Mengenang Ahmad Syafii Maarif, Anak Kampung dan Kemerdekaan Bangsa

Sosok Inspiratif297 Dilihat

Mudabicara.com_ Ahmad Syafii Maarif adalah seorang guru bangsa dan cendekiawan Indonesia yang telah melahirkan banyak pemikiran alternatif. Sepanjang hidupnya ia merupakan sosok yang berani dan teguh memegang prinsip.

Tulisan “Ahmad Syafii Maarif Ditempa Ombak” merupakan karya tulisannya di buku Menuju Indonesia, surat dari & untuk pemimpin. Kini mudabicara.com ingin menulis ulang guna dapat menjadi bahan bacaan para penerus bangsa secara luas.

BACA JUGA : Pengertian Sastra, Fungsi dan Macamnya

Biografi Singkat Ahmad Syafii Ma’arif

Ahmad Syafii Ma’arif lahir dari seorang bapak bernama Ma’rifah Rauf Datuk Rajo Malayu dan ibu bernama Fathiyah pada 31 Mei 1935. Syafii Maarif merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara seibu seayah.

Masa kecilnya ia habisnya di tempat lahirnya di Nagari Calau, Sumpur Kudus, Minangkabau. Selain memilik 4 saudara seibu seayah, ia juga memiliki 15 orang bersaudara seayah namun berlainan ibu.

Pendidikannya bermula di Sekolah Rakyat di Sumpur Kudus kemudian Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Sijunjung. Semangatnya untuk mencari pengalaman dan menuntut ilmu membuat ia memberanikan diri merantau ke Yogyakarta.

BACA JUGA : Profil dan Pemikiran Bapak Sosiologi Auguste Comte

SMA Mu’alimin menjadi salah satu tempat Syafii Ma’arif menempa keilmuan. Universitas Negeri Yogyakarta, Universitas Ohio dan Universitas Chicago Amerika Serikat menjadi tempat dimana Ahmad Syafii Ma’arif menempa pemikirannya.

Ahmad Syafii Maarif Ditempa Ombak

Terdampar karena belas kasihan ombak” Ungkapan perantau minang ini cocok mengambarkan nasib Ahmad Syafii Maarif. Awalnya dia hendak belajar di Sekolah Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah di Yogyakarta.

Niatnya kandas karenya SMP-nya di Desa Lintau, Sijunjung, Sumatra Barat dianggap tak bermutu. Anak muda itu lalu mendaftar ke Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah yang juga di Yogyakarta.

Lagi-lagi ia ditolak karena tak lulus tes. Tapi madrasah itu menerima ia juga. Pertimbangannya? karena Syafii dari desa yang jauh, jadi ya sudahlah.

Di sekolah itu, ombaknya naik. Nilai rapornya selalu bagus dan ia mendapat eringkat pertama. Setelah lulus dari sana, dia terdaftar di IAIN Sunan Ampel, Surabaya, sebelum akhirnya pindah ke Jurusan Sejarah IKIP Yogyakarta.

Syafii pindah karena butuh jadwal kuliah yang tidak teratur: dia harus nyambi mengajar di tempat sejauh 50 kilometer. Kerja sambilan ini ditebus mahal. “Saya lulus sarjana di umur 29 tahun,” ujarnya.

BACA JUGA : Mengenal Abah AOS, Ulama Kharismatik Dari Tanah Pasundan Dan Ajaranya

Setelah lulus IKIP, dia kuliah di Illinois, Amerika Serikat. Studi itu putus di tengah jalan. Anak lelakinya meninggal  dan dia kembali ke Tanah Air. Bebebrapa tahun kemudian, Syafii kembali ke Amerika mengambil studi sejarah di Ohio University.  Studi S3 tentang pemikiran islam dia teruskan di Chicago University.

Fazlur Rahman Dan Memimpin Muhammadiyah

Sejak di Chicago, Syafii belajar di bawah bimbingan Fazlur Rahman, seorang pembaharu Islam Mesir. Salah satu ajaran Al-Qur’an yang benar-benar dianut Ahmad Syafii Maarif adalah tidak ada paksaan dalam beragama.

Pandangan ini cocok dengan Muhammadiyah. Alasanya, ada keterbukaan dan tidak mengajarkan orang menjadi pengikut yang membabi buta.

Di kemudian hari, ombak hidup mengempaskannya ke puncak organisasi yang ia cintai itu. Ahmad Syafii Ma’arif menjadi Ketua PP Muhamadiyah pada tahun 1998.

BACA JUGA : Mengenal Sosok Nurcholish Madjid Ketua Umum PB HMI Dua Periode

Usai memimpin Muhammadiyah ia mendirikan Ma’arif Insitute, lembaga yang berfokus pada gerakan kebudayaan dalam konteks keislaman, kemanusiaan dan keindonesiaan.

Anak Kampung Dan Kemerdekaan Bangsa

Tak sedikitpun terbayangkan oleh saya nasib seorang anak kampung yang terletak jauh tersuruk di nagari Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, sekiranya Indonesia Indonesia tidak merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945.

Selagi kecil kelahiran 31 Mei 1935 tak ada mimpi sekolah jauh, tak ada cita-cita tinggi yang ingin diraih. Semuanya terkurung di nagari sunyi yang dialiri sungai Batang Sumpur yang memanjang dari utara ke selatan sebelum melebur menjadi satu dengan sungai Ombilin yang jauh lebih perkasa.

Di malam hari ketika jam dinding berdetak terkadang penduduk dikejutkan oleh auman harimau yang sangat menakutkan.Pernah pula raja hutan itu masuk kampung mencari mangsa seperti kambing, ayam, anjing bahkan sapi, kerbau dan kuda.

BACA JUGA : Mengenal Teori Hermeneutika Hans Georg Gadamer

Jika musibah itu tejadi seantero kampung gempar sementara mereka yang berani dan jago silat siap dengan senjata tajampergi ke luar rumah untuk menemui si raja hutan.

Puluhan tahun bahkan mungkin ratusan tahun Sumpur Kudus adalah nagari yang kelam gulita di kala malam. Sebelum dialiri cahaya listrik pada 2005, tujuh tahun yang lalu sebagian penduduk yang berpunya biasa memakai genset untuk melawan kegelapan malam.

Sedangkan mereka yang miskin biasa menggunakan lampu minyak tanah ataupun lampu minyak tanah ataupun lampu minyak kelapa yang diberi sumbu kapas.

Sumpur Kudus hanyalah satu dari sekian puluh ribu kampung berserakan di seluruh Nusantara, yang sebagian sampai hari ini belum mengenal listrik, sekalipun bangsa sudah merdeka selama 67 tahun.

Kemerdekaan Bangsa

Bagi saya, kemerdekaan sungguh sangat tinggi harganya. Berkat kemerdekaanlah saya punya kesempatan belajar, tidak saja ke Jawa bahkan sampai Chicago Amerika Serikat hingga tuntas.

Dalam usia senja menjelang malam sekarang ini, rasa terima kasih saya kepada semua para pejuang kemerdekaan hampir tanpa batas.

Karena karya besar merekalah Indonesia menjadi negara berdaulat seperti sekarang ini. sekalipun dalam perkembangan terakhir, keddaulatan itu terasa tidak dirawat dengan baik, pihak asing telah mempermainkan kita.

Sementara pada 1945 penduduk Indonesia barulah sekitar 70 juta, tahun 2012 ini sudah melebihi 240 juta, keempat terbesar sesudah China, India dan Amerika Serikat.

Ledakan demografi ini, jika tidak pandai-pandai dikelola bisa berakibat fatal bagi hari depan kita semua. Dalam situasi seperti sekarang saja jika parameter dua dolar pendapatan per kepala digunakan, penduduk miskin Indonesia tidak kurang dari 40 persen, sebuah angka dahsyat yang mengerikan.

Keadilan sosial yang menjadi cita-cita luhur kemerdekaan belum dirasakan oleh saudara sebangsa kita yang miskin itu, apa pun penyebabnya.

Tetapi dengan sisi-sisi hitam itu, sebagai anak kampung, saya tidak akan pernah berhenti besyukur kepada Allah atas anugerah kemerdekaan yang telah kita miliki sampai hari ini.

Tnpa kemerdekaan bangsa saya boleh jadi akan tetap terbenam dan terkurung di nagari udik Sumpur Kudus yang sangat saya cintai. Berkat kemerdekaan, di samping listrik,  jalan pun sudah di aspal, sekalipun tidak lebar. Viva Kemerdekaan Indonesia!

 

Oleh : Ahmad Syafii Ma’arif (Cendekiawan Indonesia)

Tulisan Terkait: