Puasa dan Momen Transformatif

Opini20 Dilihat

Mudabicara.com_Tubuh manusia serupa dengan mesin yang terus bergerak sekaligus paling sering kita abaikan. Ia bekerja tanpa protes, mengolah setiap makanan, menyaring setiap asupan. Namun di balik itu, sistem pencernaan manusia membutuhkan waktu sekitar 8 jam untuk mencerna makanan yang dikonsumsi. Jika sarapan pukul 8 pagi maka mekanisme pengolahan makanan dalam tubuh mencerna sampai jam 4 sore.

Tetapi dalam ritme hidup modern, jeda nyaris menjadi barang langka. Belum usai satu proses percernaan bekerja, kita sudah menambah beban baru sistem gastrointestinal: kudapan di sela rapat, makan siang yang tergesa, kopi sore untuk menunda letih. Organ pencernaan bekerja tanpa istirahat, seperti mesin yang tak pernah dimatikan. Ia terus berputar, terus mengolah, tanpa diberi kesempatan untuk memulihkan diri. Sistem perncernaan nyaris bekerja tanpa henti.

Di balik proses pencernaan yang tampak sederhana itu, tubuh sedang melakukan kerja yang jauh lebih kompleks. Makanan yang kita konsumsi memang memberi nutrisi bagi miliaran sel sehat. Namun pada saat yang sama, glukosa yang beredar juga memberi “asupan” pada sel-sel tua dan rusak. Sel-sel ini, jika tak dibersihkan, berubah menjadi toksik dan racun yang menginfeksi sel sehat. Sel tua yang rusak ini akan menghambat peremajaan sel baru dan memicu berbagai penyakit degeneratif seperti diabetes, kanker, hingga demensia.

Baca Juga: PB HMI Apresiasi Sekolah Rakyat Asta Cita Prabowo Subianto

Ketika tubuh terus-menerus dipaksa bekerja tanpa jeda. Sel toksik akan semakin kuat, dia menjadi zombie yang dapat mengkanibal sel-sel yang sehat. Tubuh kita akan terbawa dalam hubungan yang destruktif saat racun yang mengendap dalam mencerna makanan. Kebiasaan ini bagai investasi penyakit yang dipanen saat usia semakin menua. Tubuh kita akan rentan.

Jika memakai logika otomotif, setiap mesin membutuhkan servis berkala. Sepeda motor diservis setiap tiga bulan, mobil setiap enam bulan, kapal laut didocking beberapa kali dalam lima tahun, pesawat diperiksa rutin setiap ratusan jam terbang dan menjalani perawatan menyeluruh dalam kurun tertentu. Tak ada mesin yang dibiarkan bekerja tanpa jeda. Layaknya otomotif, organ dan sistem pencernaan manusia perlu jeda memulihkan diri dan perbaikan agar tetap sehat.

Lalu bagaimana dengan tubuh manusia, mesin biologis yang jauh lebih kompleks daripada seluruh teknologi itu melakukan reaktvitasi? Bagaimana cara tubuh manusia memulihkan dirinya?

Jawabannya adalah puasa.

Dalam dunia kedokteran modern diungkapkan, puasa bukan sekadar ritual spiritual, melainkan fenomena biologis yang kaya makna. Lewat berpuasa ditemukan formula terbaik untuk pemulihan sistem pencernaan dan organ tubuh manusia. Bukti ilmiah itu datang dari riset yang dilakukan oleh Dokter asal Jepang bernama Yoshinori Ohsumi.

Ohsumi menguraikan ketika berpuasa terjadi dua proses dalam tubuh manusia yang disebut autophagi dan autolisis. Konsep Autophagi sendiri mengemuka pertama kali dari Christian de Duve pada 1963, ia memaparkan mengenai proses tubuh menyaring sel-sel yang tidak berguna dan mengganti sel-sel yang rusak. Riset ini mendapat pengakuan besar dan diganjar Nobel Kedokteran pada 1974.

Penelitian Ohsumi mengupas reaksi tubuh yang berpuasa 8 sampai 16 jam. Proses yang bernama autophagi terjadi ketika berpuasa. Saat nutrisi dari luar berhenti, tubuh beralih ke mode pembersihan internal. Tubuh yang berpuasa melumat bagian dirinya sendiri sebagai mekanisme alamiah. Ia seperti vacuum cleaner biologis yang menyedot sel-sel rusak agar tak berubah menjadi racun yang membahayakan tubuh. Sel toksik akan terkuras dalam tubuh dalam proses autophagi.

Setelah proses pembersihan sel-sel rusak, tubuh memasuki fase autolisis. Proses daya ubah sel-sel tua menjadi energi ketika tingkat nutrisi rendah. Ia memberikan penyegaran dengan regenerasi sel.

Tanda proses ini terjadi adalah tubuh terasa lemas. Saat berpuasa tubuh memompa protein hasil organisme sendiri ke seluruh tubuh. Protein ini hasil dari penyaringan sel-sel tua.

Mekanisme tubuh saat berpuasa menghasilkan protein dari lemak yang diolah dalam metabolisme yang disebut ketosis. Proses metabolisme ini terbantu dengan meningkatnya kadar Enzim AMPK (adenosine monophosphate-activated protein kinase). Sensor energi seluler teraktivasi ketika pasokan nutrisi dalam tubuh terbatas. Dalam proses ini hati memproses lemak yang tertimbun di tubuh dan memasok energi darurat dari senyawa yang disebut keton. Saat proses ini, tubuh mereorganisasi dirinya. Ia membersihkan, memperbaiki, memperbarui, dan menghasilkan energi untuk dirinya. Pemulihan organ-organ tubuh manusia terjadi saat berpuasa.

Baca Juga: Hakim Bima Persada Resmi Terpilih sebagai Formatur/Ketua Umum HMI MPO Cabang Mataram Periode 2026–2027

Dalam tata cara Islam sendiri, puasa dimulai saat Adzan Subuh dan berakhir saat Maghrib. Terdapat jeda sekitar 12- 14 jam tanpa asupan. Dengan berpuasa, ada perbedaan dalam pola makan. Ada jeda yang panjang untuk diperkenankan menyantap makanan kembali saat iftar. Saat Ramadan kebiasaan itu berlangsung dalam waktu satu bulan. Momentum Ramadan memberi waktu pemulihan yang cukup bagi tubuh manusia.

Ramadan dari sisi medis berarti perawatan dan perbaikan mesin-mesin dalam organ tubuh manusia. Puasa membantu tubuh membersihkan sel toksik sekaligus mengkonversi sel-sel yang tidak berguna menjadi energi darurat untuk tubuh. Proses ini membantu tubuh melakukan peremajaan sel-sel baru dan memulihkan dirinya kembali. Berpuasa memberikan ruang bagi tubuh untuk menyegarkan diri, setelah terus menerus dipaksa bekerja. Puasa membantu tubuh melakukan pemulihan.

Berpuasa itu sehat dan menyehatkan, mencegah penyakit dari proses akumulatif pola hidup sembarangan. Ia menjadi penangkal alami mencegah diabetes, ginjal, dan kanker. Ohsumi dalam risetnya menyarankan untuk berpuasa 2–4 kali dalam sepekan untuk kesehatan tubuh.

Sementara dalam khazanah Islam, kesimpulan riset Ohsumi, telah lama hidup dalam tradisi. Nabi Muhammad menganjurkan untuk berpuasa Senin dan Kamis setiap pekan, puasa Daud dengan sehari berpuasa dan sehari tidak. Ritme ini, jika dilihat dari sudut pandang kesehatan, sejalan dengan pola puasa intermiten yang kini populer.

Tercatat dalam tradisi medis terdahulu, puasa menjadi metode bagian dari terapi dan penyembuhan. Ibnu Sina cendekiawan Islam yang dijuluki ‘pangeran para dokter’ memulai puasa sebagai jalan pemulihan. Sosok peletak dasar kedokteran modern ini menjadikan puasa sebagai cara dalam pengobatannya pada abad ke-11.

Dari sisi historis, puasa membawa transformasi dalam jalannya peradaban manusia. Tatkala komunitas sosial manusia masih terisolir satu sama lain. Sejarah peradaban manusia memiliki perkembangan yang tidak merata di tiap lokus. Ada yang membuat lompatan besar, ada yang berangsur-angsur tumbuh. Ada yang menjulang, ada yang sedikit demi sedikit berkembang. Manusia sendiri baru memiliki konsepsi yang utuh terkait bumi — bahwa bumi itu bulat — setelah revolusi maritim yang dilakukan oleh Bangsa Eropa pada abad ke-15.

Baca Juga: Anggota DPRD Tubaba Eli Fitriyana Jadi Tersangka Dugaan Ijazah Palsu

Perkembangan setiap peradaban ini terkait faktor geografis, sumber daya yang ada, dan daya guna teknologi yang menopang kehidupan. Pada masa semua serba terbatas dalam kehidupan manusia. Dari segi akses sumber daya maupun perkembangan sains dan teknologi, manusia dihadapkan pada medan yang sulit untuk survival dan menjaga keberlanjutan hidup.

Di zaman purbakala keterbatasan ini menjadi tantangan berat di tengah buasnya alam raya. Salah mengenali tumbuhan bisa berujung maut, salah membaca jejak bisa diterkam binatang buas.

Pada titik ini, ketajaman indera dan kepekaan sensorik menjadi kunci bagi manusia terdahulu untuk bertahan hidup. Kepekaan sensorik dan ketajaman indera ini menjadi modal utama untuk manusia menjaga kelangsungan hidup. Ia membantu manusia menghadapi hewan buas dan interaksinya dengan alam yang keras saat pengetahuan masih amat minim.

Untuk lokus yang diberkati, kebutuhan survival terbantu dengan sumber daya alam yang mengandung zat halusinogenik. Mengonsumsi zat ini melipatgandakan daya inderawi dan kepekaan manusia. Namun tak semua komunitas sosial memiliki akses terhadap sumber daya ini. Lalu bagaimana untuk komunitas sosial yang tak memilikinya untuk survive? Apa yang bisa diakses secara universal untuk semua komunitas manusia demi kelangsungan hidup? Jawabannya adalah dengan berpuasa.

Kondisi seperti ini puasa hadir sebagai keberkahan dan solusi bagi keberlangsungan hidup manusia yang universal. Puasa berperan meningkatkan kepekaan inderawi. Oleh karenanya, tradisi berpuasa nyaris ada dalam semua sistem kepercayaan. Setiap agama memiliki ritual dan cara berpuasanya sendiri.

Berpuasa membawa dampak pada sistem neurotransmitter. Berpengaruh pada cara kerja hormon yang disebut Orexin-A. Hormon yang mengatur transmisi dan pertukaran pesan antar urat syaraf. Aktivitas hormon ini melipatgandakan kemampuan penginderaan manusia dan ketajaman inderawi. Meningkatkan kapasitas dan akselerasi otak dalam mencerna dan menyerap informasi.

Dalam masyarakat kuno, mereka yang memiliki kepekaan inderawi yang tinggi karena diasah dengan berpuasa kerap dihubungkan dengan kekuatan supranatural dan dianggap sebagai titisan dewa.

Puasa sangat membantu manusia untuk survive pada zaman purba. Ketajaman inderawi dan kepekaan mengenali lingkungan yang meningkat membekali resiliensi dan keberlangsungan hidup. Manusia lebih peka dalam mengenali ancaman dan menemukan solusinya.

Baca Juga: Dana Haji Tembus Rp 180 Triliun, BPKH Perkuat Tata Kelola dan Transparansi

Dalam sejarah peradaban manusia, berpuasa dalam masyarakat terdahulu membantu kelangsungan hidup manusia.

Manfaat praktis lain dari berpuasa adalah membantu tubuh menghasilkan zat endorfin. Hormon kebahagiaan. Hormon ini penting untuk menanggulangi stress, membantu peremajaan sel-sel baru, dan meningkatkan imun. Berpuasa mengelola mood baik dan membawa nikmat kebahagiaan dalam hidup manusia. Berpuasa membawa momen transformasi bukan hanya pada tubuh, melainkan pada mentalitas.

Sejarah Islam mencatat momen simbolik: Perang Badar pada bulan Ramadan tahun 2 Hijriah. Secara jumlah dan perlengkapan, kaum Muslim berada dalam posisi lemah. Ibadah puasa melipatgandakan kekuatan spiritual bagi kaum muslim saat tertinggal dari segi ekonomi dan militer. Puasa menempa disiplin, militansi, dan daya juang yang lebih tinggi.

Kekuatan ini menutupi kekurangan ekonomi dan amunisi militer. Dalam kondisi terjepit, kekuatan spiritual menjadi penyeimbang kekurangan materi. Surplus spiritual menjadi game changer. Transformasi spiritual menjadi kunci kemenangan kaum muslim.

Puasa menjadi momen transformatif bagi manusia untuk mempertajam kepekaan, menjadi lebih bahagia, dan menjadi pribadi yang lebih utuh. Ia menjadi transformasi kesadaran, pikiran, mentalitas, dan spiritual untuk membuat kemajuan dan lompatan-lompatan dalam hidup.

Puasa bukan sekadar ibadah. Ia adalah momen transformatif yang membawa kita menjalani hidup dengan mentalitas sebagai pejuang dan pemenang.

 

Penulis: Mikhail Adam

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *