Mahmoud Darwish, Ketika Puisi Menjadi Tanah Air

Opini7 Dilihat

Mudabicara.com_Di dunia yang berkali-kali kehilangan rumah,: akibat perang, kolonialisme, dan ingatan yang dipaksa bisu. Puisi menjadi tempat berlindung yang paling jujur sekaligus menjadi rumah terakhir. Di sinilah seorang Mahmoud Darwish berdiri dan menegakkan martabat bangsanya.

“Aku tidak akan menulis puisi untukmu,” katanya untuk Palestina suatu waktu, “kecuali jika aku bisa menuliskannya dalam darahku.” Mahmoud Darwish menjadikan bahasa bukan sekadar alat ekspresi, melainkan tanah air yang dapat dipanggul, dihidupi, dan diwariskan.

Pada titik ini, dia bukan sekadar penyair, melainkan arsip hidup, saksi sejarah, dan penafsir luka kolektif yang menolak membeku menjadi dendam. Dalam dirinya, kata-kata belajar berjalan seperti manusia: terluka, berjalan tertatih, namun tetap melangkah dan akhirnya menyejarah. Palestina yang berulang kali dicabut dari peta, menemukan bentuk keabadiannya dalam puisi Mahmoud Darwish.

Baca Juga: OJK Sebut Kredit Nganggur Masih Tinggi tapi Berpotensi Dongkrak Pembiayaan

Berasal dari desa al-Birwa, Galilea, sebuah kampung zaitun. Ia lahir ketika sejarah masih tampak jauh, ketika kehidupan di Palestina berjalan dalam ritme pertanian, panen, dan cerita rakyat. Namun ketika Darwish berusia tujuh tahun riwayat itu terputus dini, pada 1948 terjadi Peristiwa Nakba, pengusiran massal rakyat Palestina dari tanah airnya. Keluarganya mengungsi ke Lebanon, bergabung dengan arus manusia yang tak tahu kemana harus pulang. Darwish hidup layaknya puisi di persimpangan sejarah dan estetika.

Tahun-tahun berikutnya dirinya kembali secara sembunyi-sembunyi, hanya untuk mendapati al-Birwa sudah tiada, hancur, diduduki, dan digantikan nama baru. Darwish tumbuh sebagai hadir tetapi terlempar dari kenyataan, dia mendapati dirinya teralienasi. Seorang warga tanpa kewarganegaraan di tanah kelahirannya. “Aku,” katanya bening dan puitis, “adalah cinta yang tidak menemukan rumahnya.” Trauma inilah yang membentuk kosmologi puisinya: Lahir dari pengusiran dan kembali dalam bahasa. Puisi memberikan harapan bagi semesta Mahmoud Darwish.

Ia menolak menjadikan puisi sebagai ratapan semata. Dari awal, Darwish memilih jalan yang lebih sulit: mengubah duka menjadi pengetahuan, amarah menjadi martabat, dan sejarah menjadi dialog. Puisi Darwish mewakili suara kolektif yang menemukan estetika tersendiri. Dalam puisinya Palestina bukan hanya peta yang diperebutkan, melainkan lakon dan pengalaman hidup: rindu, kehilangan, cinta, identitas, dan pertanyaan tentang arti sebuah rumah dan tanah air. Ia memilih puisi sebagai rumah terakhir yang menghidupkan segala kemungkinan.

Ia mengembalikan wajah manusia dan kisah yang hidup mengenai Palestina: petani, ibu, kekasih, zaitun, dan musim. Di tangannya, puisi menjadi narasi alternatif yang menantang arsip resmi, mandat kolonial, dan bahasa kekuasaan. Ketika peta berubah-ubah, Darwish menyimpan negeri itu dalam metafora; ketika tanah dirampas, ia menanamnya di bait-bait puisi. “Palestina sebagai metafora,” katanya bening nyaris teatrikal, “lebih kuat dari pada Palestina sebagai realitas.”

Baca Juga: Tiga Anak Buah Kena OTT KPK, Menkeu Ganti Kakanwil Pajak Jakarta Utara

Masa remajanya di Israel berlangsung di bawah rezim militer, rezim yang merampas tanah air dan desanya. Sejak remaja ia mulai menulis puisi, bekerja sebagai jurnalis, dan bergabung dengan gerakan politik kiri. Puisinya menyebar seperti bisikan perlawanan, dan pada 1964 ia menerbitkan kumpulan puisi penting pertamanya, Leaves of the Olive Tree. Dua tahun kemudian, ia menulis puisi yang menjadikannya ikon global: Bitaqat Hawiyyah (Kartu Identitas), dengan baris legendaris, “Tulis! Aku Arab.”

Kekuatan Darwish terletak pada kemampuannya menggabungkan liris dengan politik tanpa mereduksi salah satunya. Baginya puisi yang jujur yang tak lekang dimakan waktu dan memancarkan gita puitik. Sebagai intelektual, Darwish tidak memisahkan pena dari tanggung jawab publik. Ia tergabung di Palestine Liberation Organization (PLO), mengedit jurnal sastra, dan terlibat kerja-kerja politik. Ia terlibat dalam ruang politik, namun menjaga jarak kritis dari dogma. Karena puisinya dianggap menghasut, ia berulang kali ditahan oleh pemerintah Israel.

Pada 1971, ia meninggalkan tanah kelahirannya dan memulai eksil panjang, bermukim di Kairo, kemudian Beirut, lalu melanjutkan kisahnya di Paris. Dari Beirut yang terbakar, Darwish menulis salah satu karya prosa paling monumental, Memory for Forgetfulness. Sebuah meditasi tentang kopi, hujan, kematian, dan ketegaran. Darwish membangun bahasa yang sanggup menampung duka kolektif, tanpa kehilangan kejernihan individual. “Kenangan,” katanya bening nyaris teatrikal, “adalah rumah tempat kita tinggal ketika tidak memiliki rumah.”

Pengalaman di Beirut dan serangan Israel pada 1982 membawa perjalanan estetikanya. Puisinya bergerak dari deklarasi identitas menuju pertanyaan eksistensial: siapa kita setelah kehilangan? bagaimana mencintai tanah tanpa menjadikannya berhala? Palestina tak lagi hadir sebagai simbol, melainkan sebagai ruang batin, arsip emosional, dan metafora universal. Buku-buku seperti Why Did You Leave the Horse Alone?, Eleven Planets, dan The Adam of Two Edens menunjukkan perkembangan estetika yang semakin kompleks: puitik, historis, dan filosofis sekaligus.

Di sinilah Darwish menjadi penyair universal tanpa meninggalkan Palestina. Baginya, perlawanan bukan sekadar menolak pendudukan, melainkan menegakkan nilai-nilai: keadilan, kebebasan, dan martabat manusia. “Cinta,” kata Darwish seperti doa panjang di ujung malam, “adalah satu-satunya senjata yang tidak pernah ternoda.” Darwish percaya hanya cintalah yang mampu membebaskan segala sesuatu, termasuk dari diri sendiri.

Baca Juga: Danantara Indonesia Debut di WEF Davos 2026, Paparkan Proyek Strategis untuk Masyarakat

Ini menjadi karya-karya matang Darwish sebagai penyair. Menampilkan dialog dengan kematian, sejarah, dan mitologi. Ia meminjam suara Alkitab, Yunani, dan Arab klasik, lalu menjahitnya dengan sejarah dan pengalaman kontemporer. Darwish menjejakkan diri dalam humanisme puitik. Membangun virtue dan memperkuat nilai-nilai dalam kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa Palestina tidak boleh menang dengan kehilangan jiwanya.

Keindahan dan gitu puitik Darwish terletak pada ketepatan musikal bahasanya. Ia menulis dengan ritme yang mengalir, metafora yang bersih, dan citraan yang mudah diingat. Puisinya dapat dinikmati sebagai musik, namun juga mengundang pembacaan kritis. Di sinilah kekuatannya sebagai esai puitik yang berlapis: ia menggetarkan perasaan dan menggugah pemikiran sekaligus memekarkan jiwa pembaca.

Jika sejarawan menyusun tanggal dan perjanjian, Darwish menyusun makna. Ia tahu bahwa kolonialisme bekerja bukan hanya dengan tentara, tetapi dengan narasi, dengan kata yang memutihkan kekerasan, dan penundukkan pikiran. Maka ia membalasnya dengan kata yang menyingkap dan membangunkan hati yang merdeka.

Puisi-puisinya merekam pengusiran, pendudukan, penjara, dan diaspora. Bukan sebagai laporan, melainkan sebagai pengalaman yang dapat dirasakan. Inilah daya gugah puisinya: ia memproduksi pengetahuan emosional yang melengkapi data keras sejarah. Darwish menuturkan seperti kesaksian yang paling pahit, “seseorang hanya dapat dilahirkan di satu tempat. Namun, ia dapat meninggal beberapa kali di tempat lain: di pengasingan dan penjara, dan di tanah air yang diubah oleh pendudukan dan penindasan yang menjadi mimpi buruk.” Puisi Darwish bicara lebih keras dan menggetarkan dari angka statistik dan data sejarah.

Setelah perjanjian Oslo, Darwish mengundurkan diri dari komite eksekutif PLO, memilih berjarak dengan politik dan menapaki perjalanan estetiknya yang lain. Darwish kemudian hijrah ke Paris, di mana ia menemukan jarak yang memungkinkannya menulis tentang tanah air tanpa larut dalam romantisasi. Ia mulai berbicara tentang eksil sebagai kondisi manusia modern: bahwa semua orang, pada suatu titik, adalah pengungsi dari masa lalu mereka sendiri. Puisinya menolak dikurung oleh geografi. Ia menggunakan Palestina sebagai cakrawala moral, bukan komoditas politik.

Pada akhir hidupnya, Darwish menulis dengan kejernihan seorang yang berdamai dengan kefanaan. Mural yang ditulis setelah operasi jantung pada 1998 adalah percakapan panjang dengan kematian, penuh humor, ketakutan, dan keindahan. Ia tidak lagi bertanya bagaimana mempertahankan tanah air, tetapi bagaimana mempertahankan martabat dalam kehilangan. Darwish mengolah bahasa Arab menjadi rumah kosmopolitan, menghubungkan Palestina dengan pengalaman universal manusia

Mahmoud Darwish wafat pada 9 Agustus 2008 di Houston setelah operasi jantung, dan dimakamkan di Ramallah. Ribuan orang menghadiri pemakamannya, menjadikannya bukan sekadar penyair, tetapi memori kolektif sebuah bangsa. Banyak orang mengatakan: jika Palestina kehilangan tanahnya, Darwish-lah yang memberinya bahasa untuk tetap hidup. “saya percaya pada kekuatan puisi,” katanya, “karena ia memberi saya alasan untuk melihat ke depan dan menemukan secercah harapan.”

Baca Juga: PB HMI Soroti Keterlambatan Pencairan Dana Jemaah, Desak Perbaikan Tata Kelola BPKH

Warisan Darwish menolak disimpulkan. Ia adalah penyair nasional Palestina, tetapi juga humanis kosmopolitan. Ia menulis tentang penderitaan, tetapi tidak pernah merayakan kebencian. Ia menjadikan puisi bukan pelarian, melainkan ruang perlawanan moral, tempat manusia dapat berdiri tegak meski sejarah meruntuhkan rumahnya.

Pada akhirnya, kisah Mahmoud Darwish adalah kisah tentang bagaimana seorang bocah pengungsi menjadi arsitek imajinasi bangsa. Ia menunjukkan bahwa tanah air bisa hilang, tetapi selama kata-kata masih ditemukan, pulang selalu mungkin. Puisi baginya bukan sekadar seni, tetapi tindakan politik paling halus: menyelamatkan manusia dari dilupakan.

Darwish pernah menulis bahwa puisi adalah apa yang tersisa ketika segalanya diambil. Seperti lirik dalam puisinya, “Kehilangan adalah bagian dari hidup,” katanya bening nyaris teatrikal, “tetapi kita tidak boleh membiarkannya mengalahkan kita.”

Mahmoud Darwish meninggalkan pelajaran penting: ketika sejarah berusaha menghapus, sastra dapat menyelamatkan; ketika peta mengkhianati, bahasa dapat menjadi tanah air. Puisi menjadi rumah terakhir yang tak bisa digusur oleh siapapun dan apapun.

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *