Mudabicara.com_Dalam bukunya yang terkenal, “The Structure of Scientific Revolutions” (1962), Thomas Kuhn berpendapat bahwa seseorang tak mungkin benar-benar netral dalam melihat sesuatu di dunia ini. Para ilmuwan termasuk mereka yang terjebak dalam apa yang oleh Kuhn disebut “Value-Laden” itu – ilmuwan tidak pernah benar-benar netral dalam melihat objek kajian. Mereka, ujar Kuhn, memang selalu membawa nilai-nilai ke dalam penelitian mereka, mulai dari saat memilih teori, metodologi, data, masalah penelitian, juga paradigma berpikir. Intinya, semua yang tampak pasti sarat nilai, tak ada yang benar-benar ‘’value-free’’.
Demikian halnya dengan Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), ormas Islam yang didirikan oleh PDI Perjuangan pada 29 Maret 2007, sebagai sayap partai yang dibentuk untuk mewadahi aspirasi dan menjembatani komunikasi partai dengan umat Islam Indonesia.
Bagi kalangan awam, Bamusi boleh saja dilihat sebagai wadah pergulatan pemikiran. Bagi sebagian akademisi yang telah menjadikan Bamusi objek kajian ilmiah mulai dari skripsi, tesis, sampai disertasi, sayap Islam PDI Perjuangan ini boleh saja dilihat dalam berbagai perspektif, mulai dari perspektif bahwa PDI Perjuangan bukanlah partai yang anti Islam terbukti dari didirikannya Bamusi, Bamusi menjadi bukti PDI Perjuangan sangat mendukung kebhinekaan, sampai pandangan bahwa Bamusi adalah magnet politik yang sengaja dibentuk untuk merangkul pemilih Muslim dalam setiap pemilu.
Baca Juga: Legislator Nasyirul Falah Bantah RUU Perampasan Aset Berubah Jadi RUU Perlindungan Aset
Semua pandangan itu sah-sah saja karena, seperti kata Kuhn, segala sesuatu yang terjadi di muka Bumi in tidak bebas nilai. Sejak awal teori ini menolak gagasan positivisme yang menyatakan ilmu harus objektif dan netral. Sebaliknya, teori ini menegaskan bahwa segala sesuatu tidak ada yang benar-benar murni atau lepas dari kepentingan, keyakinan, atau ideologi tertentu.
Bamusi kini resmi punya kepengurusan baru, setelah Ketua Umum PDI Perjuangan, Prof. Dr (HC) Megawati Soekarnoputri melantik jajaran pengurus ini pada Selasa, 11 Agustus 2026. Jika dilihat dari komposisi kepengurusan ormas ini, orang dengan mudah menilai DPP PDI Perjuangan bukan hanya omong kosong dalam mewujudkan rumah kebangsaan dengan menunjuk Nasyirul Falah Amru (Gus Falah) sebagai ketua umum yang baru. Sejak Bamusi berdiri, baru kali ini ormas ini memiliki ketua umum baru, setelah selama ini Bamusi selalu konsisten dipimpin mantan Ketua Umum MUI Sulawesi Selatan sekaligus mantan anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat, almarhum Prof. Dr. Hamka Hak.
DPP PDI Perjuangan tentu telah melakukan pertimbangan matang saat menunjuk Gus Falah sebagai ketua umum yang baru untuk Bamusi. Anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan ini lebih merupakan sosok yang menggambarkan kelompok Islam sarungan dan kelompok ‘’Ngaji Duduk’’. Jika ditelusuri lebih dalam dari buku ‘’Dinamika NU Ponorogo’’ (2020) karangan Imam Sayuti Farid, Gus Falah merupakan anak dari KH. Amru Al-Mu’tashim dan cucu dari KH. Mohammad Manhudi. KH. Manhudi punya 10 anak, masing-masing 1) Ky. Azhar, 2) Mohamad Akhyar, 3) Mohamad Masyhuri, 4) Ny. Maemunah, 5) Kyai Kholifah, 6) Muhamad Damanhuri, 7) Ny. Romlah, 8) KH. Amru Al-Mu’tashim, SH, 9) Ny. Zubaidah, dan 10) Ny. Hj. Shofiyatun. Semuanya lahir di Kedungdaton Lembeyan, Magetan, Jawa Timur. Dua dari 10 orang ini, yakni Mohamad Akhyar dan Mohamad Masyhuri, telah wafat di waktu kecil karena menjadi korban kekejaman PKI pada 1948.
Baca Juga: Staf Khusus Menag Gugun Dorong Penguatan SDM Lewat Pendidikan Berkualitas
Di tahun 1948 itu, pemberontakan PKI di Madiun meluas ke wilayah sekitar hingga Magetan, mengakibatkan terjadinya serangan dan penculikan sistematis terhadap para tokoh ulama serta santri. Salah satu target utama kebrutalan kelompok komunis tersebut adalah Pondok Pesantren di daerah Takeran, Magetan. Padahal, Gus Falah sendiri merupakan keluarga besar Pondok Pesantren Syekh Abdul Mursad Babadan, Ponorogo, binaan ayahnya, sekaligus keluarga besar Pondok Pesantren Kedung Daton, Magetan, Jawa Timur, binaan kakeknya.
Pasca pemberontakan PKI 1948 di Madiun, terjadi pagi pemberontakan PKI pada 1965 yang tak kalah mengerikan. Di Ponorogo, tempat tinggal Gus Falah, menurut cerita saksi dan algojo yang masih hidup, pembantaian terhadap ulama dan santri dilakukan di Jembatan Keyang, Kecamatan Jetis, Ponorogo. Di bawah jembatan itu, air sungai berwarna merah akibat darah. Tidak mengherankan jika di sungai Tempuran, yang merupakan titik temu semua aliran sungai, banyak ditemukan organ tubuh manusia, padahal jarak antara jembatan hingga hingga titik pertemuan sungai-sungai kurang lebih 10 kilometer.
Itulah sekelumit cerita mengerikan dari Ponorogo. Bahkan Muso pun dibunuh lalu dikuburkan di kota reog ini. Ponorogo seolah menjadi kota merah dan selamanya menjadi kota terlarang bagi Islam karena identik dengan PKI. Layaknya kota-kota kutukan seperti dalam cerita film ‘’Game of Thrones’’, bahwa di selatan bumi ada kota mayat hidup, entah mengapa posisi selatan sama dengan Ponorogo yang berada di daerah Selatan Pulau Jawa.
Kini kabupaten tempat kelahiran Gus Falah tersebut menjadi mercusuar peradaban Islam. Jauh dari kesan ‘’kabupaten sial’’, di sana kini berdiri pondok-pondok pesantren berkaliber internasional, seperti Pondok Modern Darussalam Gontor yang memiliki berbagai cabang dan jejaring pondok alumni hingga mancanegara, Pondok Pesantren Al-Huda Mayak, Al-Islam Joresan, Wali Songo Ngabar, bahkan Ponorogo memiliki Bani Mesir, keturunan dari Syekh Yahuda (Mbah Yahudo) asal Lorok, Pacitan, yang memiliki putra bernama Mbah Mesir (Syekh Muhsinun). Ia adalah ulama besar penyebar Islam di Trenggalek hingga Ponorogo sekaligus guru Pangeran Diponegoro yang masih memiliki garis keturunan dengan Al-Falah Ploso, Kediri.
Baca Juga: Staf Khusus Menag Gugun Sambangi Keluarga Santri Korban Pembakaran di Lombok
Sekelumit kisah di atas dapat menjadi gambaran sekaligus refleksi pemikiran bahwa tidak benar jika PDI Perjuangan melulu dikaitkan dengan hantu komunisme. Terbukti dari ditunjuknya Gus Falah menakhodai DPP Bamusi 2025 – 2030. Kini, dengan wajah dan semangat baru, Bamusi memiliki jaringan sel yang kuat dengan tradisi keislaman dan kepesantrenan. Potensi ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi Gus Falah sebagai ketua umum DPP Bamusi untuk menghidupkan kembali sel-sel yang lama tertidur.
Disebut potensi sebab, suka atau tidak suka, keluarga besar Gus Falah adalah kelompok pesantren dan ulama terkemuka di Jawa Timur. Kakeknya bagian dari pendiri sekaligus imam masjid generasi awal masjid NU pertama di Ponorogo sekaligus masjid ketujuh yang didirikan NU di seluruh Indonesia, yang langsung diresmikan oleh Hadratusy Syaikh KH. Muhamad Hasyim Asy’ari pada hari Ahad Kliwon, 24 Dzulqo’dah 1349 H bertepatan dengan 2 April 1931 M.
Dalam bahasa ilmu politik, ini tidak terlepas dari konsolidasi ulama di Ponorogo. Di antara sentuhan koordinasi dan komunikasi periode awal ini adalah terbinanya hubungan dengan para masyayikh/pinisepuh antara lain Kyai Abu Dawud Durisawo, KH. Romli Genthan, KH. Syamsuddin Durisawo, Kyai Humam Mangkujayan, Kyai Shodiqun Jurang Krikil Ngunut, Kyai Thohir Mojoroto, Kyai Thoyib Jenes, Kyai Abdul Wahab Joresan (keturunan langsung Tegalsari/Hasan Besari), Kyai Fahruddin Coper, Kyai Chasanul Hidayah Bajang Balong, Kyai Imam Mukhtar Bajang Balong, Kyai Fathurroji Pulung, Kyai Abu Syukur Kradenan Jetis, Kyai Dasuki Cekok, Kyai Mohamad Thoyib Pilang (mursyid terkemuka di kalangan Thoriqoh Khodiriyah wa Naqsyabandiyah), Kyai Thoyib Mangunan Sampung, Kyai Abdullah Hasyim Mangunan Sampung dan masih banyak tokoh-tokoh Islam lainnya.
Baca Juga: Megawati Lantik Pengurus Baru DPP Bamusi Dibawah Kepemimpinan Gus Falah Periode 2026–2030
Meminjam bahasa orang lapangan, tokoh-tokoh tersebut adalah induk dari sel-sel yang selama ini tertidur. Di lapangan banyak orang bercerita, mengapa konfrontasi Indonesia dan Malaysia di zaman Bung Karno tak berlangsung lama bahkan tidak pernah sampai menumpahkan darah, itu terjadi konon akibat konsolidasi dan komunikasi intensif di antara ulama kedua negara. Salah satunya melalui pintu keturunan Hasan Besari Ponorogo, yakni Kyai Zainal ‘Abidin (cucu Kiai Ageng Muhammad Besari). Putrinya yang bernama Nyai Ngaisyah dinikahkan dengan Sultan Johor.
Sebenarnya masih ada satu sel yang harus dibangunkan dan dikonsolidasi, namun ini masih perlu dibuktikan dan ditelusuri, yaitu Jama’ah Thoriqoh Syattariyah yang merupakan bagian dari kelompok Pangeran Diponegoro yang tersebar di Jawa. Nah, sel-sel inilah yang digunakan oleh Jenderal Sudirman dalam Perang Gerilya. Jika dilihat dari peta rute gerilya, setelah dari Jogja, Sudirman banyak bersembunyi di Ponorogo, bahkan hingga lereng Gunung Wilis yang masuk dalam wilayah Ponorogo hingga perbatasan Kabupaten Trenggalek. Menurut intuisi penulis, haqqul yakin bahwa jaringan ini memiliki tali yang erat dengan tokoh-tokoh dan ulama sepuh di Ponorogo.
Sayap Partai Rahmatan lil alamin
Dengan semua modal sosial politik yang ada, di masa depan Bamusi tidak boleh hanya menjalankan tugas-tugas utama kepartaian layaknya tugas yang diemban sayap partai apa pun. Ada peran dan tugas kenegaraan lain yang tak kalah penting yang harus dilakukan Bamusi.
Baca Juga: Wamenkes Ungkap 40 Persen Pasien RSU Pemasyarakatan Cipinang Berasal dari Warga Sekitar
Pertama, Bamusi ke depan harus terus melakukan dakwah politik dengan cara menyebarkan pesan keagamaan yang inklusif berbasis paradigma ‘’Islam rahmatan lil-alamin’’; untuk itu, organisasi ini harus terus menjadi ormas perekat umat, baik di dalam tubuh PDI Perjuangan maupun untuk umat Islam Indonesia.
Kedua, organisasi ini harus gencar menyosialisasi 4 Pilar Kebangsaan, Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.
Ketiga, Bamusi harus berupaya memperluas basis massa partai dengan merangkul kelompok Muslim, khususnya kaum santri serta warga Nahdliyin, Muhammadiyah, dan ormas-ormas Islam lainnya.
Di sini penting digarisbawahi tentang peran Bamusi dan jati diri Islam rahmatan lil alamin. Secara harfiah, itu berarti “rahmat bagi seluruh alam”. Istilah ini merujuk pada sifat ajaran Islam serta misi kerasulan Nabi Muhammad SAW yang membawa kasih sayang, kedamaian, kebaikan, dan kemaslahatan bagi seluruh makhluk hidup dan alam semesta, bukan hanya untuk umat Islam.
Meletakan posisi Bamusi sebagai mercusuar Islam Rahmatan lil alamin berarti meletakkan ormas ini dalam posisi strategis untuk menjawab perbedaan pendapat, madzhab dan golongan. Saat perang Iran versus AS dan Israel berkecamuk, friksi Islam Sunni dan Islam Syiah kembali menyeruak di tanah air. Menjadi tugas Bamusi untuk mengatakan dengan tegas friksi semacam itu sudah ketinggalan zaman, hanya orang-orang yang gemar bertengkar sajalah yang gemar memperuncing perbedaan di antara keduanya, padahal perbedaan itu hanya sedikit.
Baca Juga: Sabut Kelapa Jadi Coco Sheet, Warga Binaan Lapas Purwokerto Tembus Pasar China
Pendek kata, Bamusi harus berani menerangkan kepada masyarakat luas bahwa kedekatan PDI Perjuangan dengan Republik Islam Iran atau lebih spesifik lagi kedekatan antara Ibu Megawati dengan almarhum Ali Khameni bukan hanya terjadi akibat semangat ideologis antiimperialisme, tapi juga berangkat dari semangat kemandirian bahwa Islam tidak menolak ilmu pengetahuan, Islam bisa beradaptasi dengan dunia luar di tengah perbedaan sekte dan mazhab di kalangan internal.
Rumah Kecil Multikulturalisme
Segala sesuatu yang besar selalu saja dikatakan dimulai dari ruang kecil. Jika Gus Falah lahir di Ponorogo tempat peradaban Islam seperti Gontor yang mampu mewarnai dunia internasional, keturunan Hasan Besari mampu meredakan ketegangan antara Indonesia dan Malaysia, maka Bamusi dengan nakhoda baru bernama Gus Falah harus bisa maji dengan semangat menjadi rumah multikulturalisme bagi peradaban dunia.
Pendek kata, ke depan Bamusi harus membuka pintu dan tidak boleh hanya menjadi rumah bagi NU, Muhammadiyah, LDII dan kelompok Islam yang sekarang terakomodasi dalam struktur kepengurusan, namun juga harus menjadi rumah bagi pemeluk agama lain. Tercantumnya nama Sekjen PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto yang bukan beragama Islam dalam jajaran dewan pembina adalah sinyal positif ke arah itu.
Baca Juga: Sambut HUT RI Ke-81, Kemenimipas Gelar Doa Lintas Agama dan Paparkan Capaian Semester I 2026
Dengan demikian, Bamusi sebagai ormas keagamaan yang dibentuk dengan semangat inklusivisme bukan hanya papan nama. Di daerah, di mana non-Muslim menjadi mayoritas semisal Bali atau Papua, mestinya Bamusi harus lebih banyak lagi menampung aktivis non-Muslim sebagai pengurus.
Arah gerak dunia multikulturalisme saat ini bergeser dari sekadar “toleransi pasif” menuju inklusi berbasis dialog dan transformasi digital. Di tengah tantangan globalisasi dan menguatnya politik identitas, fokus utama Bamusi justru harus menyeimbangkan identitas lokal dengan kesadaran global melalui pendidikan dan diplomasi budaya. Ya, gerak dunia saat ini tidak hanya satu kekuatan di bawah dominasi AS, namun kekuatan global sudah mulai bergeser.
Pekerjaan rumah selanjutnya buat Bamusi adalah menghidupkan sel-sel tidur yang dimiliki. Sudah barang tentu ini bisa menjadi guide untuk menarik hati golongan, khususnya NU, yang selama ini bisa dikatakan sebagai massa mengambang. Memang ini bukanlah hal sederhana dan mudah untuk dikerjakan, namun pepatah Barat dari golongan Hegelian mengatakan, terjadinya sesuatu adalah berkat dari kemauan subjektif dan bertemu dengan kepentingan objektif. Pertanyaan kita kemudian adalah: apakah Gus Falah dan jajaran pengurus DPP Bamusi 2026 – 2030 punya kemauan subjektif itu lalu mempertemukannya dengan kondisi objektif saat ini?
Penulis: Beny Wibowo (Tenaga Ahli Fraksi PDI Perjuangan MPR RI)











