Merdeka Belajar Dan Lahirnya Filosofi Pendidikan Mandiri

Opini483 Dilihat

“Mendidik adalah pekerjaan melakukan upaya yang kongkret dalam menghadirkan proses belajar yang berdampak dan bermakna bagi kehidupan”

Bung Ram

Mudabicara.com_ Suatu waktu saya mengisi pelatihan daring dalam rangkain program Sekolah Penggerak. Ada seorang kepala sekolah bertanya, “apakah perubahan kurikulum ini akan sama saja dengan kurikulum sebelumnya, kecuali merubah istilah adminitrasi dan menambahkan kegiatan Proyek Profil Pelajar Pancasila?”

Saya jawab, yang terpenting dari perubahan kurikulum saat ini dengan mengusung istilah Kurikulum Merdeka adalah implementasi Merdeka Belajar, Program Sekolah Penggerak dan Guru Penggerak.

BACA JUGA : Mengenal Chairil Anwar, Sastrawan Besar Indonesia

Beberapa tujuan antara lain pertama, perubahan mindset  segenap insan pendidikan tentang tujuan pendidikan, kedua perubahan paradigma berpikir tentang proses belajar dan terakhir pemahaman utuh tentang pembelajaran bermakna.

Menelaah Konsep Merdeka Belajar

Dalam konsep Merdeka Belajar keberadaan peserta didik sebagai pusat belajar, sebagai anak yang memiliki potensi dengan berbagai karakternya semestinya mendorong adanya perubahan cara pandang setiap orang tentang pendidikan.

Administrasi boleh berubah, dan boleh seperti semula sebagai panduan pelaksanaan pembelajaran. Namun sejatinya guru tidak perlu terlalu pusing dengan format administrasi.

Fokus haruslah kepada pelaksanaan pembelajaran yang bermakna, yang menempatkan peserta didik sebagai anak yang istimewa, yang memiliki kemampuan dan keterampilan untuk memenuhi kebutuhan zaman.

Konsep “Merdeka Belajar” sebagaimana Nadiem Makarim jelaskan bahwa paling tepat sebagai filosofi perubahan. Hal ini karena konsep Merdeka Belajar sangat tepat dengan situasi sekarang ini.

BACA JUGA : Cara Membangun Profesionalisme Guru di Sekolah

Dalam konsep Merdeka Belajar terdapat kemandirian dan kemerdekaan bagi lingkungan pendidikan menentukan sendiri cara terbaik dalam proses pembelajaran.

Narasi di atas perlu dipahami oleh setiap guru, kepala sekolah, pengawas, bahkan pejabat Dinas Pendidikan, mulai dari tingkat Kabupaten Kota, Provinsi hingga Pusat.

Karena konsep merdeka belajar sebenarnya bukan “hal baru”, justru sistem pendidikan selama ini cenderung bernuansa feodalistik.

Pengenalan konsep “Merdeka Belajar” melalui kegiatan pelatihan, bimbingan teknis calon kepala sekolah, guru penggerak, serta pengawas sekolah kini harus terpromosikan secara masif dan sistematis.

Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara

Kurikulum Merdeka tak lain terinspirasi dari tokoh Ki Hajar Dewantara yang mengartikan pendidikan adalah kemerdekaan dan kemandirian.

Sementara untuk menguatkan karakter dan mencapai tujuan tersebut, pemerintah menetapkan Profil Pelajar Pancasila sebagai tujuan pencapaian mutu jati diri seluruh siswa dalam menuntaskan proses Pendidikan selama 13 tahun, mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA).

Apakah pesan substantif konsep “Merdeka Belajar” sudah dipahami dengan tuntas dan komprehensif oleh segenap guru dan insan Pendidikan?  Di sini saya masih banyak mendapati fakta yang cenderung kebalikannya.

BACA JUGA : Cara Memberdayakan Kesadaran Lingkungan Pada Siswa Di Sekolah

Urgensi perubahan kurikulum yang paling penting adalah mengejar ketertinggalan kualitas anak-anak Indonesia, mulai dari kemampuan belajar, kreatifitas dan kemampuan bersaing di era global secara inovatif.

Hal itu banyak berkaitan dengan kemerosotan motivasi belajar anak selama dua tahun karena pandemi Covid-19.  “Learning loss”, istilah yang dipakai oleh Nadiem Makarim.

Secara teknis, menurut Nadiem  saat ini program “Merdeka Belajar” sangat dibutuhkan. Lewat program ini anak-anak tak lagi harus terpaku pada kurikulum yang ada, tetapi bisa menggunakan cara belajar yang paling cocok.

“Cocoknya kata merdeka, dengan merdekanya pemikiran anak-anak kita, biar mereka tidak bisa dijajah baik sosmed maupun orang lain,” tutur Mas Menteri.

Merubah Mindset Tentang Pendidikan.

Ki Hajar Dewantara telah menyatakan tentang tujuan Pendidikan, bahwa Maksud Pendidikan itu  adalah menuntun segala kekuatan kodrat  yang ada pada anak-anak, agar mereka dapat  mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia, maupun anggota masyarakat.

Itu adalah pandangan yang luhur dan sangat korelatif dengan kehidupan yang saat ini sedang berkembang. Tujuan Pendidikan memberikan porsi yang besar kepada pengembangan sumber daya manusia seorang anak.

Kemudian mengembangkan kompetensi diri yang dapat memberinya bekal hidup, baik sebagai individu maupun sebagai anggota msyarakat.

BACA JUGA : Gaya Kepemimpinan Situasional, Pengertian, Ciri dan Manfaatnya

Dengan demikian, konsekwensilogisnya adalah Pendidikan, mulai dari tingkat PAUD hingga SMA, saat ini harus meletakkan pondasi utama proses pembelajaran di sekolah adalah penguatan potensi, jati diri, kodrat anak dalam istilah Ki Hajar Dewantara.

Dan itu akan mengubah pola kegiatan di setiap tingkat satuan pendidikan daripada pola yang pernah ada selama ini.

Pola selama ini menurut saya adalah proses pendidikan dan kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan di sekolah, mulai dari PAUD cenderung berorientasi kepada  pencapaian prestasi dan kemampuan akademik atau kemampuan kognitif.

Hal itu juga membuat para pendidik “terjebak” pemikiran yang menempatkan institusi Pendidikan sebagai sebuah Lembaga yang mempersiapkan anak didik untuk bersaing, berkompetisi bahkan melakukan segala hal untuk meraih prestasi belajar.

Tujuan Pendidikan Mindset Lama

  1. Pendidikan bertujuan untuk mencapai kehidupan sejahtera berdasarkan standar pekerjaan tertentu dengan pendapatan tertentu.
  2. Proses kegiatan belajar bertujuan untuk menguasai berbagai kompetensi ajar, maka indikator pencapaian tujuannya adalah penguasaan berbagai komepetensi ajar tersebut.

Nah dalam beberapa diskusi, terkait implementasi Kurikulum Merdeka ini, pemahaman guru yang sebagian mulai mengimplementasikan Kurilum Merdeka di sekolahnya masing-masing.

Baik secara resmi karena masuk ke dalam program sekolah penggerak, maupun secara mandiri, masih banyak  yang terjebak dengan mindset dan pola belajar yang lama.

BACA JUGA : Mengenal 10 Macam Gaya Kepemimpinan, Ini Jawabannya

Sehingga apa yang menjadi tujuan Pendidikan dalam implementasi Kurikulum Merdeka ini masih belum banyak bergeser atau berubah paradigmanya.

Di antara indikator implementasi kurikulum baru dengan mindset tujuan Pendidikan lama ialah:

  1. Masih banyak yang berfokus kepada nilai akhir pembelajaran saat menentukan asesmen, bukan kepada bagaimana proses belajar terjadi, penanaman values dan kompetensi.
  2. Kesempatan belajar di jenjang pendidikan tinggi masih berdasarkan seleksi nilai akademik. Sehingga membuat pola belajar di jenjang menengah masih cenderung konvensional dan belum memfasilitasi semua kondisi peserta didik dengan karakteristiknya masing-masing.

Perubahan Paradigma Berpikir

Sebagaimana kondisi dengan fakta pertama tersebut di atas, di mana orientasi pendidikan masih terjebak kepada tujuan penguasaan kompetensi kognitif semata.

Belajar di kelas masih mengunakan model instruksional yang mengharuskan peserta didik mengikuti gaya belajar guru.

Hanya saja berpusat pada teks panduan serta buku ajar berdasarkan pemikiran kerangka kurikulum lama, namun dengan isttilah baru yang menyesuaikan format kurikulum merdeka.

Di situ nilai “merdeka” tidak muncul dan terfasilitasi dengan baik. Karena gurunya tetap menjadi instruktur dan pusat tunggal kegiatan belajar.

BACA JUGA : Mengenal Teori Fungsionalisme Emile Durkheim

Paradigma ‘Merdeka Belajar’ seharusnya menempatkan peserta didik sebagai pusat pembelajaran, ‘student centered learning’. Dari situ mindset perubahan kurikulum dan sistem pendidikan dapat menemukan substansinya.

Namun mindset Sebagian guru masih belum beranjak.

Salah seorang peserta webinar implementasi Kurikulum Merdeka menyebutkan pandangannya  bahwa dengan berlakunya jenjang fase pada satuan Pendidikan mulai dari PAUD hingga SMA melalui  capaian pembelajaran yang ada, mereduksi kualitas pembelajaran.

Karena menurutnya anak-anak jadi terlalu lama masa penuntasan “Kompetensi dasar”. Yang sebelumnya hanya selama 1 tahun, sekarang bisa lebih Panjang, satu fase 2 tahun untk siswa SD.

Lalu ada penggabungan satu fase saja di tingkat SMP, sehingga terkesan muatan belajar lebih sedikit.

Pandangan tersebut menggambarkan pemikiran bahwa yang terpenting dalam kegiatan belajar siswa itu adalah menuntaskan puluhan kompetensi dasar dalam dua semester.

Indikator pencapaiannya kemudian melalui batasan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Pada kurikulum merdeka, konsep ‘Merdeka Belajar’ menggambarkan sebuah upaya dalam menjalankan proses Pendidikan dan pengajaran yang ‘berpusat pada murid’, sudent centered learning.

BACA JUGA : 10 Manfaat Belajar Ilmu Pemerintahan Untuk Anak Muda

Maksudnya setiap peserta didik harus pada posisi yang paling prioritas. Guru dan perangkat ajar atau buku bukanlah dua instrument yang paling menentukan kesuksesan belajar.

Justru yang paling menentukan indikator suksesnya pembelajaran adalah capaian siswa terhadap komponen muatan pembelajaran berdasarkan karakteristiknya masing-masing.

Dan sesuai dengan kemampuannya masing-masing agar mereka terfasilitasi semua kebutuhan tumbuh kembangnya, sebagaimana filosofi dan tujuan Pendidikan menurut Ki Hajar Dewantara.

Pentingnya Guru Memahami Konsep Merdeka Belajar

Perbedaan mendasar konsep ‘merdeka belajar’ dengan konsep belajar sebelumnya (sangat hierarkis), adalah dalam hal kontekstualisasi ilmu pengetahuan dengan keterampilan dan pengalaman hidup.

Ketika dulu anak-anak begitu tertekannya belajar bertahun-tahun hanya untuk melewati masa “tiga hari” yang menegangkan di penghujung tahun terakhir setiap jenjang.

Kinipun walau Ujian Nasional sudah tidak ada. Banyak saya temukan guru-guru yang menciptakan suasana belajar kurang menyenangkan.

Alih-laih fokusnya mencapai capaian pembelajaran yang ditunjukkan dengan kemampuan diri dalam mengkontekstualisasikan pengetahuan dengan kehidupan nyata.

BACA JUGA : Mengenal Dieng Culture Festival; Wujud Kebudayaan Khas Masyarakat Dieng

Fasilitasi proses ekpresi diri dan penggalian potensi,  para guru menampilkan suasana belajar yang lebih serius, bahkan pernah ada yang menuai protes orang tua siswa yang mendapati anaknya belajar di sekolah terlalu lama.

Karena kini di kurikulum merdeka ada muatan yang Bernama Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Jadi realisasinya konsep merdeka belajar itu berada pada bagaimana suasana belajar siswa yang merdeka dalam melakukan ekspresi yang natural.

Kesediaan guru “melayani” murid dan mengahdirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kehidupan. Itulah belajar yang bermakna.

 

 

Oleh : A Ramdani (Pemerhati Pendidikan dan Founder Sekolah Orang Tua)

 

 

Tulisan Terkait: