Mudabicara.com_Nama Kepala Staf Keprisidenan Jenderal (Purn) Moledoko kini di atas angin. Nama Moeldoko naik karena ditetapkan sebagai Ketua Umum Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB) kubu yang kontra dengan Agus Hari Murti Yudhoyono (AHY). KLB ini diselenggarakan di Deliserdang, Sumatera Utara pada Jumat, 5 Maret 2021.

Moeldoko terpilih secara aklamsi dalam forum KLB itu setelah Marzuki Alie menyatakan mundur dari pencalonan Ketua Umum Partai Demokrat versi KLB.

Keterpilihan Moeldoko menjadi Ketum Demokrat menjadi terang benderang setelah kurang lebih sebulan terakhir Partai berlambang Mercy itu diterpa isu Kudeta AHY, putra Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

BACA JUGA: KLB DEMOKRAT DI SUMUT TETAPKAN MOELDOKO JADI KETUM!

Moeldoko sebelumnya meneps bahwa dirinya ikut campur dalam urusan internal Demokrat dalam menggulingkan AHY. Namun, hal itu terjawab setelah Moeldoko menerima jabatan Ketum Demokrat versi KLB.

Lalu Siapa Moeldoko? Simak profil dan karir Moledoko yang dirangkum Mudabicara.com dari berbagai sumber sebagai berikut;

Karir Moeldoko Mulai Menjak Sejak Era Presiden SBY

Jenderal TNI (Purn.) Dr. H. Moeldoko, S.I.P. lahir di Kediri, Jawa Timur (Jatim), pada tanggal 08 Juli 1957.

Moeldoko dikenal dengan kiprahnya di TNI Angkatan Darat (AD). Karir Moeldoko di militer mulai memuncak ketika dipilih oleh Presiden SBY untuk menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) sejak tanggal 20 Mei 2013.

BACA JUGA: YUK INTIP! FAKTA DIBALIK PIALA MENPORA 2021

Moeldoko dipilih SBY menggantikan Pramono Edhie Wibowo yang memasuki masa pension di TNI.

Berawal dari penunjukan sebagai jenderal bintang empat TNI ini menjadi modal bagi Moeldoko dalam meniti karirnya di militer dan politik.

Tak lama kemudian, Presiden SBY kala itu, mengusulkan nama Moeldoko sebagai calon Panglima TNI ke DPR untuk menggantikan Agus Suhartono yang akan segera pensiun. Pada 20 Agustus 2013, SBY melantik Moeldoko sebagai Panglima TNI.

Hubungan SBY dan Moeldoko semakin harmonis, saat menjabat sebagai Panglima TNI, Moledoko pernah mengusulkan SBY untuk memperoleh anugerah Jenderal Besar TNI.

Moeldoko menilai bahwa SBY pantas mendapatkan anugerah tersebut karena semangatnya dalam memodernisasi TNI.

Setelah pension dari TNI, hubungan MOeldoko dan SBY masih terlihat harmonnis dan tetap baik.

BACA JUGA: KRISIS POLITIK MYANMAR, PB HMI DORONG ASEAN LAKUKAN KONSOLIDASI 

Jajaki Politik Praktis Pasca Pensiun dari TNI

Setelah pension dari TNI, Moeldoko pernah menjajaki dunia politk praktis. Moeldoko tercatat pernah masuk dalam jajaran pengurus Partai Hanura dibawah pimpinan Oesman Sapta Odang (OSO) 2016 lalu. Pada 2tahun 2018, Moeldoko mengundurkan diri dari partai Hanura.

Kemudian pada tanggal 17 Januari 2018, Moeldoko dilantik oleh Presiden Joko Widodo sebagai Kepala Staf Kepresidenan (KSP). Saat itu Pemerintahan RI dipimpin oleh Jokowi-Jusuf Kalla.

Moeldoko masuk kabinet setelah Jokowi melakukan reshuffle pada Januari 2018, menggantikan Teten Masduki.

BACA JUGA: KONSEP KEAMANAN HUBUNGAN INTERNASIONAL DAN SOAL INTERVENSI KEMANUSIAN

Sementara di Pemerintahan Jokowi bersama KH Ma’ruf Amin, Moeldoko masih dipercaya untuk menjadi KSP. Disamping menjabat sebagai KSP, Moeldoko juga menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sejak 2017.

Disektor pertanian bukan hal asing bagi Moeldoko. Moeldoko merupakan anak seorang petani yang juga banyak melakukan aktivitas bisnis. Salah satu kiprah Moeldoko di sektor bisnis yakni mendirikan pabrik bus bertenaga listrik.

Moeldoko juga aktif di ranah ekonomi syariah. Bersama putranya, ia mendirikan fintech syariah yang berorientasi membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).