3 Rekomendasi Wisata Religi Nganjuk, Wajib Anda Kunjungi

Budaya1006 Dilihat

Mudabicara.com_ Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu kabupaten yang ada di provinsi Jawa Timur. Secara geografis kabupaten ini diapit oleh dua gunung tinggi yakni gunung Wilis dan Gunung Arjuno.

Oleh sebab itu, Kabupaten Nganjuk terkenal dengan sebutan Kota Angin sebab saat pergantian musim hujan ke musim kemarau angin akan berhembus kencang di tempat ini.

Selain keunikan sebagai Kota Angin, tahukah sahabat mudabicara kalau ini juga terdapat banyak tempat wisata religi. Rasanya tak lengkap bila berkunjung ke Nganjuk namun tak menyempatkan waktu untuk mengunjunginya. Penasarankan!, lebih lengkapnya baca artikel berikut ini:

BACA JUGA : Ini 3 Destinasi Wisata Religi Kota Madiun, Wajib Anda Kunjungi!

3 Rekomendasi Wisata Religi Nganjuk

1. Makam Syekh Sulukhi

Salah satu tempat wisata religi Nganjuk adalah Makam Syekh Sulukhi.  Lokasi makam Syekh Sulukhi terbilang unik karena berada persis di perbatasan kabupaten Nganjuk dan kabupaten Madiun. Tepatnya di Kecamatan Wilangan, Kabupaten Nganjuk.

Makam Syekh Sulukhi persis di timur aliran sungai yang menjadi pembatas antar kabupaten. Bila berkunjung ke Nganjuk tak ada salahnya untuk berziarah dan melakukan wisata religi ke makam Syekh Sulukhi.

Wisata Religi Nganjuk

Lalu Siapa Sebenarnya Syekh Sulukhi?

Menurut data yang dilansir dari nuganjuk.com Syekh Sulukhi adalah seorang putra dari Raja Brawijaya V kerajaan Majapahit. Nama aslinya adalah Suryo Kusumo. Ia termasuk saudara dari Raden Patah, Demak dan Bathoro Katong, Ponorogo.

Sepanjang hidupnya Suryo Kusumo pernah menjadi seorang Bupati Mbarat, yang sekarang lebih dikenal dengan kecamatan Purwodadi . Kecamatan ini sekarang terletak di Kabupaten Magetan.

Dalam sejarah peradaban islam Jawa, Syekh Sulukhi adalah salah satu tokoh yang bertugas mencari material saat pembangunan masjid Demak sekaligus berdakwah.

Dalam menjalankan tugasnya Syekh Sulukhi ditemani oleh Tumenggung Singo Lawean, Demang Sukaten , Abdul Sa’i, Yusak dan Jalal Abdulsari.

BACA JUGA : Ini 3 Wisata Religi Pacitan, Wajib Anda Kunjungi

Metode yang digunakan adalah metode lampah sulukh yatu menempuh perjalanan hanya untuk Allah SWT.  Cara lampah suluk ini yang membuat dirinya dikenal sebagai Syekh Sulukhi oleh santri-santrinya.

Konon di area makam inilah Syekh Sulukhi menjalankan tugas untuk mengirim perbekalan ke Raden Fatah. Jumlahnya perbekalan yang dikirim pun tak terbatas. Oleh sebab itu, desa ini bernama Wilangan yang berarti tak terbatas.

Konon setelah Syekh Sulukhi meninggal sungai yang awalnya mengalir di timur makam kemudian berpindah ke barat makam. Syekh Sulukhi seorang ulama pribumi penyebar agama islam di tanah Nganjuk.

2. Makam Kanjeng Jimat

Sosok tokoh Kanjeng Jimat ternyata tidak hanya di Kabupaten Trenggalek namun juga ada di kabupaten Nganjuk. Sama seperti Kabupaten Trenggalek, sosok Kanjeng Jimat yang ada di Kabupaten Nganjuk juga sebagai sosok Bupati pertama Kabupaten Nganjuk.

Kanjeng Jimat bernama asli Raden Tumenggung Sosro Kusumo. Ia merupakan salah satu Tumenggung dari kerajaan Mataram Islam.

Selain itu, ia adalah ulama yang turut berperan dalam penyebaran islam di Wilayah Kota Angin dan sekitarnya semasa Kerajaan Mataram Islam.

Lokasi makam Kanjeng Jimat berada di Jl. May Jend. Supeno No.76, Gerekan, Kacangan, Kec. Berbek, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Tepatnya di sebelah barat Masjid Al Mubarok. Bila dari pusat kota kurang lebih 9 kilometer.

BACA JUGA : 3 Rekomendasi Wisata Religi Trenggalek, Wajib Anda Kunjungi

Menurut catatan sejarah Kanjeng Jimat meninggal pada tahun 1766. Bila berziarah ke makam tokoh Kanjeng Jimat maka pengunjung akan melihat dua patung macan putih.

Wisata Religi Nganjuk

Macan putih adalah salah satu hewan peliharaan Kanjeng Jimat yang menemaninya saat menyebarkan ajaran islam di wilayah nganjuk dan sekitarnya.

Ada beberapa simbolisasi yang perlu dimengerti oleh pengunjung saat berziarah ke Makam yaitu desain pintu masuk yang pendek. Arti pintu masuk pendek adalah memberi pesan kepada seluruh pengunjung agar menundukan kepala saat akan masuk area pemakaman.

Selain itu, makam Kanjeng Jimat terdapat tiga payung bersusun tiga dengan warna kuning keemasan di satu sisi pusara dan balutan kain berwarnai hijau dengan kombinasi kain kuning keemasan. Di samping itu ada kelambu berukuran 3,4 meter dengan kerangka berbahan kayu jati dengan tinggi 2 meter.

Bila berkunjung dan mencermati dari sisi timur maka akan terlihat tulisan Jawa dan Arab berbunyi  “Puniko Pesarean Kanjeng Ratu Toemenggung Sosro Kusumo”.

Di komplek makam juga terdapat makam bupati Bupati Nganjuk kedua yakni Raden Tumenggung Sosrodirjo yang tak lain adalah adik dari Kanjeng Jimat.

Lalu Siapa Sebenarnya Kanjeng Jimat?

Raden Tumenggung Sosro Kusumo alias Kanjeng Jimat adalah sosok kharismatik yang memiliki kemampuan dalam bidang kepemimpinan sekaligus ilmu agama yang berasal dari daerah Grobogan Jawa Tengah

Ia merupakan salah satu putra menantu dari Sultan Agung Mataram. Pada tahun 1745 ia menjadi bupati di Kota Tayo Merah yang kemudian berubah menjadi Kabupaten Berbek.

Paska runtuhnya kerajaan Majapahit atas serangan Kerajaan Demak, Kanjeng Jimat bertugas menyebarkan ajaran Islam di wilayah Kabupaten Nganjuk dan sekitarnya.

BACA JUGA : 3 Destinasi Wisata Religi Ponorogo yang wajib dikunjungi

Pasca peperangan para penduduk yang masih menganut ajaran Hindu melarikan diri keberbagai wilayah salah satunya adalah wilayah Nganjuk, wilayah Tengger Bromo dan lereng gunung Wilis.

Oleh karena itu, cara Kajeng Jimat menyebarkab ajaran islam di wilayah Nganjuk dengan proses akulturasi yaitu perpaduan budaya dan agama. Hal itu bertujuan agar masyarakat secara perlahan dapat menerima ajaran islam dan tidak terkesan memaksa.

Selain itu, Kanjeng Jimat memiliki kedermawanan tinggi baik pada orang yang mau memeluk islam maupun orang yang tetap mempertahankan ajaran Hindu. Hal itu terbukti dari pemberian sebidang tanah untuk dijadikan tempat ibadah dan memberikan hak untuk membuka lahan bagi para penganut Hindu.

Kini bila ke Kabupaten Nganjuk Jangan lupa berwisata religi ke tokoh penyebar Islam di Kabupaten Ini.

3. Masjid Al-Mubarok Berbek

Bila berkunjung ke makam kiai Kanjeng Jimat maka secara bersama akan akan mengunjungi Masjid Al-Mubarok. Sebab Masjid Al-Mubarok adalalah salah satu masjid tertua di Kabupaten Nganjuk yang pendirinya tak lain adalah Kanjeng Jimat sendiri.

Setelah visi penyebaran islam secara perlahan menuai hasil maka secara otomatis Kajeng Jimat membutuhka tempat ibadah yang lebih luas. Oleh karena itu, Kanjeng Jimat mewakafkan tanahnya untuk di bangun Masjid Al-Mubarok.

Konon Masjid Al-Mubarok adalah masjid tertua di Kabupaten Berbek yang sekarang kita kenal sebagai Kabupaten Nganjuk.

BACA JUGA : 10 Manfaat Belajar Sastra Jawa untuk Anak Muda

Secara arsitektur beberapa ornamen Masjid Al-Mubarok masih asli sehingga umurnya sudah ratusan tahun. Misalnya kayu jati kurang lebih sudah dari tahun 1758 sedangkan beduk pada tahun 1759 dan Atap Ijuk pada tahun 1760.

Nah selain itu dulu ada namanya Batu Yoni. Batu Yoni dalam bahasa jawa adalah batu ungkal, sebuah batu yang digunakan untuk mengasah sejata atau pun besi.

Bila berkunjung ke Kabupaten Nganjuk tak ada salahnya menyempatkan diri untuk merasakan wisata religi Nganjuk sekaligus tadabur alam. Sampai jumpa di tempat wisata regili lainnya!

 

Tulisan Terkait: