Setapak Cinta Yang Tersayat

Sastra397 Dilihat

Mudabicara.com_ Rintikan air hujan masih turun sejak sore tadi. Aroma air yang tercurah dari langit masih menguasai liang hidung. Suara gemeretaknya di atap seng bersimfoni dengan desau angin yang melewati sela-sela atas bingkai jendela.

Gorden pada pintu kamar bergerak-gerak malas. Dahulu, pada bingkai pintu kamar itu, Ibu mengikatkan tali setelah membaginya menjadi dua sama panjang. Pada dua ujung tali yang menjuntai, diikatkan selembar kain sarung. Jadilah kain itu sebuah ayunan.

“Kamu lihat bekas gesekan tali itu, Pilar?” Bapak menyeret pandanganku ke arah yang ditunjuk. “Di situlah ibumu menidurkanmu, di dalam ayunan.”

BACA JUGA : LEMBAYUNG JINGGA DI PANTAI KUTA 

Garis-garis di kening Bapak berjejak, betapa dalam ia telah meletakkan potongan-potongan kisah. Matanya juga menyipit ketika berusaha mengunduh kenangan yang mungkin tak pernah terpikirkan akan diceritakan lagi.

Di dekat ayunan, Ibu mendendangkan bait-bait lagu dari tanah melayu. Terkadang, Ibu mengajakku bercerita, apa saja, seakan-akan aku adalah laki-laki dewasa yang sudah bisa berbicara dan memahami apa yang sedang diceritakan.

Bapak hanya tersenyum memandangi kebahagiaan Ibu manakala aku menjawab cerita-cerita itu dengan tawa.

“Eh, seperti paham saja bayi kita sama ceritamu, Dek.”

“Pahamlah, Mas. Kalau tak paham, manalah mungkin dia mau ketawa.”

Bapak begitu fasih mengucapkan kembali dialog yang pernah terjadi antara dirinya dengan wanita terkasihnya. Lekukan suara Ibu dan ekspresi wajahnya sempurna direka ulang oleh Bapak.

Kata Bapak, kehadiranku dalam kehidupan mereka, adalah penyempurna kebahagiaan. Terutama Ibu, Ia tak henti-hentinya melekatkan doa-doa dan harapan agar selalu menyertaiku, begitu pula ketika nama Pilar disematkan untukku.

“Kenapa Pilar?” Bapak kembali mengucapkan pertanyaan yang pernah ditujukan kepada Ibu.

“Mas, pernah lihat rumah orang-orang kaya di tv, kan? Tanpa pilar-pilar yang kuat itu, rumah-rumah mereka tak akan tahan lama.” Pertanyaan itu pun dijawab sendiri oleh Bapak serupa dengan yang pernah diucapkan Ibu.

Dengan nama itu, Ibu berharap kelak aku akan menjadi laki-laki yang kuat, tangguh, dan bertanggung jawab. Ibu ingin agar aku menjadi sosok yang manopang tubuhnya ketika tak sanggup lagi berdiri karena dimakan usia.

Bapak tak membantah, baginya nama itu dan filosofinya, adalah ungkapan perasaan dari seorang ibu terhadap anaknya.

*****

Rumah tanpa langit-langit ini tak mampu meredam gemeretak air yang berjatuhan di atas atap. Telinga semakin pekak ketika rinai menderas. Padahal, langit-langit bak pakaian yang menutupi apa yang seharusnya tak diperlihatkan. Namun, di rumah ini, tanpa malu-malu semua bagian kerangka dipertontonkan, dibiarkan setiap mata yang datang menjelajahi lekukan-lekukannya.

“Dulu, Bapak pernah berencana memasang langit-langit di rumah ini.” Sosok laki-laki dengan puncak kepala yang mulai bertaburan helaian-helaian putih di hadapanku ini berusaha membuat lengkungan manis pada sepasang kelopak bibirnya.

BACA JUGA : Mengilhami Puisi Derai-derai Cemara, Chairil Anwar

Ketika itu, Bapak sedang berada di ladang. Seorang warga tergopoh-gopoh mendatangi Bapak dan mengabarkan kondisiku yang kejang-kejang karena demam panas yang semakin tinggi.

Bapak mendapati Ibu di rumah mantri kampung dengan kaki tanpa alas. Ibu jari kaki Ibu tak henti-henti mengeluarkan darah, kukunya merekah, nyaris terlepas. Entah batu atau kayu di jalanan yang membuatnya seperti itu. Ibu tak menghiraukan apa yang terjadi dengan dirinya. Dalam pikiran wanita bermata sayu itu hanyalah bagaimana cara menyelamatkan aku.

Kecemasan tak bisa dinafikkan dari wajah Ibu. Air mata seakan-akan beradu deras dengan darah pada ibu jari ketika Ibu melihatku terus kejang-kejang dengan mata terbuka lebar. Ibu tak mau ambil risiko, akhirnya aku dirujuk ke rumah sakit.

Sakitku telah berhasil menguras tabungan orang tuaku. Sementara, memiliki langit-langit di rumah ini tak lebih hanya sebuah mimpi.

“Setiap kali melihat kerangka atap itu, Bapak teringat sama Ibumu yang terus menyalahkan dirinya sendiri atas sakitmu.”

Aku merasakan bahwa di setiap kayu yang menjadi penyangga atap di rumah ini, padanya pernah disampirkan sebagian kisah keluarga kami.

*****

Di puncak atap, air hujan memaksa masuk melewati rabung, lalu jatuh menghunjam lantai semen. Percik air mengenai api berasap pekat dari lampu teplok tanpa semprong kaca di sudut ruangan. Ada desis serupa dengan suara kentut yang tertahan.

Di kampung ini, tanpa hujan dan angin pun, listrik tak perlu permisi untuk padam. Sesukanya. Berapa lama? Sesukanya. Sampai gayung plastik bertangkai menyentuh dasar bak di kamar mandi pun, listrik belum kunjung menyala.

Ketika aku SMP, dalam keremangan yang sama seperti sekarang, Bapak kerap menyampaikan petuahnya kepadaku. Bapak menganggapku sebagai sosok laki-laki yang mulai tumbuh dewasa, tak seperti dahulu yang hanya bisa tertawa menanggapi cerita Ibu saat berada di dalam buaian.

“Kamu tau, Nak … ada banyak orang yang berusaha mati-matian mengejar surga. Tapi sayangnya, mereka melupakan surga yang ada di hadapannya, yaitu ibu mereka.”

Aku menangkap pembicaraan Bapak dengan sangat serius. Setiap kata yang keluar dari lisannya penuh dengan makna.

“Surga, Nak, surga. Cuma itu balasan terbaik untuk anak yang memuliakan ibunya.” Tatapan Bapak begitu lekat ke arahku, berusaha memastikan bahwa aku memahami maksudnya. Kalimat tersebut terus diulangi sebelum aku mengangguk tanpa ragu.

Dalam keremangan itu pula, tak jauh dariku, Ibu duduk menekuri mushaf Al-Qur’an di atas rehal yang terbuat dari papan bekas. Bersisian dengan rehal, satu lampu teplok lainnya diletakkan di atas kaleng bekas biskuit agar posisinya lebih tinggi.

Wajah Ibu begitu teduh ketika bibirnya yang berwarna merah muda, basah oleh ayat-ayat nan agung. Lisannya pula yang pertama kali mengajarkan aku membaca kitab yang sama. Dengan menggunakan bambu yang telah diserut menyerupai pensil, jari-jari Ibu telaten menunjuk satu per satu huruf yang masih asing buatku.

Salah satu yang aku sukai dari wajah wanita yang telah melahirkanku, adalah sepasang ceruk di pipinya. Ketika Ibu tersenyum, semakin dalam dan kentara lesungnya.

Kata Bapak, tanda di pipi Ibu mengalahkan manisnya martabak bangka yang dijual di pasar. Lesung pipi itu pula yang menjadi salah satu alasan Bapak menikahi Ibu meski baru dua kali bertemu, tanpa pacaran. Menurut Bapak, orang-orang dahulu tanpa pacaran pun bisa memiliki selusin anak. Sontak saja kalimat tersebut membuatku tertawa.

Namun, di balik wajah cantiknya, ada hal lain yang membuatku nyeri. Aku melihat lubang kecil pada telinga Ibu tanpa bandul berkilau yang menghiasi.

“Oh, ini … lubangnya sudah Ibu kasih lidi biar tak menyatu lagi.”

Ada desir yang menjalari tubuhku ketika meraba lubang itu. Aku bisa merasakan lidi nyata ada di sana, menggantikan anting-anting.

Rasa bersalah menggayutiku. Sepekan sebelumnya, aku mengadukan kondisi sepatu sekolahku yang tanpa malu mempertontonkan jari-jari kaki yang terbungkus kaus kaki putih. Sol pun serupa kuda nil yang menguap di dalam kubangan.

Kuat dugaanku bahwa anting-anting Ibu dijual untuk membeli sepatu baruku. Sejak itu, aku bertekad akan membelikan anting-anting yang lebih indah dari yang pernah dimiliki Ibu, kelak ketika aku sudah bekerja. Pun dengan dasternya yang sudah memiliki banyak lubang, aku ingin menggantinya dengan yang baru.

*****

Dinding rumah ini terbuat dari papan. Bilah-bilahnya disusun bertumpuk serupa sisik ikan. Papan yang tak diketam memamerkan serat kayu yang berserabutan.

Cat putih yang terbuat dari bubuk batu kapur dikuaskan untuk menghadirkan kesan indah pada bilah-bilah papan. Ya, setidaknya warna putih itu bisa untuk mengelabui mata, betapa kasarnya dinding kayu rumah kami. Namun sayang, warna putih kapur akan melekat pada pakaian berwarna hitam setelah punggung bersandar.

Pada dinding bagian atas, air hujan meninggalkan bekas berwarna kecokelatan mirip peta buta. Bekasnya tak memudar meski berbilang waktu terlewati.

“Sejak kamu menolak keras permintaan Ibumu, Bapak lebih sering melihatnya melamun.” Bapak meraih cangkir kaleng bermotif lurik hijau berisi kopi di depannya, kemudian menyeruput. Terasa begitu dalam suara yang menyertai saat minuman panas itu mulai bersentuhan dengan bibir Bapak.

Kopi dan cangkir lurik hijau, bukanlah sekadar tentang ritual menghangatkan tubuh. Pada cangkir kaleng berukuran besar itu, melekat cinta seorang wanita. Bukan pula tentang pahit dan manis yang bercampur menjadi satu dalam kepekatan air berwarna hitam, tetapi tentang rasa yang terikat dari dua hati anak manusia.

“Kalau bukan karena bantuan uwakmu, rasa-rasanya tak mungkin kami bisa nguliahkanmu, Pilar.”

Dengan berat hati, aku harus mendengar kembali penjelasan itu.

Bekerja sebagai seorang petani dengan sepetak kebun, Bapak sudah sangat bersyukur bisa menghadirkan makanan untuk kami. Ketika SMP, tak jarang aku harus menangguhkan pembayaran uang sekolah. Namun mengherankan, Bapak dan Ibu begitu bersemangat agar aku melanjutkan sekolah ke kota, berikutnya kuliah.

Saat aku menanyakan dari mana mereka akan mendapatkan uang, aku hanya menemukan jawaban bahwa semua biaya biarlah menjadi urusan mereka. Bapak dan Ibu hanya memintaku agar fokus belajar.

Setelah semua terlewati, kemudian aku pun mendapatkan pekerjaan yang baik, barulah Ibu menyampaikan keinginannya. Permintaan Ibu berawal dari kerabat jauh kami, yang biasa aku sebut dengan panggilan ‘Uwak’, berniat menjodohkan aku dengan putrinya. Ibu menyambut permintaan Uwak dengan sukacita. Mungkin dengan cara itu, Ibu bisa membalas kebaikan mereka.

“Kenapa Ibu tak tanya dulu sama Pilar?!” ucapku ketika itu dengan meninggikan suara. “Pilar mau fokus kerja dulu, Bu. Jangan paksa Pilar!”

Aku bisa melihat dua ceruk di wajah Ibu tenggelam sekita setelah mendengar jawabanku. Ibu tertunduk seperti seorang anak kecil yang sedang dimarahi. Dari sudut matanya, ada bulatan bening yang perlahan jatuh, meninggalkan bekas seperti garis tak lurus mengikuti bentuk pipi.

Saat itu, sesungguhnya aku menyadari telah melakukan satu kesalahan besar dalam hidup. Bahkan, ketika air mata Ibu masih tergenang di sudut mata.

Namun sayang, aku telah membagi cintaku dengan porsi yang jauh lebih besar untuk wanita lain. Cinta yang dibumbui janji-janji telah mengaburkan mata dan kewarasan dengan embel-embel kesetiaan. Seorang wanita yang kukenal ketika kuliah telah membuatku lupa kepada sosok yang pertama kali mengenalkanku dengan bahasa cinta, yaitu Ibu.

Apa yang telah aku ucapkan kepada Ibu, tak lebih hanyalah alasan semata.

Tepat di bawah pintu depan, lantai semen serupa dengan kerak nasi di dalam priuk yang terendam air. Batu-batu kerikil berlomba-lomba memperlihatkan rupa, mungkin mereka lelah selama ini tertimbun di bawah. Sejak aku meninggalkan rumah lebih dari satu tahun yang lalu, lantai itu belum juga diperbaiki.

Sama halnya dengan lantai itu, langit-langit, dinding papan, dan anting-anting Ibu yang pernah aku janjikan, sampai detik ini tak terwujud. Begitu pula dengan daster, tak ada selembar pun yang sanggup aku hadiahkan untuk Ibu. Semua kalimat manis tentang gaji pertama yang akan aku persembahkan untuk orang tua, menguap tak bersisa.

Dengan meminjam handphone tetangga, Ibu masih berusaha membujukku. Ibu berharap, dengan suara yang mengiba dari jauh, bisa meluluhkan hati anaknya. Namun sayang, permohonannya membuatku semakin mantap untuk menjauh.

Lebih dari satu tahun, aku tak mempunyai keinginan untuk pulang dan menginjakkan kaki di rumah ini. Bagiku, semua tetap terasa indah bersama sosok yang didambakan akan menjadi teman hidup.

Seharusnya, wanita itulah yang menginjakkan kakinya di lantai rumah ini, lalu mencium tangan Ibu saat aku mengenalkannya. Sayangnya, rasa berutang budi Ibu telah menguburkan mimpi-mimpiku.

“Pulanglah, Nak, Ibu rindu.” Bahkan, saat kalimat itu diucapkan dengan suara yang lemah dan bergetar sebulan yang lalu, aku hanya membisu. Bujukan Ibu sudah sangat sering, meskipun kali ini terdengar berbeda. Aku pun berharap Ibu segera menutup handphone dan menyudahi pembicaraan.

Aku lupa dengan satu petuah dari Bapak ketika kecil dulu. “Sekali kamu sakiti hati Ibumu, Allah pasti menyegerakan balasannya buatmu. Ingat itu baik-baik!”

Sepekan yang lalu, aku harus menerima kenyataan pahit. Dia, wanita yang aku gadang-gadang akan menjadi pendampingku, yang padanya kusematkan berbagai sanjungan dan pujian, harus mengalami hal yang sama denganku dulu. Dia dijodohkan. Namun, ada yang membuatnya berbeda, wanita itu menerima permintaan orang tuanya.

“Cukuplah seorang ibu yang menangis karena kita, Mas. Jangan sampai seorang ibu yang lainnya terluka. Kita sudah banyak berdosa.”

Alasan yang aku dengar darinya sangat menohok, menyakitkan, tetapi juga menyadarkanku dari suatu kesalahan. Seharusnya aku menguatkan genggaman cinta yang sudah didapatkan sejak kecil. Kehadiran seorang wanita lain dalam hidupku semestinya semakin membuat cintaku kepada wanita yang telah melahirkanku bertambah, bukan berkurang, atau bahkan menghilang.

Aku pun kembali ke rumah ini, berharap bisa memeluk wanita yang menjadi cinta pertamaku dan mengobati luka yang pernah kutorehkan.

“Andai saja kamu pulang sewaktu Ibumu memintanya, mungkin kamu masih bisa bertemu dengannya, Nak.” Bapak kembali menyeruput kopi di dalam cangkir kaleng itu.

Tepat saat azan magrib tadi, aku tiba di rumah ini. Namun, aku tak lagi mencium wangi dari wanita yang menjadi pintu surgaku. Ibu telah pergi beberapa hari setelah memintaku kembali terakhir kalinya. Tak ada yang mengabariku tentang itu.

Aku terlambat mengakui dosa di hadapan Ibu. Aku telah mengorbankan cinta dari seorang wanita yang berdarah-darah demi hidupku, hanya untuk seorang wanita yang akhirnya juga meninggalkanku.

Pada akhirnya, aku pun memahami bahwa cinta tidaklah melulu tentang pengorbanan dan kesetiaan, tetapi cinta juga bercerita tentang atas dasar apa ia tumbuh hingga layak diperjuangkan.

 

Oleh : Fahmi Nurdian Syah (Penulis Muda)

Tulisan Terkait: