Mudabicara.com_ Setiap tanggal 8 Maret, para warga dunia maya selalu disambut oleh Google Doodle dalam perayaan Hari Perempuan Sedunia. Setiap tahunnya Google juga merayakan Hari Perempuan Sedunia dengan bentuk doodle yang berbeda-beda dari tahun ke tahun.

Setiap perayaan-perayaan yang kita rayakan tentu mempunyai latar belakang sejarah yang cukup panjang dan meninggalkan jejak yang sangat penting bagi generasi berikutnya. Berikut merupakan sejarah singkat hari perempuan internasional.

BACA JUGA : SIMPANG LIMA SENEN DAN KEARIFAN LOKAL BETAWI 

Hari Perempuan Internasional

Hari Perempuan Internasional diperingati setiap tanggal 8 Maret. Penetapan tanggal ini tentu melalui proses yang panjang kurang lebih sudah dari 100 tahun lalu. Peringatan Hari Perempuan Nasional pertama kali dirayakan pada 28 Februari 1909 di New York, Amerika Serikat.

Agenda ini di inisiasi oleh Partai Sosialis Amerika Serikat. Pada tahun 1910 organisasi sosialis internasional berkumpul di Copanheagen untuk menetapkan hari perempuan. Usul ini disepakati oleh 100 perempuan dari 17 negara.

Namun pada pertemuan ini, belum ada penetapan terkait tanggal untuk memperingati hari perempuan. Tahun berikutnya Hari Perempuan Internasional selalu pada 19 Maret.

Negara-negara yang memperingati hari perempuan antara lain Austria, Jerman, Swiss dan Denmark.Lebih dari 1 juta perempuan serta laki-laki ikut aktif terlibat dalam peringatan hari perempuan tersebut.

Pada kurun waktu 1913-1914, hari perempuan internasional berguna sebagai bentuk penolakan terhadap Perang Dunia Pertama.

Di sejumlah negara Eropa, Hari Perempuan Internasional menjadi medium untuk memprotes perang dunia sekaligus bentuk solidaritas sesama wanita. Pada tahun 1917 para perempuan Rusia memprotes perang dengan gerakan bertajuk roti dan perdamian.

Hari tersebut bertepatan pada tanggal 8 Maret pada kalender Masehi. Sampai akhirnya pada tahun 1975 untuk pertama kalinya PBB memperingati Hari Perempuan Internasional yang jatuh pada 8 maret. Sejak saat itulah 8 Maret menjadi Hari Perempuan Internasional.

Memilih Untuk Menantang

Pada perayaan Hari Perempuan Internasional tahun 2021 mengangkat tema Choose to Challenge atau “Memilih untuk Menantang”.

Tema ini sebagai bentuk tantangan bagi setiap warga negara dunia untuk ikut aktif menyerukan tentang bias ketidaksetaraan gender serta apresiasi atas pencapaian perempuan.

BACA JUGA : PEMUDA JATIM HARUS BERSINERGI MENCIPTAKAN POLITIK KEADABAN 

Setiap zaman akan selalu melahirkan sosok pahlawan bagi zaman tersebut. Selain itu setiap wilayah baik negara, kota, desa atau wilayah-wilayah lainnya juga memiliki seorang pahlawan.

Di era sejarah India, kita mungkin dapat mengenal dan mencontoh perjuangan Bunda Teresa.Selain di India, negara kita juga memiliki seorang pahlawan yang kita kenal dengan sebutan “Ibu Kartini”.

Di era modern juga ada begitu banyak perempuan yang aktif mengangkat harga diri dan martabat perempuan.

Puan Maharani menunjukkan keberhasilannya dalam bidang politik karena berhasil mengukir sejarah sebagai wanita pertama yang menjadi Ketua Umum DPR RI.

Najwa Shihab berhasil mengukir prestasi dalam bidang jurnalistik dan masih banyak tokoh-tokoh lainnya yang berhasil mengangkat harga diri dan martabat perempuan.

Selain tokoh-tokoh di atas, beberapa hari yang lalu warga negara dunia khususnya warga negara Myanmar juga kehilangan sosok pahlawan.

Seperti yang kita ketahui, situasi politik di Myanmar memang sedang memanas. Kejadian ini merupakan akibat dari kudeta militer Myanmar serta penangkapan  Aung San Suu Kyi.

Utusan khusus sekjen PBB untuk Myanmar, Christine Schraner Burgener mengatakan hari rabu adalah hari yang paling berdarah. Dia mengatakan bahwa ada sekitar 50 orang yang telah tewas dalam peristiwa tersebut.

Mengenang Kyal Sin

Di balik peristiwa yang mencekam tersebut, warga negara Myanmar juga kehilangan seorang wanita muda yang turut aktif dalam perjuangan kedaulatan Myanmar. Wanita tersebut bernama Angerl atau lebih terkenal dengan nama Kyal Sin.

BACA JUGA : MEMBACA PUISI-PUISI LINUS SURYADI AG 

Sin tewas tertembak di kepala dalam unjuk rasa di jalanan kota Mandalay pada hari Rabu (3Maret). Ia merupakan seorang gadis yang masih berusia 19 tahun.

Kyal Sin adalah anak satu-satunya dan memang terkenal sebagai seorang wanita yang pemberani.

Seorang sahabat Sin bernama Myat Thu mengatakan bahwa Angel merupakan seorang penari dan juara taekwondo.

Myat juga mengatakan bahwa Angel selalu berupaya melindungi demonstran lainnya, bahkan dia selalu mengingatkan para demonstran agar menunduk ketika polisi melepas tembakan.

Selain seorang yang pemberani, cantik dan juga patriotik hal yang membuat banyak pihak semakin emosional ketika melihat perjuangan Angel adalah dia mati tertembak sambil memakai kaos yang bertuliskan “Everything will be Ok”.

Hal yang paling luar biasa dari perjuangan Angel adalah dia juga sempat meminta para demonstran agar mendonasikan organ tubuhnya jika dia meninggal.

Bukan satu kebetulan kepergian Angel yang juga dekat dengan hari perempuan internasional. selain itu, tema yang diusung pada hari perempuan internasional tahun ini adalah  “Choose to challenge”.

Angel telah menjadi pahlawan bagi negara, kota dan zamannya. Semoga akan semakin banyak lagi para Angels yang baru. Dunia kita sedang dalam masa krisis karena masih hidup “bertentangan” dengan wabah pandemi COVID-19.

Semoga dengan adanya peringatan hari perempuan sedunia ini dan juga peristiwa-peristiwa yang semakin mencekam akan dibarengi dengan lahirnya para Angels yang baru.

 

Oleh : Julyakin Sembiring (Anggota Ruang Internasional, Mahasiswa HI UKI)