Kejayaan Industri Heroin Di Asia Tenggara

Indepth462 Dilihat

Mudabicara.com_ Kejayaan Industri heroin di Asia Tenggara dapat dianalisis dari pola perdangangan yang terjadi secara masif dan transnasional pada akhir tahun 1969 hingga awal 1970-an. Para prajurit militer AS di Saigon mulai kecanduan opium dan mulai mendapatkan akses suplai heroin.

Hingga pada bulan September-Oktober 1971, epidemi ini berkembang secara luas, terbukti dengan jumlah heroin yang tidak terbatas tersedia di setiap instalasi AS dari Delta sungai Mekong di selatan hingga DMZ di utara.

BACA JUGA : PETA POLITIK PERDAGANGAN HEROIN 

Lalu Lintas Narkotika Segitiga Emas

Dalam analisis CIA di tahun 1971 tentang lalu lintas narkotika di Segitiga Emas melaporkan bahwa terdapat tujuh pabrik heroin berskala besar.

Pabrik-Pabrik itu terletak di utara Ban Houei Sai, Laos, dengan kemampuan produksi sekitar 100 kilo opium mentah per hari.

Dengan kata lain, pabrik ini mampu memproduksi 3,6 ton heroin per tahun. Menurut data analisis CIA mengidentifikasi bahwa 21 kilang opium di wilayah perbatasan Burma, Thailand, dan Laos.

Sedangkan tujuh di antaranya mampu menghasilkan 90 hingga 99 persen heroin kualitas tinggi no. 4. Dari tujuh kilang heroin ini, yang paling penting terletak di daerah sekitar Tachilek, Burma, Ban Houei Sai dan Nam Keung di Laos, dan Mae Salong di Thailand.

BACA JUGA : GENEALOGI HEROIN DI ASIA TENGGARA

Awal mula proses produksi heroin sebenarnya dengan kualitas rendah dan murah dengan kode heroin no. 3 3 dengan tingkat kemurnian 3 sampai 6 persen.Hal itu bermula pada akhir 1950an ketika pemerintah Thailand meluncurkan kampanye penolakan terhadap opium secara intensif.

Kampanye penolakan ini menjadi proses awal beralihnya sebagian besar pengguna opium ke produk heroin. Pada awal 1960-an, heroin diproduksi dalam jumlah besar dan disempurnakan di Bangkok dan Thailand utara.

Sedangkan produksi morfin dalam jumlah besar mulai berkembang di kawasan Segitiga Emas untuk diekspor ke Hong Kong dan Eropa.

Namun untuk menghasilkan heroin berkualitas tinggi no.4 dengan presentase kemurnian 90 hingga 99 persen membutuhkan ahli opium yang menguasai teknik yang diperlukan.

BACA JUGA : SISTEM POLITIK TOTALITER, PENGERTIAN, MACAM DAN CIRI-CIRINYA

Oleh karena itu, didatangkanlah ahli kimia dari Hong Kong untuk memproduksi pasokan heroin tingkat tinggi terbatas untuk puluhan ribu GI di Vietnam Selatan.

Dampak Ekonomi Bisnis Heroin

Dampak ekonomisnya tentu saja cukup menggiurkan. Hasil dari kegiatan ekspor ini menyebabkan harga grosir untuk satu kilo heroin murni no. 4 melonjak hingga 44 persen. Awalnya berharga 1.240 USD pada September 1970 menjadi 1.780 USD pada April 1971 .

Sehingga, pertumbuhan ekspor yang cepat ke Amerika Serikat juga berdampak signifikan terhadap lompatan dramatis harga opium mentah di Segitiga Emas.

Menurut antropolog Amerika Serikat yang menghabiskan beberapa tahun mempelajari suku-suku di Thailand utara juga melaporkan bahwa di antara tahun 1968 dan awal 1970 harga opium mentah di desa penghasil melonjak hampir dua kali lipat dari 24 USD menjadi 45 USD per kilogram.

BACA JUGA : SISTEM POLITIK, PENGERTIAN DAN MACAM-MACAMNYA 

Namun, terjadinya penarikan pasukan AS di Vietnam pada tahun 1970 hingga 1972 memberikan dampak pada berkurangnya konsumen lokal akan heroin.

Sedangkan jumlah produksi heroin kian meningkat di kawasan golden triangle. Kondisi ini pada akhirnya membuat para pedagang ini harus memutar otak untuk memperluas pasar.

Oleh karenanya, sindikat pedagang Tiongkok, Korsika, dan Amerika mulai melakukan pengiriman massal heroin kualitas nomor 4 langsung ke Amerika Serikat.

Dengan melihat realitas di atas, maka kesimpulannya adalah berjayanya industri heroin di Asia Tenggara menjadi mesin baru ekonomi domestik. Terutama pada kawasan segitiga emas.

 

Oleh : Maulina (Peneliti)

Tulisan Terkait: