“Apa pendapatmu bila kukatakan menteri pendidikan kita akan mencalonkan diri sebagai presiden di pemilihan selanjutnya?” tanyaku pada Tan. Wajahnya mendadak berubah. Matanya memandang tajam tanda kaget akan pertanyaanku.

“kau mungkin ada benarnya, Nasheer,” sahutnya.

Kelas tidak begitu ramai. Tiga murid laki-laki di belakang dengan ponsel genggamnya saling membagi tahu tentang video-video lucu. Sekali dua kali tertawa terdengar. Dua murid perempuan ditemani dengan makanan ringan berbincang. Murid yang lain mungkin berada di lapangan, perpustakaan, atau kantin; destinasi-destinasi jam istirahat. Pukul sepuluh kurang, matahari menyingsing tidaklah lagi secara langsung menusuk kelas.

Aku dan Tan berteman akrab sedari kelas tujuh. Meski sebelumnya tidaklah saling kenal, aku langsung dekat ketika mendengar cara berbicaranya yang berargumen. Aku masih ingat  sekali dengan pertanyaan yang ia ungkapkan kepada wali kelas di hari pertama masuk sekolah. Apa landasan ibu untuk mengatakan bahwa negeri ini menyia-nyiakan bonus demografi? Itu jelas membedakan Tan dengan murid yang lainnya. Tidak semua, bahkan hampir tidak ada, anak seusia dua belas tahun berbicara dengan pilihan kata begitu rapih seperti yang Tan ungkapkan.

Keakraban itu semakin menguat ketika kami berkenalan dan berbincang. Minggu ketiga di sekolah. Aku muak dengan teman-teman sekolah yang tidak bisa diajak berpikir. Aku tertawa keras, menepuk meja, mengajak dia tos. Hei, kita sama kawan! Bagaimana mungkin pemuda negeri ini tidak berpikir tentang besarnya ancaman dan peluang yang dihadapi di tahun 2020. Jelas kutub dunia berpindah, tertiup dari barat ke timur. Di saat yang sama, para raksasa berusaha mengkerdilkan kawan-kawannya, dan mencaplok semua kekuatan yang bisa didapat. Terlebih ditambah wabah baru yang menggemparkan seluruh dunia. Termasuk negeri ini, aplikasi-aplikasi yang dihembuskan untuk remaja seusiaku, entah secara langsung ataupun tidak, mengkerdilkan generasi emas negeri ini.

Aku dan Tan duduk di samping jendela. Bangku favorit kami, pojok, belakang. Entah apakah Tan sama dengan pikirku, namun di posisi ini aku dapat memperhatikan kelas dengan lebih detail. Guru yang menerangkan, murid barisan depan, tengah, atau samping-sampingku. Jendela kelas menghadap ke lapangan sekolah, apapun yang terjadi di padanya cepat ditangkap oleh pandangku.  Selain memperhatikan, saat aku berbicara tentu semua orang akan menengok ke belakang, memberikan perhatian yang lebih kepadaku.

“akhir-akhir ini aku berpikir, apakah wajar menteri pendidikan begitu gencar mencitrakan kenaikannya,” Tan menjelaskan ekspresi kagetnya akan pertanyaanku. “kau tentu melihatnya di berbagai platform sosial media. Mukanya selalu muncul bukan? Dengan segala gagasan barunya tentang pendidikan, bahkan quotes yang tidak terlalu relate dengan pendidikan pun muncul dalam timeline.”

“aku mencium bau-bau tak normal pada dirinya kawan,” ucapku. Tan mendengarkanku. “bagaimana bisa presiden kita memilih menteri pendidikan dengan latar belakang bisnis? Aku menaruh banyak curiga pada dirinya. Beberapa kalimatnya-pun menurutku tidak menunjukkan dirinya seorang menteri pendidikan. Bagaimana bisa dengan entengnya dia mengatakan, ‘sekolah itu tidak penting’ sedangkan dirinya adalah pucuk tertinggi sekolah di negeri ini?”

“menurutku kata-katamu ‘curiga’ perlu diganti dengan ‘penasaran’.” Tan mengerucutkan wajah. “mungkin engkau saja yang terlalu sinis dengan orang itu. Aku sama dengan engkau, menaruh banyak tanda tanya pada menteri pendidikan.

“Ucapan-ucapan mas menteri yang selalu menjadi kontroversi itu boleh jadi tidak selalu salah, Nasheer. Dalam pandangku, ia justru sedang berusaha meyakinkan masyarakat bahwa sistim pendidikan negeri ini tidak baik-baik saja. Ia tidak membuatnya dengan bahasa berat di depan televisi, dengan gaya seorang bisnisman, ia sedang membangun visi pada tubuh masyarakat secara luas. Itu mengapa dirinya gencar melakukan pencitraan.”

Aku mengerinyitkan dahi. “lantas, apakah pencitraan itu benar-benar harus dilakukan? Apakah pencitraan itu efektif?” tanyaku pada Tan.

“itu juga yang menjadi pertanyaanku,” balas Tan. “coba kubalik tanya kepada engkau, mengapa engkau berpendapat bahwa mas menteri akan mencalonkan diri sebagai presiden?”

Aku tersenyum tipis. “Yang engkau bilang kampanye meyakinkan masyarakat itu, tidaklah sederhana. Kau tentu sadar kawan, konten-konten tentang dirinya melalui skema yang halus sekali. Ia pastilah membuat tim untuk melakukan pencitraan-pencitraan media sosial. Ditambah dengan driver ojek rekan-rekannya yang berada dimanapun, itu bukanlah suatu ketidak-sengajaan. Aku yakin sekali dia memakai konsultan marketing, tidak sedikit uangnya. Hei, apakah kampanye ‘visi pendidikan’ sebelum ia naik itu didanai oleh kementrian?”

Tan mengangguk halus. “dan lagi,” aku menjelaskan. “ia seolah-olah hendak meniru pola yang dilakukan oleh gubernur ibukota. Menjalani amanah menteri pendidikan, melakukan kampanye. Tunggu saja nanti saat pemilihan, apakah ia benar-benar  maju atau hanya kembali membakar uang.”

“hahaha,” Tan tertawa kecil.  “penjelasanmu tentang kampanye masuk akal. Tapi soal meniru pola gubernur ibukota, jangan terburu-buru kawan, mas menteri baru saja dilantik.”

Aku menatap Tan, sedikit tidak terima dengan kalimatnya. Tan menambahkan, “aku setuju soal kampanye. Hanya aku yakin, mas menteri ini benar-benar orang baik. Hei lihatlah, berapa banyak penduduk negeri ini yang diberdayakan olehnya dengan bisnis ojek yang ia besarkan. Kalaulah nanti dia mencalonkan presiden, aku boleh jadi mendukungnya kawan, dia pasti punya niat baik.”

Kriing.

Bunyi bel sekolah kuno memutus pembicaraanku dengan Tan. Kuno? Tentu. Di zaman dengan teknologi sejauh ini, masih saja menggunakan bel dengan lonceng.

Seruan-seruan tertahan muncul dari belakang kelas. Tiga murid di belakang kecewa dengan ponsel genggam mereka yang tiba-tiba menutup dan layar menunjukkan warna biru bertuliskan “waktunya belajar.”  Dua murid perempuan menuju depan kelas, membuang sampah mereka. Bunyi langkah kaki menderap, merayap memenuhi kesunyian kelas istirahat. Murid-murid lain mulai masuk, penuh gelak tawa karna keseruan mereka menghabiskan waktu istirahat. Satu per satu menduduki bangku mereka.

Kuakui, sekolahku ini hebat kawan. SMP Islam kota ini menerapkan integrasi pendidikan dengan teknologi. Setiap ponsel pada sekolah, baik itu milik guru, murid, karyawan, atau orangtua, tergabung pada sistem IT sekolah. Bagi seorang murid, seluruh aktifitas pada ponsel genggam terekam. Tidak hanya itu, bahkan sistem sekolah akan memblokir apabila dirasa ponsel disalahgunakan. Termasuk yang diblokir adalah game, gambar-gambar terlarang, dan bahkan mengaktifkan ponsel saat kelas berlangsung seperti yang dialami oleh tiga temanku di sudut belakang kelas. Tentu pemblokiran dapat di nonaktifkan oleh pihak yang  berwenang, seperti guru, atau orang tua.

Selain itu, teknologi yang dipakai di sekolah ini benar-benar hebat. Papan tulis kelas misalkan, sekilas tampak tak berbeda dengan papan tulis lainnya, putih mulus seperti baru dibersihkan. Ia sejatinya adalah layar sentuh ukuran besar. Manakala guruku harus menjelaskan dengan menuliskan di papan tulis, ia tak ubahnya papan tulis lainnnya. Tulisan itu bisa digeser kesamping atau disimpan, sehingga tidak harus repot-repot mencari tulisan sebelumnya saat ia sudah hilang dari layar. Menggambar balok tiga dimensi dapat dilakukan mudah, dan hasilnya dapat diputar-putar, memudahkan aku dan teman-temanku membayangkan gambar tiga dimensi. Sama seperti layar, ia tentu dapat memperlihatkan video.

Semua murid telah berada pada kelas. Aku mengeluarkan kepala ke jendela, memperhatikan sekolah dan mencari tahu guru selanjutnya sudah melangkah sejauh mana menuju kelas. Tan mengeluarkan buku yang ia bawa, madilog. Aku tidak terlalu tertarik dengan buku yang ia bawa, atau mungkin karena aku sedang membaca Capita Selecta M Natsir melalui ponsel genggamku.

“Pak Budi datang!” ucapku, melihat Pak Budi di seberang lapangan mendekat dengan cara berjalannya yang cepat menuju kelas.

Semua orang menyiapkan posisi terbaik menyambut guru. Beberapa berlarian menuju bangku, hingga semua telah duduk di kursi  masing-masing. Pelajaran Bahasa Indonesia adalah salah satu pelajaran yang ditunggu-tunggu dalam sepekan. Pak Budi melangkah masuk, tepat di depan papan tulis. Jas hitam, celana hitam, baju putih, dan sepatu kulit membuatnya seperti seorang politikus. Seragam yang ia suka, memperhilatkan wibawa di ujung mata.

“Assalamualaikum, selamat pagi wahai para pahlawan!”

“Selamat pagi gurunda!” sorak kami membalas sapaan guru kami.

“bismillah, alhamdulillah, was salaamu ‘ala sayyidina rosulillah.” Pak Budi mengawali kelasnya. Ia meletakkan tas di atas meja guru, mengeluarkan tab darinya. Pak Budi mengetuk jarinya pada layar tab, menghubungkan perangkatnya pada papan tulis. Papan tulis berubah menjadi hitam. Layar papan tulis menunjukkan animasi langit di malam hari, dengan bulan sabit dan bintang berkedip. Suatu objek muncul secara perlahan, tipografi bertuliskan “MIMPI.” Pak Budi memandangi kami dengan tajam.

“hari ini kita akan membangun mimpi, para pahlawan!” Pak Budi memberikan jeda waktu sejenak. “namun sebelum itu, izinkan bapak untuk bercerita.”

***

Hidup dengan mimpi adalah kehidupan.

Dengan mata berbinar, lelaki berdarah Gorontalo sembunyi-sembunyi mendatangi lapangan terbang. Ia mencari penampakan pesawat lepas landas. Baginya selalu indah, susunan besi yang sedemikian rupa mengangkasa. Tatapannya semakin tajam kala deru mesin pesawat berdesing. Pesawat mengambil ancang-ancang, melesat penuh cepat pada lintasan terbang. Rambut lelaki tadi tersibak begitu angin berhembus kencang. Pesawat mengudara, disusul senyuman lelaki itu penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Lelaki yang hidup dengan mimpi, Habibie.

Satu tahun ia habiskan di Universitas Indonesia Bandung (sekarang ITB). Habibie melanjutkan hidup di Jerman untuk mempelajari aeronautika. Tak jarang malam ia hidupi dengan belajar hingga menjemput pagi. Langit eropa dalam pandangnya penuh rindu. Pelukan hangat ibu bagi Habibie berwujud angin musim dingin, perih. Yang memeluk berjarak ribuan mil. Beberapa kali kolega eropanya menyudutkan Habibie, merampas kebahagiaannya. Namun, dengan segala hantaman, kakinya tetap tegap. Ia harus menyempurnakan perjuangannya di negeri jauh.

Kala pulang, tertuailah segala perjuangan. Buah tangan darinya berupa toeri keretakan pesawat beserta penghargaan yang ikut di dalamnya. Di negeri tanah air, Habibie membangun pesawat yang ia dambakan sedari kecil. Gatotkaca. Tokoh wayang perkasa ia tambatkan sebagai nama pesawat. Penerbangan Gatotkaca disaksikan penuh senyum kebanggaan se-antreo negeri. Bersorak penuh kegembiraan, “negeri ini bisa terbang!”

Hidup dengan mimpi adalah kehidupan.

Selepas jabatan presiden waktu yang ia jalani bukanlah duduk santai menikmati hari tua. Hei, bukankah itu sama dengan melamun? Habibie jauh dari itu. Ia mendirikan Habibie Center, demi menghidupi bangsanya. Dari Habibie Center ia memberangkatkan putra-putri negeri sekolah dengan beasiswanya, mencerdaskan rakyat dengan diskusi, mengembangkan peradaban dengan proyek karya-karya. Bahkan menjelang wafat, Habibie tetap menghidupi mimpinya membangun pesawat. Mungkin dua tahun lagi kita akan melihatnya.

Mimpi adalah kehidupan.

***

“Maka sebaliknya,” Pak budi menatap kami penuh harapan. “Hidup tanpa mimpi bukanlah kehidupan.

Kelas dibiarkan lengan sejenak, tanpa kata-kata Pak Budi.

“tengoklah manusia-manusia di sudut kota. Lihat baik-baik tatapan mata mereka, apakah itu tatapan penuh mimpi?” Pak Budi menegaskan kalimatnya. “duduk termenung menunggu keajaiban datang. Dengan enteng mengucapkan, ‘hidup ini mengalir saja.’ Hanya diam tanpa bergerak, entah di usia penuh energi atau hari tua. Meninggikan angan-angan tanpa sedikitpun berjuang. Memperturutkan keinginan dan nafsu yang hadir di sela-sela waktu. Apakah itu semua layak disebut ‘kehidupan’?”

“hidupilah hidup dengan mimpi, genggam erat dan bergeraklah!” Pak Budi menatap kami tajam. Aku dan teman-temanku terpukau, duduk dengan diri penuh semangat mendengar kalimat-kalimat Pak Budi.

Pak Budi melangkah menuju tengah kelas, “hari ini kalian tulislah mimpi kalian. Berceritalah dengan hati terdalam dan tuangkan dalam kata-kata. Tulis pada tugas yang tersedia di kelas digital. Kalian bisa meniliknya pada ponsel genggam kalian.”

Aku dan teman-temanku sontak membuka ponsel genggam kami. Sekolah ini selalu hebat, kawan! Layar biru yang mengunci ponsel kami berubah menjadi putih, tempat kami menuliskan tugas kami. Icon bertuliskan save dengan warna biru tersedia di pojok bawah. Kami tinggal menyentuhnya saat tulisan kami selesai dan langsung tertumpuk di meja digital Pak Budi. Kami juga dapat memperbaharuinya begitu kami memerlukan revisi sampai tenggang waktu pengumpulan tugas berakhir.

Jelas sekali pelajaran Bahasa Indonesia hari ini adalah menulis. Pak Budi dan banyak guru lainnya melakukan pola seperti ini : membuka kelas dengan peri hidup, memberikan tugas yang kami tidak pernah merasa terbebani dengannya, berdiskusi di sela-sela mengerjakan tugas. Pak Kepala Sekolah menyebut pola ini dengan model kelas terbalik. Apapun namanya aku menyukai pola ini.

Di tengah kelas Pak Budi memberi pertanyaan, “kalian semua telah memiliki mimpi, kan?”

Kelas diam sejenak. Salim yang duduk di tengah kelas, tepat di sebelah Pak Budi berdiri bertanya, “aku bermimpi tinggi untuk masuk surga. Apakah aku boleh menuliskan itu?”

Pak Budi tersenyum mendengar pertanyaan Salim. “Hebat engkau Salim. Banyak manusia mengimpikan surga, namun banyak juga dari mereka yang melupakan impian tinggi itu di sela-sela hidup mereka.”

Pak Budi melangkah kembali ke depan kelas, menatap kami tajam. “yang bapak inginkan disini bukan sekadar kalian menuliskan surga. Jelas semua orang menginginkan itu. Lebih dari itu, kalian harus menjawab, ‘ dengan jalan apa kalian masuk surga?’ Mungkin dari kalian ada yang memilih jalan insinyur, hendak membangun teknologi negeri ini. Mungkin jalan ekonom, hendak menuntaskan masalah kemiskinan. Mungkin yang lainnya. Maka dengan jalan-jalan mimpi yang kalian pilih, kalian mengharapkan surga darinya.”

Salim mengangguk-angguk. Kali ini Sheri mengangkat tangan, gilirannya bertanya. “Aku bermimpi menjadi animator. Apakah itu cukup untuk kutuliskan?” Sheri duduk paling depan, paling semangat dan paling banyak bertanya di pelajaran Bahasa Indonesia.

“Sheri, kau bisa membuat mimpimu lebih hebat.” Pak Budi melihat ke arah Sheri, memberikan keteguhan pada dirinya. “mimpimu menjadi animator. Iya, maka animator yang seperti apa kamu? Buatlah mimpi itu lebih dari sekadar jawaban atas pertanyaan ‘profesi apa yang kamu inginkan di masa depan?’ Lebih tinggi!”

“bermimpilah untuk menjadi animator yang spesial. Misal, kamu bermimpi untuk membuat gaya animasi kartun ala negeri ini, menyaingi jepang dan barat yang memiliki gaya mereka masing-masing. Atau selain itu, kamu bisa bermimpi untuk menghidupi kartun anak kecil negeri ini dengan peri hidup.”

“kau mengerti, Sheri?” Pak budi meyakinkan Sheri. Sheri tersenyum lebar, mengangguk penuh semangat.

“Pak.” Kali ini Tan angkat tangan. Semua temanku menengok ke belakang, arah bangku kami yang berada di sudut belakang kelas. Aku menyukai momen ini. Posisi tebaik. “ya, hendak bertanya, Tan?” Pak Budi menyahut.

“Bagaimana jika…” Tan menjeda kalimatnya, menghela nafas. “Bagaimana jika aku belum memiliki mimpi?”

Kelas lengang sejenak. Bukan karena pertanyaan yang diajukan, tapi karena yang menanyakannya. Tan. Seisi kelas tahu betul dia orang yang penuh dengan gagasan, tak kenyang dengan bacaan. Pertanyaan ‘belum memiliki mimpi’ tentu tabu bila Tan menanyakannya.

“itu pertanyaan yang berat, Tan.” Pak Budi menjawab, menatap lamat-lamat seluruh murid dan bertanya, “apakah kalian semua sudah memiliki mimpi?”

Kelas terdiam. Satu dua berucap, sudaah… sisanya bisu tanpa suara. Aduhai, beberapa –atau mungkin banyak- dari kami memang belum memiliki mimpi.

“kalian tentukan mimpi kalian. Apabila jam pelajaran ini belum cukup, tidak mengapa. Temukan dan tentukan mimpi kalian di rumah, lakukanlah.” Pak Budi menarik nafas. “Tengoklah diri kalian. Merenunglah. Lihat diri kalian baik-baik. Apa potensi yang kalian miliki? Bidang apa yang kalian sukai? Dua pertanyaan sederhana ini sangat membantu penentuan mimpi kalian.”

Pak Budi berjalan ke tengah kelas, bertepuk tangan. “Semangat! Ayo kerjakan! Tulis mimpi yang telah kalian tekadkan. Bila belum ada, tentukan mimpi kalian penuh tekad! Kalau memang kalian butuh inspirasi, kalian bisa mencarinya, searching! Sediakan lembar kosong, mungkin kalian membutuhkan coretan.”

Aku dan teman-temanku kembali pada ponsel kami. Beberapa mengeluarkan kertas dan pena, bekal menggurat ide. Setiap kali pengerjaan tugas, ponsel yang tadinya terkunci selain menunjukkan form pengerjaan tugas juga menyediakan pilihan untuk searching. Tentu sistem meninjau kami, mencegah murid apabila keluar dari konteks tugas seperti membuka sosial media.

Salim dan beberapa temanku termenung. Mungkin mereka sedang berpikir keras menentukan mimpi mereka. Tan lekat dengan kertas dan pena, menulis, mencorat-coret, menggambar bentuk-bentuk yang tak kupahami. Hei, bukankah tadi dia mengungkapkan ‘belum memiliki mimpi’?

Sheri menoleh ke arah Pak Budi yang sedang berjalan mengitari kelas. “Pak, bagaimana aku menumpahkan isi kepalaku dalam tulisan?” pertanyaan singkat, namun sepertinya menjadi keresahan teman-temanku yang lain.

Pak Budi mendekati Sheri. “coba kertas kosong Bapak pinjam.” Pak Budi menunjuk kertas yang ada pada meja Sheri. Sheri memberikannya. Pak Budi meraih pena pada saku jasnya, menngambar pola pada kertas yang diberikan Sheri.

“Kamu memiliki ide besar. “ Pak budi menggambar lingkaran di pojok kertas. Beberapa temanku yang memiliki pertanyaan sama mendekat. “Kamu jabarkan ide besarmu menjadi beberapa bagian.” Pak Budi menggambar caban dari lingkaran, membuat lingkaran lain di ujung garis cabang. “dari bagian-bagian ini kamu jabarkan menjadi satu paragraf.” Membuat coretan pada lingkaran-lingkaran di ujung garis cabang.

“Bapak beri contoh,” Pak Budi melanjutkan. “mimpi kamu adalah animator. “ menunjukkan lingkaran besar pada pojok kertas. “misalkan kamu ingin menjadi animator yang terkenal, animator yang memiliki ciri khas, animator yang membumikan keluhuran budi.” Pak Budi membuat garis di atascabang-cabang dari lingkaran. “kemudian kamu jabarkan : se-terkenal apa kamu nanti? Ciri khas seprti apa yang kamu miliki? Bagaimana kamu membumikan keluhuran budi?” Pak Budi menunjukkan bulatan-bulatan kecil dan coretan di ujung garis cabang.

“masing-masing paragraf mewakili bagian-bagian dari mimpimu. Bisa dipahami?” Sheri tersenyum, mengangguk. Terdengar seruan oooh gituu… murid-murid yang tadinya berkumpul di bangku Sheri kembali kepada bangku masing-masing.

Pak Budi berjalan mengelilingi kelas, memperhatikan satu per satu muridnya. Melihat Pak Budi berkeliling, teman-temanku mengajukan pertanyan. Kadang sepele kadang begitu berisi. Sesekali Pak Budi melemparkan pertanyaan kepada murid. “Bagaimana? Ada kendala?” Terlebih ketika melihat murid yang termenung. Dengan hangat Pak Budi menanyai mereka, berdiskusi untuk menuntaskan tugas bersama-sama.

Enam puluh menit berlalu begitu cepat. Antusiasme kami menerjang waktu, tak sadar jam pelajaran telah habis. Belasan murid selesai, saling berbincang untuk menceritakan mimpi mereka. Belasan lainnya belum selesai, tulisan masih setengah atau bahkan hanya menghasilkan coretan pada kertas kosong. Tidak mengapa, oleh-oleh pelajaran Bahasa Indonesia adalah tekad untuk bermimpi.

“Baik, para pahlawan!” Pak Budi memusatkan perhatian seisi kelas padanya. “kelas bahasa Indonesia hari ini selesai. Untuk sesiapa yang belum menyelesaikan tugasnya, silahkan tuntaskan di rumah. Pekan depan harus selesai dan nanti kita cerita tentang mimpi kita.”

“Kita tutup kelas bahasa Indonesia kita. Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin. Sekian, wassalamualaikum wa rahmatullah wa barokatuh.” Pak Budi meraih tabnya, merubah papan tulis menjadi putih kembali. Ia berdiri di dekat meja guru. Aku dan teman-temanku beranjak menuju Pak Budi, berebut menyalami dan menciumi tangan Pak Budi. Enam puluh menit yang selalu hebat, menghidupi hidup.

Tentu aku dan teman-temanku tidak sabar menunggu pekan depan. Menceritakan mimpi-mimpi kami yang begitu hebat, atau mendengar mimpi dari teman-teman kami.

 

 

Penulis : Zuhair Aminullah (Mahasiswa Fisika Universitas Gajah Mada)