13 Puisi Ajip Rosidi yang Wajib Anak Muda Baca

Sastra1630 Dilihat

Mudabicara.com_ Puisi Ajip Rosidi menghiasi dunia kesusastraan baik pada masa Orde Lama maupun Orde Baru. Penyair dan satrawan asal Majalengka ini termasuk salah satu sastrawan yang masuk dalam kategori Sastrawan Angkatan 66.

Sebagai seorang penyair Ajip Rosidi merupakan penyair yang sangat produktif. Tercatat pada tahuan 1983 ia telah membuat karya sebanyak 326 karya.

Lalu siapa Ajip Rosidi dalam bingkai sastra Indonesia dan apa saja karya monumentalnya. Kini mudabicara akan membahas puisi Ajip Rosidi, selengkapnya baca ulasan berikut ini:

Baca Juga : 13 Puisi Taufiq Ismail Yang Wajib Anak Muda Baca

Sekilas Tentang Ajip Rosidi

Puisi Ajip Rosidi

 

Ajip Rosidi lahir di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat pada 31 Januari 1938 tepatnya di Kecamatan Jatiwangi. Masa kecil ia habiskan untuk belajar di Sekolah Rakyat di Jatiwangi.

Sekolah menengah pertama dan menengah ke atas ia habiskan di Jakarta meskipun pada akhirnya ia tidak mampu menamatkan studi sekolah menengah.

Namun berkat kepiawaian Ia mendapatkan kesempatan untuk mengajar di berbagai Perguruan Tinggi Indonesia bahkan pada tahun 1967 ia mengajar di salah satu Universitas di Jepang.

Terakhir Ajip Rosidi mendapatkan gelar Doktor honoris causa dari Universitas Padjadjaran dalam bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra. 

Baca Juga : 13 Puisi Kuntowijoyo Yang Wajib Anak Muda Baca

Tokoh yang produtif dalam membuat karya tersebut menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 29 Juli 2020 di Magelang, Jawa Tengah pada usia 82 tahun.

13 Puisi Ajip Rosidi Yang Wajib Anak Muda Baca

Berikut puisi Ajip Rosidi yang dapat menjadi bahan bacaan dan luapan perasaan anak muda

1. Puisi Ajip Rosidi Berjudul “Perempuan”

Perempuan

Perempuan adalah rindu di mana laut menemu diri

Di rahim siapa gerbang surga membuka

Di mana jiwa adalah kelembutan lumut hitam

Di mana kata adalah kesejukan rimbun daunan

Pada perut siapa kaki langit terpaut

Tangan siapa menjulur, membelai dalam gelap malam

Waktu kuminta padanya langit, diberikannya langit tanpa awan

Perempuan adalah dendam di mana api mendapat lidah

Di rahim siapa gerbang neraka membuka

Di mana harapan tak menemukan lembaga

Di mana kasih-sayang hanya sia-sia

Di mana kepedihan mengatasi duka

Tangan siapa mengelus mesra, hati tak setia penuh bisa

Waktu kuminta padanya langit, disemburkannya ludah siksaan

Baca Juga : 22 Puisi Wiji Thukul Yang Wajib Anak Muda Baca

2. Puisi Berjudul: Lagu Kerinduan

Lagu Kerinduan

Wajahmu antara batang kelapa langsing

Menebar senyum dan matamu menjadikan daku burung piaraan

Semua hanya bayangan kerinduan: kau yang nun entah di mana

Mengikuti setiap langkahku, biarpun ke mana

Kujalani kelengangan hari

Sepanjang pagar bayangan: wajahmu menanti

Langkah kuhentikan dan kulihat

Hanya senyummu memenuhi jagat

3. Puisi Ajip Rosidi Berjudul: Dukaku Yang Risau

Dukaku yang Risau

Berjalan, berjalan selagi di diri duka

bernapas lega menemu perempuan

kami berpandangan: lantas tahu

segalanya tinggal masa kenangan

Kami berjalan memutar danau

namun kutahu: dukaku yang risau

takkan mendapatkan pelabuhan aman

kecuali dalam pelukan penghabisan

kupandang matanya:

tak kukenal siapa pun juga

semuanya nanar

didindingi kabut samar

4. Puisi Ajip Rosidi Berjudul: Pantai Laut Utara

Pantai Laut Utara

Menjelang Tengah Malam

Angin dingin naik ke puncak bukit

menyisir rambutmu yang meriap nakal

Dengan tanganmu lentik, kaususuri langit

Sia-sia mencari bintang yang kaukenal

 

Kepada langit khatulistiwa yang biru

Dahulu kaubisikkan madu cinta pertama

Dan angan-angan yang jauh, penuh rindu

akan negeri-negeri asing yang entah di mana

 

Tapi di sini langit kelam. Lautpun kelam

Hanya riak ungu yang kadang-kadang sejenak bersinar

Perlambang keajaiban yang dalam

dari takdir yang tak mungkin terhindar

Baca Juga : Mengenang Puisi Chairil Anwar “Cintaku Jauh Di Pulau”

Kausimakkan lampu-lampu kota, kapal yang bertolak

Memahatkan arti hakiki pertemuan ini

Dan dalam keheningan, telah kaumaklumi dengan bijak

Segala kata yang tak perlu kauucapkan lagi

5. Puisi Berjudul: Jarak

Jarak

Berapa jauh jarak terentang

antara engkau dan aku

 

Berapa jauh terentang
antara engkau dengan urat leherku?

 

Tak pun sepatah kata
memisahkan kita

6. Puisi berjudul: Paris Bulan Juni

Paris Bulan Juni

Paris Bulan Juni

buat M & D

Dalam tiga hari

kulihat ribuan lukisan

dan peninggalan-peninggalan sejarah

sampai kepala pusing

lalu tersandar sunyi

di atas bateaux mouches

dalam gerimis yang menderas

menyusuri Seine.

 

Kerangka besi Menara Eiffel

kuserbu bersama para wisatawan

yang mencari keriahan

namun toh hanya menemukan sunyi

dalam keriuhan cemas

orang-orang yang selalu bergegas

sepanjang Chams Elysees

di bawah bayang-bayang Arc de Triomphe.

 

Bahkan angin yang menempelak dingin

tak lebih ramah

dari pada gedung-gedung angkuh

yang memandang hina

pada manusia-manusia lata

yang mencoba menjenguk

kebesaran masa silam

sambil melupakan kenistaan diri sendiri.

Baca Juga : Mengenang Puisi Nonton Harga Karya Wiji Thukul

Tak ‘ku tahu lagi

apakah aku sendiri yang terbatuk

atau laki-laki tua yang duduk mengantuk

dalam metro terakhir

ke Mairie d’Ivry

karena aku hanya bisa bertanya pada sunyi

karena diam di sini

dianggap kebijakan paling tinggi.

7. Puisi berjudul: Ingat Aku Dalam Doamu

Ingat Aku Dalam Doamu

 Ingat aku dalam do’amu: di depan makamIbrahim

akan dikabulkan Yang Maha Rahim

Hidupku di dunia ini, di alam akhir nanti

Lindungi dengan rahmat, limpahi dengan kurnia Gusti

Ingat aku dalam do’amu: di depan makam Ibrahim

di dalam solatmu, dalam sadarmu, dalam mimpimu

Setiap tarikan nafasku, pun waktu menghembuskannya

Jadilah berkah, semata limpahan rido Illahi

Ya Robbi!

Biarkan kasih-Mu mengalir abadi

Ingat aku dalam do’a-Mu

Ingat aku dalam firman-Mu

Ingat aku dalam diam-Mu

Ingat aku

Ingat

Amin

Baca Juga : Mengenang Puisi Chairil Anwar Karawang Bekasi

8. Puisi Berjudul: Pejalan Sepi

Pejalan Sepi

Ia tembus kesenyapan dinihari

sepatunya berat menunjam bumi

menempuh kola yang lelap terlena

dalam pelukan cahya purnama.

 

Is tembus kedinginan pagi

siulnya nyaring membelah sunyi

membangunkan insan agar bangkit

dalam pertarungan hidup yang sengit.

 

Di sebuah jembatan ia berhenti

dihirupnya udara sejuk dalam sekali:

bulan yang mengambang atas air kali

adalah gambaran hatinya sendiri!

9. Puisi Berjudul: Mata Derita

Mata Derita

Ada yang datang bermata derita

pagi berwarna olehnya

 

Ada perawan bermata derita

berselendang angin remaja

 

Ada yang memandang ke dalam hatiku

bumi pun jadi biru

 

Ada yang memancar: kebeningan hening

dan segalanya pun tak teraba lagi.

10. Puisi Berjudul: Hanya Dalam Pusi

Hanya Dalam Puisi

Dalam kereta api

Kubaca puisi: Willy dan Mayakowsky

Namun kata-katamu kudengar

Mengatasi derak-derik deresi

Kulempar pandang ke luar:

Sawah-sawah dan gunung-gunung

Lalu sajak-sajak tumbuh

Dari setiap bulir peluh

Para petani yang terbungkuk sejak pagi

Melalui hari-hari keras dan sunyi

 

Kutahu kau pun tahu:

Hidup terumbang-ambing antara langit dan bumi

Adam terlempar dari surga

Lalu kian kemari mencari Hawa.

 

Tidakkah telah menjadi takdir penyair

Mengetuk pintu demi pintu

Dan tak juga ditemuinya: Ragi hati

Yang tak mau

Menyerah pada situasi?

 

Dalam lembah menataplah wajahmu yang sabar

Dari lembah mengulurlah tanganmu yang gemetar

 

Dalam kereta api

Kubaca pusi: turihan-turihan hati

Yang dengan jari-jari besi sang Waktu

Menentukan langkah-langkah Takdir: Menjulur

Ke ruang mimpi yang kuatur

sia-sia.

Baca Juga : 13 Puisi Cinta W.S Rendra Yang Wajib Anak Muda Baca

Aku tahu.

Kau pun tahu. Dalam puisi

Semuanya jelas dan pasti.

1968

11. Puisi Ajip Rosidi Berjudul: Pantun Hijau

Pantun Hijau

Hujan gerimis sepanjang hari

Angin bertiup dari Tenggara;

Hati menangis tersedan tak henti

Karena hidup sebatang kara.

 

Angin bertiup kencang sekali

Kilat menyambar guruh bergegar;

Tersedan sunyi di bumi sepi

Seorang diri hidup terlantar.

 

Kilat menyambar guruh bergegar

Tak ada tempat sembunyi

Seruanku pilu tak kaudengar

Terlempar aku ke jurang sunyi.

12.  Puisi Ajip Rosidi Berjudul: Tretes Malamhari

Tretes Malamhari

Di Tretes malamhari

Semuanya jadi mati:

Surabaya nun jauh di bawah

Gunung Wilis terpacak sebelah kiri

 

(Aku teringat akan leluri

Ten tang Buta Locaya dan Plecing Kuning)

 

Apakah Waktu di sini berhenti

Mengendap dalam cahaya lampu pelabuhan

di tepi kaki langit?

 

Angin naik dari lembah.

Bayang-bayang daun bergoyang

Rumput-rumput pun berdesir.

Ataukah

Hanya hatiku bergetar?

 

Kucari kau .

Kucari di remang hijau.

Yang mengambang di muka kolam

Wajahmu ataukah bayangan bulan?

 

Lalu kututupkan jendela.

Malam lengang.

Malamku yang lengang.

1968

13. Puisi Ajip Rosidi Berjudul: Jeram

Jeram

Air beterjunan dalam jeram

Buihnya memercik ke tebing tempat kami berbaring

Dan ia mengelaikan kepala

Dengan mata meram terpejam

Atas tanganku yang mencari-cari
Arah manakah burung gagak hinggap

yang suaranya nyaring

Memecah ketenangan hutan

Sehabis hujan.

 

Air beterjunan dalam jeram

Jerom gemuruh dalam darahku

Dan dalam mimpi keabadian yang nyaman

Kubisikkan kata-kata bagaikan desir angin

Mengeringkan keringat atas kening

Sedang mataku memandang tak yakin

Air berbuih yang menghilir

Entah kapan ‘kan tiba

Baca Juga : 9 Puisi Karya Chairil Anwar Yang Wajib Anak Muda Baca

Di muara

Air beterjunan dalam jeram

Kata-kata beterjunan dari mulutku

Sungai pun tahu arti muara

Yang tak sia-sia menunggu.

Burung gagak berteriak entah di mana

Dan ia bersenandung entah mengapa

Karena dalam kesesaatan tak terjawab tanya lama

 

Yang sudah lama hanya tanya: Hingga mana? Pabila?

Mau apa… ?

 

Dan dengan jari-jari gemetar

Kuyakinkan hatiku sendiri: Segalanya

Berlaku percuma serta sia-sia

Dan perempuan ini ‘kan mati dalam kepingin

Karena angin hanya angin

 

Karena jeram beterjunan dalam diriku

Yang tak mengenal musim kemarau

 

Air beterjunan dalam jeram

Dan jeram beterjunan dalam darahku.

1962

Sekian penjelasan mengenai puisi Ajip Rosidi, terima kasih telah mengunjungi portal website mudabicara. Jika artikel ini bermanfaat, silahkan share artikel ya!. Selamat Membaca.

Tulisan Terkait: