Menelaah Potret Guru Merdeka di Abad 21

Opini229 Dilihat

“The great lesson teachers should teach today is the lesson of change”

BungRam

Mudabicara.com_ Beberapa pekan setelah pelantikan kabinet ‘Indonesia Maju’ oleh Presiden Jokowi (23 Oktober 2019), Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim menyampaikan pesan strategisnya dalam memimpin kementeriannya lewat pidato pada peringatan Hari Guru Nasional tanggal 25 November 2019.

Secara umum pengamat menyebutkan bahwa isi dari pidato Nadiem menunjukkan perhatian beliau terhadap permasalah pendidikan yang selama ini terkesan semrawut, penuh intrik dan kepentingan, sehingga jauh dari permasalahan yang ada untuk diselesaikan, yaitu permasalahan guru.

BACA JUGA : Penundaan Pemilu dan Ancaman Populisme

“Ajakan memerdekakan diri sangat penting, dan bisa berarti sebagai udara segar. Kesadaran bahwa guru yang merdeka itu membuat situasi lingkungan jadi lebih menyenangkan untuk proses pembelajaran,” kata tokoh pendidikan Henny Supolo.

Ia menjelaskan, dorongan memerdekakan guru itu sejalan dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang menekankan pentingnya kemerdekaan berpikir. Menurutnya, hal itu mesti berawal dari diri masing-masing guru.

Menurut Nadiem Makarim, potensi murid itu tidak terbatas, keberagaman dalam diri anak didik jangan sampai berubah hanya karena keinginan semuanya harus seragam.

Makanya pak menteri melontarkan istilah “merdeka belajar”. Filosofi merdeka belajar menurut saya tidak terlepas dari pemahaman guru juga tentang falsafah pendidikan, yang kalau kita mendalami konsep pendidikannya Ki Hadjar Dewantara, maka korelasi itu akan menjadi nyata.

BACA JUGA : 10 Manfaat Belajar Bahasa Indonesia Untuk Anak Muda

Dan orientasinya akan mengarah kepada, bukan hanya “kemerdekaan belajar” murid, namun juga “kemerdekaan guru” untuk melakukan berbagai hal dalam memberikan peluang bagi murid belajar secara merdeka. Guru yang merdeka adalah rangkaian kualitas guru yang profesional.

Kutipan Pidato Guru Merdeka Dari Nadiem Makarim

Beberapa kutipan isi pidato Nadiem Makarim adalah sebagai berikut:

“Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan.”

Kini Anda ingin membantu murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis untuk mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas.

Anda tahu betul bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan.

Dan Anda ingin mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi kurikulum yang begitu padat menutup pintu petualangan.

Anda frustasi karena Anda tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan kesuksesan anak, bukan kemampuan menghafal.

BACA JUGA : Sistem Politik Demokrasi, Pengertian, Macam dan Ciri-cirinya

Kini Anda tahu bahwa setiap anak memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman sebagai prinsip dasar birokrasi.

Anda ingin setiap murid terinspirasi, tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.

Saya tidak akan membuat janji-janji kosong kepada Anda. Perubahan adalah hal yang sulit dan penuh dengan ketidaknyamanan. Satu hal yang pasti, saya akan berjuang untuk kemerdekaan belajar di Indonesia.

Namun, perubahan tidak dapat dimulai dari atas. Semuanya berawal dan berakhir dari guru. Jangan menunggu aba-aba, jangan menunggu perintah. Ambil langkah pertama.”

Indonesia Maju Dan Eksistensi Guru Merdeka

Apa yang menjadi pidato Nadiem Makarim itu secara substantif, berhubungan erat dengan eksistensi profesi guru yang seharusnya kini sudah disetarakan dengan profesi-profesi bidang lain yang memberikan dampak terhadap pembangunan.

Apalah lagi jargon kabinet jilid dua saat ini arahnya kepada istilah “Indonesia Maju”. Maka kemajuan bangsa berbanding lurus dengan kemajuan rakyatnya, dengan fondasi sumber daya yang handal dan profesional.

Tidaklah mungkin, akan terwujud, guru (pendidik) yang profesional, jika guru tidak merdeka juga untuk belajar, tidak merdeka untuk melakukan berbagai inovasi di bidang yang ia geluti, terbelunggu dengan aturan birokrasi yang justru membuat mereka berpikir kerdil bahkan berjiwa feodal.

Berorientasi materil dan prestige. Bukan berorientasi kepada penananam nilai-nilai luhur perjuangan, bukan berorientasi kepada kreatifitas dan nilai kemanusiaan yang berkeadilan. Bukan beorientasi kepada sikap rasional dan kritis menghadapi tantangan kehidupan.

BACA JUGA : Mengenal Teori Fakta Sosial Emile Durkheim

Profesionalisme guru dan kemerdekaan

Pendidik yang profesional didorong oleh nilai, dipandu oleh prinsip, semangat, dan tujuan lebih besar dari diri mereka sendiri. Pendidik profesional percaya bahwa pekerjaan mereka adalah panggilan, alih-alih sebuah pekerjaan ringan sekedar mengisi kekosongan di mana orang hanya menempati ruang.

Para Pendidik profesional mengakui bahwa perubahan adalah norma. Mereka berorientasi pada pertumbuhan dan menganggap diri mereka pembelajar dan kontributor seumur hidup.

Pendidik profesional adalah pencipta iklim, mengakui bahwa kondisi yang mengelilingi pembelajaran dan berkontribusi pada setiap pembelajaran.

Para Pendidik profesional adalah katalisator dalam mempromosikan risiko yang diperhitungkan yang memajukan profesi mereka dan memungkinkan setiap orang mengakses kesuksesan.

Pendidik profesional mempromosikan kekompakan, kolaborasi, dan pembangunan tim. Mereka mempromosikan filosofi “kita lebih baik bersama”.

BACA JUGA : Mengenal Sosok Ismail Marzuki dan Karyanya

Para Pendidik profesional menciptakan iklim kepemilikan dengan memastikan bahwa semua orang yang terlibat dalam proses pendidikan dapat untuk berpartisipasi.

Pendidik profesional bertanggung jawab kepada klien mereka, masyarakat, orang tua dan siswa, menyediakan program pendidikan yang berkualitas untuk semua anak.

Para Pendidik profesional adalah bagian dari organisasi yang mempromosikan profesi mereka di atas keuntungan pribadi. Pendidik profesional adalah Anda yang berjiwa merdeka.

Mengaitkan profesionalisme guru dengan prinsip “merdeka” adalah sebuah keniscayaan yang akan menunjukkan tipologi guru profesional di abad modern ini. Profesional sebagai nilai dan kualitas sebuah profesi harus ditopang dengan berbagai atribut dan kualifikasi yang khas sesuai amanat profesi.

Kualifikasi akademik adalah pondasi yang menunjang identitas guru sebagai guru profesional. Kemudian kompetensi pedagogik dan kompetensi sosial juga harus menjadi bagian dari atribut guru profesional.

BACA JUGA : Mengenal Karya Auguste Comte: Course of Positive Philosophy

Dan kemudian prinsip merdeka dalam menjalankan tugas dan tanggungjawabnya sebagai tenaga pendidik haruslah dipahami dan disadari oleh guru untuk menunjukkan kualifikasi yang sesuai dengan atribut profesionalisme tersebut.

Tingkat pendidikan, pengalaman, keterlibatan dalam aktifitas akademik, kehidupan sosial masyarakat dan kini peran dan kontribusinya dalam pendidikan di era digital.

Paradigma Guru Merdeka

Beberapa kata kuci dari paradigma guru merdeka Menteri Nadiem Makarim di atas adalah:

1. Pertolongan (guidance)

Seorang Guru melaksanakan peran sebagai pendidik generasi bangsa yang akan datang.

2. Memanfaatkan Waktu

Seorang guru harus memanfaatkan wakatu luang untuk aktifitas yang lebih produktif, tidak terbelenggu dengan mengerjakan perangkat pembelajaran secara administratif.

3. Memahami Potensi

Menjadi seorang guru artinya mampu memahami dengan baik tentang potensi belajar siswa, tidak hanya dari nilai angka pada hasil ujian.

4. Memahami Kontekstualisasi

Mengajak anak murid untuk memahami dunia sekitarnya (belajar secara kontekstual). Bukan melulu menjejali anak murid dengan semua isi teks buku pelajaran dengan kurikukum baku yang terbatas.

BACA JUGA : Mengenal Karya Auguste Comte System of Positive Politics

5. Kemampuan Berkarya

Hasil belajar di era modern adalah karya nyata, bukan selembar nilai di atas kertas.

6. Kemampuan Berkolaborasi

Tantangan kedepan anak-anak kita kelak membutuhkan keterampilan yang lebih menitikberatkan pada kemampuan bekerjasama, kemampuan menjalin komunikasi yang baik, dan kemampuan menunjukkan jati diri bangsa yang unggul sebagai kunci sukses bersaing di era global

7. Memahami Prinsip Keberagaman.

Pendidikan yang nampak dari guru dan sekolah yang merdeka adalah pendidikan yang berpijak pada nilai-nilai inklusifisme, bukan model pendidikan yang ekslusif, kaku dan konservatif.

8. Mampu Berinovasi

Guru yang merdeka adalah guru yang inovatif. Apapun profesi Anda saat ini, tanpa adanya inovasi, Anda akan tertinggal dan tertindas.

9. Melakukan Perubahan

Guru yang profesional sebagai agent of change. Ia adalah fasilitator dan sekaligus jembatan yang menghubungkan para siswa antara zaman sekarang dengan zaman berikutnya.

Oleh karenanya pelajaran terpenting di era modern ini untuk anak-anak adalah lesson of change, pelajaran tentang perubahaN

10. Berani Memulai

Nadiem Makarim mengamanatkan tentang kemauan untuk memulai, keberanian untuk melangkah, tanpa menunggu aba-aba, tidak mandek sambil menunggu intruksi, sehingga daya juang, daya nalar dan daya kritis guru tidak tumbuh dan berkembang.

Itulah jatidiri guru yang profesional. Ada dalam jiwa yang merdeka. Terbentuk dengan berbagai tantangan, keberanian bertindak, wawasan, serta sikap terbuka dan mau terus belajar dan berkarya secara inovatif.

 

Oleh : Bung Ramdani (Founder Sekolah Orang Tua)

Tulisan Terkait: