejarah pembantaian lapangan Tiananmen. Serangkaian demontrasi yang dipimpin mahasiswa pada 15 april sampai 4 juni 1989 yang mengakibatkan lebih dari 3.000 orang meninggal karena pasukan bersenjata. Protes dilakukan karena terjadi ketidakstabilan ekonomi dan korupsi. Kemudian isu berkembang menjadi demonstrasi pro-demokrasi yang memang belum lazim di China yang otoriter.

Pada Umur 15 tahun Joshua Wong, Ivan Lam, dan beberapa temannya membentuk sebuah kelompok yang dinamakan Scholarism. Gerakan yang bertujuan untuk memprotes pemerintah Hong Kong untuk memberikan hak suara politik dan peran para pelajar dalam menentukan kebijakan pemerintah.

Dengan platform-platform media sosial dan kerja keras anggota Scholarism menyebarkan pamflet-pamflet di jalanan. Pada tahun 2012 kelompok Scholarism mampu mengajak lebih 120.000 pelajar untuk berunjuk rasa menolak dan meminta pemerintah Hong Kong menghapus program pendidikan patriotik.

Waktu itu pemerintah Hong Kong berencana untuk mengajarkan tentang doktrin Partai Komunis Cina. Program pendidikan yang menurut Scholarism sebagai upaya China untuk mencuci otak pelajar Hong Kong. Dengan gerakan Scholarism, Wong dan kawan-kawan akhirnya mampu menekan pemerintah untuk menunda program pendidikan tersebut.

Selanjutnya, Pada tahun 2014 Wong terjun memimpin demo Revolusi Payung (Yellow Umbrela Movement). Kala itu ia masih berumur 17 tahun, dengan perawakan yang kecil ia berdiri di barisan paling depan bersama ratusan ribu pelajar dari berbagai penjuru Hong Kong. Revolusi Payung semakin mengukuhkan namanya sebagai aktivis pro-demokrasi.

Wong menyerukan agar teman-temannya lebih peduli pada keadaan politik. Ia yakin pelajar merupakan orang-orang yang tepat dalam menyuarakan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan sebab mereka masih idealis. Oleh sebab itu maka para mahasiswa diminta untuk mogok kuliah, menutup jalan, dan menduduki distrik bisnis penting di jantung Hong Kong.

Latar belakang terjadi Revolusi Payung yakni pemerintah China akan menentukan calon yang tampil dalam pemilihan untuk jabatan kepala eksekutif Hong Kong pada tahun 2017. Hal itu memicu protes para pelajar Hong Kong, mereka menilai hal itu membuat Hong Kong hanya semi-demokrasi dan penentuan calon dicurigai sebagai cara untuk menempatkan kandidat pro-China.

Ditambah banyak anak muda Hong Kong tidak puas dengan keadaan ekonomi. Mereka melihat ekonomi hanya dikuasai oleh taipan kaya, banyak orang China daratan datang ke Hong Kong dan merebut lapangan pekerjaan mereka.

Demonstrasi berlangsung selama lebih dari dua bulan. Puluhan ribu pengunjuk rasa menduduki jalan arteri timur hingga barat sampai melalui distrik bisnis kota. Demonstran juga menduduki halaman depan di luar kantor pusat pemerintah.

Aksi demonstrasi memikat simpati warga setelah beberapa demonstran ditangkap paksa. Sehingga semakin hari massa aksi semakin banyak. Ditambah, lewat aplikasi pengiriman pesan Firechat, Wong berhasil mengumpulkan setidaknya 100 ribu massa hanya dalam kurun waktu sehari. Saat itu Wong menilai demonstrasi damai adalah hal yang ideal, namun kadang diperlukan juga pembangkangan sipil agar aspirasi didengar.

Pesan Revolusi Payung jelas bahwa masyarakat Hong Kong ingin demokrasi. Masyarakat menginginkan bebas, di mana setiap orang memiliki kesempatan untuk mencalonkan dan memilih kepala eksekutif Hong Kong.

Pada tahun 2019 Joshua Wong kembali lagi kejalanan menolak RUU Ekstradisi yang dicanangkan pemimpin Hong Kong, Carrie Lam. Meskipun Wong saat itu masih keluar masuk penjara atas tuduhan menolak meninggalkan protes Hong kong 2014.

RUU Ekstradisi dinilai mengancam demokrasi dan hukum. Sebab RUU itu memungkinkan tahanan Hong Kong termasuk warga asing diekstradisi ke China. Sehingga jika RUU di sahkan maka akan membuat China semakin mengendalikan sistem hukum dan peradilan Hong Kong.

Demonstrasi berlangsung sangat lama tercatat mulai februari sampai September 2019. Kira- kira Lebih dari 1 juta warga diperkirakan turun ke jalan menuntut pencabutan RUU Ekstradisi dan melengserkan ketua eksekutif Carrie Lam.

Demo menolak RUU ektradisi kali ini lebih ektrim dari Revolusi Payung 2014. Sebab hampir seluruh pusat perekonomian, bisnis dan bandara di boikot. Peserta aksi juga tidak hanya dari unsur pelajar namun juga pekerja dan pengawai pemerintah. Beberapa penangkapan dan penahanan massa aksi mewarnai selama demonstrasi tercacat hampir 150 orang tertangkap.

KONSEKUENSI GERAKAN

Konsekuensi gerakan demontrasi khususnya Revolusi Payung yakni lebih dari 78 orang ditangkap, di antaranya Joshua Wong. Ia dianggap sebagai salah satu otak penggerak massa pro-demokrasi yang menuntut pemerintah untuk memberikan hak kepada masyarakat Hong Kong dalam memilih ketua eksekutif.

Akibat gerakan demontrasi tersebut Wong juga dianggap sebagai ancaman keamanan bagi partai komunis yang berkuasa. Akhirnya Wong dan massa aksi lainnya ditahan selama 40 jam tanpa dakwaan yang jelas.

Sebenarnya pemerintah meminta pengadilan untuk terus menahannya, namun secara hukum menahannya lebih lama merupakan tidakan melanggar hukum. Joshua Wong dilepaskan, namun polisi menyatakan masih berhak untuk memprosesnya atau menangkapnya lagi.

Pasca kejadian tersebut Wong keluar masuk penjara namun dia tak pernah gentar meskipun mengalami kelelahan dan memar-memar setelah dilepaskan dari tahanan. Wong bergabung dengan teman-temannya dan tetap berada pada garis depan perjuangan.

Wong menyatakan dia bukan separatis yang ingin memisahkan Hong Kong dari China. Dia hanya ingin supaya Hong Kong tetap demokratis dan bisa memilih pemimpin mereka tanpa terlampau banyak diatur oleh China. Sebab pada tahun 1997 China menjanjikan masyarakat Hong Kong dapat melakukan pemilu yang bebas.

Dengan konsistensi gerakan yang ia lakukan Wong dikenal di berbagai belahan dunia. Dia memperoleh penghargaan secara personal di majalah kenamaan Amerika Serikat, Time. Majalah Time menobatkan Wong menjadi remaja paling berpengaruh di dunia. Kemudian majalah bisnis Fortune, Majalah Fortune menobatkan Wong sebagai salah satu pemimpin dunia yang paling hebat.

Pada tahun 2017, Wong juga sempat menjadi salah satu nominator untuk penghargaan Nobel Perdamaian. Sekaligus peluncuran film dengan judul “Joshua:Teenager vs Superhero” yang mengisahkan tentang perjalanan politiknya di Hong Kong. Film tersebut juga mendapat kemenangan pada Festival Film Sundance untuk kategori World Cinema Audience Award.

Secara gerakan apa yang di lakukan masyarakat Hong Kong dan Wong mengugah simpati beberapa negara lain. Wong sempat menyatakan bahwa Ia harus memberi tahu dunia bahwa sekaranglah saatnya untuk berdiri bersama Hong Kong, China tidak dapat mengabaikan dan membungkam suara rakyat Hong Kong.

Beberapa negara yang simpati misalnya Uni Eropa yang sempat melayangkan protes terkait RUU ektradisi Hong Kong. Kemudian Menteri Luar negeri Jerman, Heiko Maas pernah mengundang pertemuan dengan Joshua Wong. Terakhir pertemuan G20 di Jepang yang mencoba membahas permasalahan Hong Kong namun pemerintah Cina melarangnya.

Begitulah sekelumit cerita tentang Joshua Wong. Semoga anak muda Indonesia mengambil pelajaran agar mampu menjadi penyeimbang kebijakan pemerintah yang menindas rakyatnya.

 

Penulis: Mahfut Khanafi (Mahasiswa Pascasarjana Hubungan Internasional, Paramadina)