Mudabicara.com_Menristekdikti Mohamad Nasir saat memberikan Kuliah Umum di kampus Universitas Borneo Tarakan (UBT) mengungkapkan bahwa jumlah Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia saat ini sebanyak 4.498 dengan 25.548 program studi.

BACA JUGA : DIPIMPIN REKTOR PLAGIAT KARYA ILMIAH, UHO KENDARI MINIM PRESTASI 

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) terdapat 125 PT yaitu Universitas negeri  4, Institut negeri 1, Universitas swasta 18, Institut swasta 4, Sekolah Tinggi 42, Akademi 48 dan Politeknik 8.

Fenomena Wisuda

Pada tahun akademik 2020/2021, pada sepuluh PT besar diperkirakan ada sekitar 246.839 mahasiswa. Universitas Gajah Mada 56.087 orang, Universitas Negeri Yogyakarta 29.983 orang, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta 29.335 orang, Universitas Islam Indonesia 28.392 orang.

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga 21.629 orang, Universitas Ahmad Dahlan 29.825 orang, Universitas Sanada Dharma 13.089 orang, Universitas Atma Jaya 11.869 orang, Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa  12.737 orang dan Universitas AMIKOM 13.893 orang.

Pada tahun 2020, periode I UGM mewisuda 5.820 orang, UNY periode II sebanyak 810 wisudawan/ti, UMY pada bulan Desember 1.111 wisudawan/ti.

UII pada periode III diikuti sebanyak 741 wisudawan/ti, UIN Sunan Kalijaga periode III diikuti sebanyak 596 wisudawan/ti. UAD pada bulan Agustus mewisuda  1.581 lulusan periode Maret-Juli, USD pada periode II mewisuda 798 orang.

UAJ pada periode I Tahun Akademik 2020/2021 mewisuda 527 sarjana, UST mewisuda   921 orang dan Universitas Amikom periode I mewisuda 298 sarjana.  Jumlahnya mencapai 13.203 sarjana baru.

BACA JUGA : 10 MANFAAT BELAJAR FILSAFAT UNTUK ANAK MUDA 

Rata-rata PT di DIY mewisuda sarjana antara 2 sampai 4 periode pertahun. Jika yang kita gunakan sebagai sample 2 periode saja, maka jumlahnya 26.206.

Dari jumlah ini, D-IV atau non tesis sekitar 20% (5.252) dan yang menyusun tesis/skripsi sekitar 20.954 mahasiswa. Pertanyaanya, bagaimanakah menjamin validitas data lapangan yang dikumpulkan mahasiswa untuk penulisan tesis/skripsi mereka?.

Validitas Data Penelitian

Pertanyaan ini muncul setelah menelaah kembali pengalaman melayani mahasiswa yang melakukan penelitian di tempat bertugas untuk penulisan tesis atau skripsi mereka. Selama lebih 20 tahun telah melayani lebih 25 mahasiswa S1, beberapa S2 dan meninggalkan pengalaman yang berbeda-beda.

BACA JUGA : ANIES: MEMBANGUN PERADABAN LEWAT JALAN RAYA

Setiap mahasiswa yang akan meneliti, selalu berjanji untuk menyerahkan satu eksemplar tesis atau skripsi setelah selesai diuji.

Bagi tempat penelitian, tesis atau skripsi tersebut untuk dijadikan masukan atas saran untuk dapat meningkatkan kualitas program atau memperbaiki kelamahan yang ada di dalamnya. Tetapi pada kenyataannya, tidak sampai 50% mahasiswa peneliti yang mewujudkan janjinya itu.

Selesai penelitian, maka selesai pula komunikasi yang pernah dibangunnya dengan penuh kerendahan hati.

Kenyataan lain, ada mahasiswa yang tingkat penguasaan metodologi penelitian sangat rendah dan kalau ditanya hanya dapat menjawab metode pengumpulan data dengan wawancara dan angket.

Tentang bagaimana menetapkan sample, penelitian populatif atau sampling dan aspek lainnya, tidak dapat dijelaskan dengan baik. Di antara peneliti itu, bahkan ada yang datang hanya sekali saja, setelah itu dianggap selesai dan data yang dibutuhkan dianggap cukup.

Terlepas dari berbagai hal tersebut di atas, tim penguji tesis atau skripsi di Fakultasnya, dipastikan mayoritas diantara mereka tidak akan mengetahui jika ada data yang sesungguhnya tidak berasal dari sumber data dan lokasi penelitian. Boleh jadi data itu ditambah sendiri oleh peneliti untuk menggiring agar dapat menjawab rumusan masalah penelitiannya. Inilah yang menyesatkan.

Kita meyakini tidak semua peneliti (mahasiswa) berperilaku seperti itu, tetapi berdasarkan pengalaman, ditemukan data “buatan” di dalam tesis/skripsi yang sudah diuji dan disahkan. Asumsi lanjut dapat disandangkan pada peneliti yang hanya datang sekali atau dua-tiga kali saja ke lokasi penelitian.

Kemungkinan besar data yang terkumpul belum tercukupi, karena hanya sebentar berada di tempat penelitian dengan alasan harus ke kampus atau alasan lainnya, tetapi mereka menganggapnya cukup.

Fenomena ini dapat disikapi dengan menjawab dua pertanyaan. Pertama, dalam penelitian mahasiswa untuk kepentingan penulisan tesis/skripsi, perlukah unsur validitas data yang dapat dipertanggungjawabkan?

Jika tidak dan yang penting mahasiswa dapat menyelesaikan studi dengan cepat dan menyusun karya ilmiah untuk memperoleh gelar sarjana, maka persoalannya selesai. Namun jika data yang dikumpulkan harus memiliki validitas yang tinggi, muncul pertanyaan

kedua, bagaimanakah caranya bahwa data yang dikumpulkan terjamin validitasnya?.

Diantara langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk meraih validitas data yang tinggi, Fakultas atau pengelola prodi dapat mengkonfirmasikan data yang dikumpulkan mahasiswa peneliti ke lembaga lokasi penelitian.

BACA JUGA : TANTANGAN TATA KELOLA TENAGA KERJA INDONESIA 

Dalam hal ini, Fakultas atau panitia ujian mengirimkan tesis/skripsi yang sudah ditulis atau disusun oleh peneliti sebelum diuji untuk dicocokkan data pada sumbernya. Atau cara lain yang dapat ditempuh untuk memberikan kesempatan kepada sumber data untuk ikut mengoreksi data yang diberikannya.

Cara lainnya yang dapat dilakukan untuk validasi data adalah menghadirkan perwakilan sumber data saat ujian tesis/skripsi yang di selenggarakan Fakultas. Atau dapat juga, pihak Fakultas atau pengelola prodi mengirimkan wakilnya atau bahkan mungkin calon pengujinya ke lokasi penelitian untuk melakukan riset validasi data tesis/skripsi yang akan diujikannya.

Pengiriman tesis/skripsi yang siap diujikan ke sumber data untuk maksud validasi, dapat dilakukan untuk lokasi penelitian berada jauh di luar DIY atau juga di dalam DIY.

Tapi menghadirkan sumber data ke tempat ujian (pendadaran/munaqasyah) tesis/skripsi atau mengirimkan utusan untuk validitas data ke lapangan, hanya mungkin jika lokasi penelitian berada dalam jarak tempuh harian.

Ruwet dan repot memang, tapi hal ini untuk meluruskan jalan meraih gelar sarjana. Di samping itu, sifat penelitian harus dilakukan dengan benar, jujur dan memiliki validitas data yang tinggi sehingga hasil penelitiannya dapat dipertanggungjawabkan.

 

Penulis : Muslih Usa (Pemerhati Sosial Tinggal di Yogyakarta)